ORASI

dilema gen z bali

Dilema Gen Z Bali: Pilih Dipecat Bos atau Diamuk Banjar?

“Work-Life Balance” itu mitos. Apalagi kalau KTP Khe tercatat sebagai warga Bali yang masih aktif di desa adat.

Buat anak muda di SCBD Jakarta, burnout itu obatnya staycation atau ngopi cantik. Buat Gen Z Bali? Burnout obatnya ya… ngayah. Lha, gimana ceritanya capek kerja disuruh obatnya kerja bakti?

Inilah realita pahit yang jarang masuk brosur pariwisata. Di balik senyum ramah kami menyambut tamu, ada otak yang mau meledak mikirin dua ‘Tuhan’: Tuhan di kantor (Bos/Klien) dan Tuhan di desa (Adat/Tradisi).

Manusia Setengah Dewa, Setengah Robot

Coba bayangin jadi kami, Ton.

Pagi jam 8 harus standby depan laptop, meeting sama klien bule yang nggak mau tau soal tanggalan Bali. Bagi mereka, deadline is deadline. Mau Purnama, Tilem, atau Odalan di Pura Dalem, kalau bug belum fixed atau desain belum approved, ya kelar hidup lo.

Tapi di jam yang sama, grup WhatsApp Banjar udah rame. Prajuru adat udah absen siapa yang belum tedun (turun) ke Pura.

“Cen ne Pan Wayan, pianakne sing taen ngenah?” (Mana nih Pan Wayan, anaknya nggak pernah kelihatan?)

Kalimat itu, Wi, lebih tajem daripada SP 1 dari HRD.

Denda: Lingkaran Setan Ekonomi

Yang paling bikin logika korslet adalah sistem Denda.

Kita kerja mati-matian, lembur bagai kuda, demi dapat gaji UMR (yang, let’s be honest, seringkali di bawah standar biaya hidup Bali). Terus, karena kita sibuk kerja cari duit itu, kita nggak bisa ikut gotong royong nyabit rumput atau bikin penjor.

Akibatnya? Kena denda. Jadi, kita kerja cari duit… buat bayar denda karena kita kerja.

Logikanya sungsang, Ton! Duitnya muter di situ-situ aja kayak baling-baling kipas angin. Masuk kantong kanan, keluar kantong kiri buat nebus “dosa” ketidakhadiran.

Ninja Kantor: Ganti Baju di Parkiran

Demi menyelamatkan muka di depan Bos dan Banjar, Gen Z Bali berevolusi jadi makhluk dengan skill menyamar tingkat tinggi.

Kami adalah ahli ganti kostum tercepat di dunia. Pagi pake kemeja dan celana bahan. Jam istirahat siang, lari ke mobil atau toilet pom bensin, ganti pake kamen dan safari/kebaya. Sembahyang kilat, upload story biar dikira religius, terus balik lagi ke kantor ganti baju lagi.

Bau dupa campur bau parfum mahal campur bau keringat. Itulah aroma perjuangan kami.

Label “Sombong” vs “Tidak Profesional”

Ini dia pilihan ganda yang nggak ada jawaban benarnya:

  • Pilih Karir: Khe bakal dicap sombong, kacang lupa kulit, “sok kota”, dan digunjing ibu-ibu PKK pas lagi mejejahitan. “Duh, mentang-mentang kerja di hotel bintang 5, Pura dilupain.”
  • Pilih Adat: Khe bakal dicap karyawan unreliable sama bos. “Why do you have so many ceremonies? Can you focus?” Ujung-ujungnya karir mandek, promosi melayang ke orang luar yang available 24/7.

Wahai Tetua, Dengarkan Kami Dikit…

Artikel ini bukan pemberontakan, Wi. Kami bangga jadi orang Bali. Kami cinta tradisi ini. Tapi tolong, bapak-bapak Prajuru yang terhormat, dunia sudah berubah.

Kami bukan petani yang bisa atur jam kerja sendiri kayak kakek buyut kami dulu. Kami terikat kontrak, terikat jam kantor, terikat timezone klien di New York atau London.

Bukan kami malas ngayah. Tapi kalau ngayah fisik masih jadi satu-satunya tolak ukur kesetiaan pada Banjar, jangan kaget kalau anak-anak muda Khe nanti lebih milih merantau ke luar negeri. Mending kangen Bali dari jauh daripada di Bali tapi makan ati.

Kasih kami opsi. Boleh nggak ngayah-nya diganti kontribusi lain yang lebih masuk akal buat kaum pekerja? Atau minimal, jangan sindir kami kalau datangnya telat pas nunas tirta doang.

Kami lelah, Ton. Lelah fisik, lelah dompet, lelah batin.

Jadi buat Khe yang sesama Gen Z pejuang dua alam: Semangat, Luh/Wi! Kalau capek, nangis aja di pojokan bale dangin. Tapi abis itu, lap air mata, pasang senyum lagi. Besok masih ada deadline dan piodalan yang menunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *