ORASI

Mitos & Realita: Kenapa Desa Adat Besakih Tidak Bikin Ogoh-Ogoh Saat Nyepi?

Tiap kali bulan Sasih Kesanga datang, hampir seluruh anak muda di Bali sibuk begadang di bale banjar. Ngapain lagi kalau bukan ngerakit ogoh-ogoh buat malam Pangerupukan. Tapi, di tengah hiruk-pikuk suara gerinda dan bau lem gabus se-Bali, ada satu anomali besar: Desa Adat Besakih sama sekali tidak bikin ogoh-ogoh.

Kenapa bisa begitu? Narasi yang paling sering khe dengar pasti muter-muter di urusan mistis, pamali, dan takut kualat. Tapi, Media ORASI nggak mau berhenti di dongeng aja. Mari kita bedah alasan kenapa Desa Adat Besakih absen dari tradisi ogoh-ogoh pakai dua kacamata: Niskala (spiritual) dan Sekala (realita sosiologis).

Aturan Niskala: Menjaga Kesucian Ring 1 Spiritual Bali

Alasan pertama dan yang paling resmi diakui adalah murni urusan teologi. Pura Agung Besakih adalah Mother Temple, hulu spiritualnya pulau Bali.

Berdasarkan Dresta Mawacara (tradisi adat turun-temurun), kawasan super sakral ini haram hukumnya dikotori oleh simbol-simbol Bhuta Kala buatan manusia. Ogoh-ogoh identik dengan energi bawah, hura-hura, dan keributan. Membawa arak-arakan monster ke halaman rumah para Dewa jelas dianggap menantang bencana kosmologis.

Saking ketatnya menjaga kesucian ini, pantangan di Besakih bukan cuma soal ogoh-ogoh. Warga di sana bahkan dilarang membakar jenazah saat Ngaben (hanya boleh dipendam) dan pantang memelihara babi betina. Jadi, secara niskala, argumen kesucian ini 100% valid dan absolut.

Realita Sekala: Strategi Bertahan dari Ancaman “Tipes” Massal

Nah, di sinilah letak sisi jenius leluhur kita yang sering dilewatkan orang. Mari kita kesampingkan sejenak urusan mistis dan melihat kalender kerja warga Desa Adat Besakih.

Menjelang Hari Raya Nyepi, Pura Besakih memiliki agenda raksasa: Karya Tawur Tabuh Gentuh yang langsung disambung dengan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK).

Beban Ngayah yang Gila-gilaan

Karya IBTK bukan upacara sehari selesai. Persiapannya memakan waktu lebih dari sebulan dan melibatkan jutaan pemedek dari seluruh Bali. Siapa ujung tombak panitianya? Ya jelas warga lokal Besakih. Mereka harus ngayah membuat banten berskala masif, mengatur lalu lintas, hingga mengawal prosesi Mapepada. Beban fisik yang ditanggung warga sangatlah ekstrem.

Logika Finansial Sekaa Teruna

Coba kita hitung-hitungan secara logis. Membuat satu ogoh-ogoh yang layak tanding saat ini butuh dana puluhan juta rupiah. Di sisi lain, upacara di Pura Besakih menelan biaya miliaran yang sebagian didukung dari urunan tenaga dan kas adat.

Bayangkan jika pemuda (Sekaa Teruna) di Besakih memaksakan diri ikut tren bikin ogoh-ogoh. Fokus mereka akan terbelah, kas banjar jebol, dan probabilitas warga tumbang karena burnout (atau tipes berjamaah) akan sangat tinggi.

Kesimpulan: Mitos Sebagai Manajemen Sosial

Jadi, apakah aturan “haram bikin ogoh-ogoh” di Besakih itu murni karena takut hantu?

Media ORASI menyimpulkan bahwa aturan sakral ini—disadari atau tidak oleh para pendahulu kita—berfungsi secara sempurna sebagai pelindung sosiologis dan ekonomi warganya. Menggunakan dalih “pamali” jauh lebih efektif untuk meredam ego anak muda yang FOMO (Fear of Missing Out) ketimbang melarang mereka dengan alasan “kita lagi nggak ada duit dan tenaga”.

Leluhur orang Bali itu cerdas dan visioner. Mereka membungkus manajemen sumber daya manusia yang kompleks ke dalam sebuah mitos yang mudah dipatuhi.

Bagaimana menurut khe, Ton? Masih mau ngeluh capek bikin ogoh-ogoh di banjar sendiri setelah tahu beratnya beban ngayah warga Besakih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *