Ton, coba cek keran air di kosan atau di vila tempat Khe kerja. Masih ngalir deres? Bening? Syukur.
Sekarang, coba tanya sama diri sendiri: “Air ini datengnya dari mana?”
Kalau jawaban Khe cuma “dari PDAM” atau “dari sumur bor”, main Khe kurang jauh, Wi. Di balik setiap tetes air yang Khe pake buat mandi, nyuci motor, atau flushing toilet, ada satu sosok “Ibu” yang kerja lembur 24 jam non-stop di Kintamani.
Namanya Dewi Danu. Dan kabar buruknya: Dia lagi “sekarat” gara-gara ulah kita, anak-anaknya yang durhaka tapi berkedok aesthetic.
The Real “Silent Investor” Pulau Bali
Buat yang sering bolos pelajaran sejarah atau agama, sini aku briefing dikit. Dalam kosmologi Bali, Danau Batur itu bukan cuma spot foto buat prewed atau tempat ngopi cantik di atas awan. Itu adalah tandon air raksasa—pusat urat nadi pulau ini.
Dewi Danu itu ibarat Investor Utama kehidupan di Bali. Lewat sistem aliran sungai bawah tanah yang canggih (jauh lebih canggih dari drainase proyek pemerintah yang sering mampet), dia ngirim air ke sawah-sawah di Gianyar, Badung, Tabanan, sampai Bangli.
Tanpa dia, Subak itu cuma cerita sejarah. Tanpa dia, hotel-hotel di Nusa Dua cuma gedung beton kering kerontang. Dia ngasih “susu” kehidupan ini gratis. Gak ada tagihan bulanan, gak ada denda keterlambatan.
Anak Durhaka Berkedok “Healing”
Nah, di sinilah bagian brengsek-nya kita, Ton.
Sebagai anak yang dibesarkan sama air susunya, balesan kita apa? Sampah.
Coba Khe naik ke Kintamani sekarang. Liat pinggiran danaunya. Itu bukan pasir putih, itu campuran limbah pertanian (pestisida), sisa pakan ikan KJA (Keramba Jaring Apung), sampah plastik bekas snack turis, dan limbah domestik dari glamping-glamping yang menjamur tanpa amdal yang jelas.
Kita ke sana bilangnya mau healing, tapi kelakuan kita bikin alam pening. Kita eksploitasi pemandangannya buat konten TikTok, kita sedot airnya buat kolam renang infinity, tapi kita jadiin badannya tempat pembuangan akhir.
Ini definisi toxic relationship paling brutal. Kita cinta sama “harta” Ibunya (air & view), tapi kita gak peduli sama nyawa Ibunya.
Gak Perlu Dikutuk Jadi Batu
Mungkin Khe mikir, “Ah, tenang aja. Kan kita rajin mebanten. Tiap Purnama juga rame yang ngaturang pakelem (korban suci) ke tengah danau.”
Wake up, Gung! Banten itu simbol rasa syukur, bukan surat izin buat nyampah.
Dewi Danu gak butuh itik atau ayam yang Khe tenggelamin kalau semenit kemudian Khe buang puntung rokok sembarangan. Logika spiritual macam apa yang kita pake? Nyogok Tuhan biar maklum sama kerusakan lingkungan?
Inget, Ton. Dewi Danu gak perlu ngutuk kita jadi batu kayak Malin Kundang. Dia cukup “tutup keran”-nya aja.
Tanda-tandanya udah ada. Intrusi air laut udah masuk jauh ke daratan Denpasar (air sumur mulai asin). Debit air danau fluktuatif gak jelas. Kualitas air menurun drastis. Kalau Danau Batur beneran “mati” atau airnya jadi racun, tamat sudah riwayat Bali. Gak ada pariwisata, gak ada pertanian, gak ada kehidupan.
Sadar Diri Sebelum Kering
Jadi, buat Khe, Gek, Wi, yang ngaku bangga jadi orang Bali atau yang cari makan di pulau ini: Stop jadi benalu.
Hormati Dewi Danu bukan cuma dengan doa komat-kamit. Hormati dia dengan cara yang rasional:
- Kurangi Plastik: Klise, tapi valid.
- Wisata Sadar: Kalau ke Kintamani (atau alam manapun), sampahmu bawa pulang. Jangan ditinggal di sana kayak mantan.
- Hemat Air: Mentang-mentang di vila airnya deres, jangan dipake showeran 2 jam sambil galau.
Jangan sampai nanti sejarah mencatat generasi kita sebagai generasi yang membunuh Ibunya sendiri demi cuan dan konten.
Sayangi Ibumu. Karena kalau air susunya udah berubah jadi air mata (atau air limbah), nyesel pun percuma, Ton.