ORASI

Canggu-fication”: Kanker Ganas yang Menggerogoti Bali, Siapa Korban Selanjutnya?

Canggu sudah tamat. Mari kita sepakati itu dulu.

Kalau Khe masih bilang Canggu itu “estetik” dan “chill”, berarti main Khe kurang jauh atau standar toleransi macet Khe sudah di level dewa. Canggu hari ini adalah Jakarta Selatan cabang pantai, lengkap dengan polusi suara, macet yang bikin emosi jiwa, dan harga avocado toast yang lebih mahal dari UMR harian buruh bangunan.

Tapi artikel ini bukan buat menghujat Canggu (itu mah topik basi). Artikel ini adalah sirine peringatan buat daerah lain. Karena apa yang terjadi di Canggu sekarang sedang menyebar kayak virus ganas ke Pererenan, Seseh, Cemagi, Kedungu (Tabanan), bahkan sampai ke Sidemen di timur sana.

Istilah kerennya: Canggu-fication. Istilah pasarnya: Kehancuran Berjamaah Berkedok Investasi.

Siklus “Hidden Gem” yang Mematikan

Pola penyebaran virus ini selalu sama, Ton. Hafalkan siklusnya:

  1. Fase Penemuan: Seorang bule atau content creator lokal nemu sawah hijau yang tenang. Dia bikin video, pake lagu folk mendayu-dayu, caption-nya: “Found peace in Bali, no tourists here.”
  2. Fase Viral: Video masuk FYP. Netizen FOMO (Fear Of Missing Out) langsung nyerbu. “Share loc, Kak!”
  3. Fase Invasi: Warung kopi estetik buka. Harga tanah mulai naik gila-gilaan. Broker tanah mulai berkeliaran kayak lalat nemu bangkai.
  4. Fase Konstruksi Brutal: Sawah dibeton. Truk molen masuk jalan setapak desa yang lebarnya cuma 3 meter. Debu di mana-mana. Petani minggir.
  5. Fase Kiamat Kecil: Macet total. Air sumur warga kering karena disedot vila sebelah. Musik jedag-jedug sampai subuh.
  6. Fase ditinggalkan: Bule yang awal tadi merasa “too crowded”, lalu pindah cari “The Next Canggu”. Siklus berulang di tempat baru.

Sekarang, coba liat Kedungu atau Seseh. Jalannya yang dulu cuma muat traktor, sekarang dipaksa muat Alphard dan truk proyek. Apa ini yang dibilang kemajuan? Atau kemunduran yang didandani pake semen ekspos?

Arsitektur “Gegar Budaya”

Yang paling bikin sakit mata adalah gaya bangunannya. Bali itu tropis, Ton. Panas, lembap, banyak hujan.

Tapi liat apa yang dibangun investor? Vila kotak-kotak ala Santorini (Yunani) atau gaya Mediterania ala gurun pasir. Putih semua, tanpa atap miring, tanpa ventilasi silang, full kaca mati.

Hasilnya? Itu bangunan panasnya kayak oven, jadi harus pasang 5 AC nyala 24 jam. Boros energi? Bodo amat, yang penting instagramable. Tri Hita Karana? Palemahan (lingkungan)? Ah, itu kan cuma ada di buku pelajaran agama waktu SD. Realitanya: Tri Hita Cuan (Cuan, Cuan, Cuan).

Warga Lokal: Penonton di Tanah Sendiri

“Tapi kan warga lokal untung jual tanah mahal?”

Yakin untung, Wi? Duit jual tanah 5 Miliar emang gede. Tapi kalau dipake beli Pajero, bikin upacara megah biar dipuji tetangga, dan judi tajen… 5 tahun juga ludes. Setelah duit habis, tanah leluhur udah jadi milik orang asing (pakai nama PT atau nominee). Anak cucu Khe nanti mau tinggal di mana? Mau nanem padi di mana?

Ujung-ujungnya, anak cucu kita cuma bakal jadi satpam di vila yang berdiri di atas tanah kakek buyutnya dulu. Kita menjual “Ibu Pertiwi” secara eceran, lalu bangga karena bisa beli iPhone terbaru.

Quo Vadis, Bali?

Pemerintah? Jangan tanya. Mereka sibuk ngitung target jumlah turis, tapi lupa ngitung daya tampung pulau. Izin IMB/PBG gampang keluar asal… (ah sudahlah, Khe tau sendiri).

Kalau tren “Canggu-fication” ini nggak direm, 10 tahun lagi Bali cuma bakal jadi satu kota metropolitan raksasa yang dikelilingi laut. Nggak ada lagi subak, nggak ada lagi desa yang tenang.

Jadi, buat Khe yang punya tanah di desa yang masih asri: Tahan, Wi. Tahan. Jangan gampang tergiur duit segepok. Sekali sawah itu jadi beton, dia nggak bakal bisa balik jadi sawah lagi.

Dan buat para turis (lokal maupun asing): Berhentilah memburu “Hidden Gem”. Biarkan gem itu tetap hidden. Kadang, cara terbaik mencintai Bali adalah dengan tidak memviralkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *