Kalau denger kata “toleransi” di Bali zaman now, apa yang terlintas di otak Khe, Ton? Paling banter nge-repost ucapan selamat hari raya pakai template Canva, atau ikutan war takjil pas bulan puasa. Sedihnya, kadang toleransi kita cuma mentok di konten estetik, sementara di kolom komentar TikTok warga lokal sama pendatang masih hobi baku hantam urusan remeh.
Tapi mari kita putar waktu ke belakang. Jauh sebelum ada tren bukber estetik di Canggu, konsep Nyama Selam Bali (saudara umat Muslim di Bali) itu udah dibuktikan lewat jalur hardcore. Bukan pakai twibbon, tapi pakai darah di Perang Puputan Badung 1906.
Mari kita bongkar sejarah yang sering kelupaan masuk buku cetak sekolah ini.
Bukan Hoaks Grup WA: Arsip KITLV dan Babad Badung Buka Suara
Setiap bahas Puputan Badung, visual yang ada di kepala kita pasti ksatria ber-udeng, bawa keris pusaka, dan berpakaian putih menyongsong peluru Belanda. Itu fakta, tapi bukan full picture-nya.
Di depan moncong meriam kompeni saat itu, ada barisan laskar yang pakai peci dan sarung. Mereka adalah laskar Muslim dari Kampung Islam Kepaon dan Bugis. Kalau Khe gak percaya dan ngira ini cuma cocoklogi tongkrongan, coba deh sesekali main ke perpustakaan baca arsip kolonial Belanda atau Babad Badung.
Di sana tercatat jelas gimana laskar Muslim ini berdiri sejajar sama Cokorda Pemecutan. Ketika Belanda nyuruh nyerah, apa mereka kabur? Nggak. Mereka ikut maju dan puputan (habis-habisan). Kenapa? Karena urusan bela tanah air itu nggak pernah ngecek KTP agamamu apa. Ini baru brotherhood sejati, Gung.
Gelar ‘Raden’ untuk Nyama Selam: Bukti Level Toleransi Kasta Tertinggi
Saking respect-nya pihak kerajaan Badung sama loyalitas Nyama Selam Bali ini, mereka nggak cuma ngasih ucapan “Terima Kasih atas Partisipasinya” kayak panitia pensi sekolah. Ada pengakuan level tinggi yang diberikan.
Tokoh-tokoh Muslim ini dianugerahi gelar kebangsawanan Bali, yaitu ‘Raden’ (seperti Raden Sastraningrat dari Kepaon). Ini bukan gelar kaleng-kaleng, Ton. Memberikan gelar kebangsawanan ke luar lingkaran keraton adalah bukti bahwa mereka dianggap keluarga inti. Darah mereka udah menyatu sama tanah Bali.
Tamparan Keras Buat Generasi FOMO Zaman Now
Nah, sekarang coba bandingin sama kelakuan kita. Leluhur kita dulu, baik yang ber-udeng maupun ber-peci, santai aja bagi-bagi nyawa bareng di garis depan. Sementara kita sekarang? Gampang banget diadu domba isu SARA, musuhan gara-gara toa masjid sama suara ogoh-ogoh, atau sentimen KTP.
Kocak kan? Sejarah kita itu dark tapi heroik, eh generasi penerusnya malah cringe.
Makanya, sebutan Nyama Selam Bali itu bukan sekadar jargon Pemda buat pidato sambutan acara resmi. Itu adalah ikatan darah peninggalan 1906 yang harusnya bikin kita malu kalau masih suka main blok-blokan.
Jadi, mumpung momennya lagi pas hari kemenangan, mari kita waras bareng-bareng. Selamat merayakan Idul Fitri buat semua saudara Nyama Selam. Balas dendam terbaik buat penjajah adalah tetap pintar, baca sejarah yang bener, dan nggak gampang dikibulin algoritma.