Pernah nggak sih khe ngerasain keringet dingin ngucur segede biji jagung, jantung berdegup kayak musik EDM di La Favela, dan otak mendadak blank total? Bukan, ini bukan karena khe lagi disidang skripsi atau kepergok selingkuh.
Ini adalah gejala umum yang dialami 90% anak muda Denpasar saat tiba-tiba diajak berkomunikasi menggunakan Bahasa Bali Alus sama Jero Mangku, Sulinggih, atau yang paling horor: Bapaknya pacar pas lagi ngapel.
Selamat datang di era Sor Singgih Anxiety Disorder. Sebuah fenomena sosial di mana anak muda Bali masa kini lebih fasih ngomongin mental health pakai Bahasa Inggris aksen Jaksel, tapi langsung kena mental breakdown begitu harus mempraktikkan tata krama bahasa Bali seperti membedakan “Ngajeng”, “Neda”, dan “Mlebed”.
Realita Gen Z: Anak Jaksel Cabang Renon vs Tradisi
Coba lihat tongkrongan di sekitaran Renon atau Canggu. Wi sama Gek di sana kalau ngomong fluent banget. Campur-campur dikit lah: “Literally, vibes-nya tuh gak masuk, you know?” Slay abis. Keren. Global citizen banget pokoknya.
Tapi begitu pulang kampung pas Galungan, bertemu Pekak (kakek) atau Lingsir di banjar, skill komunikasi itu langsung reset pabrik.
“Gung, sampun polih galah?” Si Gung cuma bisa nyengir kaku, matanya nanar mencari jawaban, lalu keluar jurus pamungkas: “Inggih…” (Padahal dia nggak ngerti pertanyaannya apa).
Ironis, kan? Kita sekolah tinggi-tinggi, kursus bahasa asing mahal-mahal, tapi lumpuh total di kandang sendiri. Kita jadi tamu di budaya sendiri. Canggung, takut, dan merasa asing dengan bahasa ibu kita.
Trauma ‘Ndas Lengar’: Hambatan Utama Belajar Bahasa Bali Halus
Tapi bentar, Ton. Jangan buru-buru ngecap generasi kita ini males atau kacang lupa kulit. Masalahnya nggak sesederhana itu. Ada alasan psikologis kenapa kita mending diam atau pura-pura main HP pas ada orang tua ngomong Sor Singgih.
Jawabannya satu: Kita takut dihakimi.
Harus diakui, ekosistem belajar Bahasa Bali di masyarakat kita itu kadang… toxic. Salah sedikit memakai kosa kata, hukuman sosialnya berat, Bro.
Bayangin skenario ini: Khe niatnya sopan, mau nawarin makan ke Paman khe yang status kastanya lebih tinggi (atau dianggap lebih tua). Karena gugup, khe bilang: “Ratu, durusang neda.”
Apa yang terjadi? Apakah khe dikoreksi dengan lembut? “Oh Gung, kalau sama orang tua pakai kata ‘Ngajeng’ ya, karena ‘Neda’ itu kasar.” Mimpi. Realitanya, khe bakal diketawain satu bale banjar. Dicap “Ndas lengar” (kepala batu), “Tusing nawang tata krama”, atau “Jelema Bali tusing bisa mebasa Bali”.
Rasa malu itulah yang membunuh keberanian untuk melestarikan bahasa Bali. Daripada salah dan jadi bahan lawakan keluarga besar seumur hidup, mending kita diam. Mending kita ngomong Bahasa Indonesia. Aman. Nggak ada risiko kualat atau dibilang kurang ajar.
Jurus ‘Inggih’ & ‘Suksema’: Solusi Praktis atau Pelarian?
Akhirnya, lahirlah mekanisme pertahanan diri paling mutakhir abad ini: Algoritma “Inggih”.
Ini adalah strategi bertahan hidup di mana apa pun pertanyaannya, seberapa pun kompleks situasinya, jawabannya cuma satu: “Inggih”.
- “Gus, sampun makurenan?” -> “Inggih.” (Padahal jomblo karatan).
- “Gek, niki jagi budal?” -> “Inggih.” (Padahal baru nyampe).
Pokoknya “Inggih” dulu, urusan nyambung atau nggak, pikirin nanti. Yang penting sopan, senyum, lalu kabur pelan-pelan sebelum ditanya lebih dalam. Ini bukti bahwa penggunaan bahasa Bali halus bagi Gen Z lebih kepada formalitas ketakutan daripada pemahaman makna.
Masa Depan Bahasa Bali: Tanggung Jawab Siapa?
Jujur aja, ini PR bareng-bareng. Buat para tetua, please lah, turunin dikit tensi judgmental-nya. Kalau ada anak muda salah ngomong alus, jangan langsung diketawain atau dimaki. Ajarin santai kenapa sih? Kita ini generasi yang gampang insecure, Ton. Digituin dikit langsung retreat.
Dan buat khe, semeton Gen Z dan Millennial… ya mau gimana lagi. Suka nggak suka, ini identitas kita. Nggak lucu kan kalau nanti pas tua, kita cuma bisa ngajarin anak cucu kita ngomong “Skibidi Toilet” tapi nggak bisa ngajarin cara menyapa tetangga pakai basa Bali?
Mulai belajar dikit-dikit lah. Salah itu wajar dalam proses belajar. Kalau diketawain, ketawain balik aja nasib khe yang tragis itu.
Intinya, Sor Singgih emang horor. Tapi lebih horor lagi kalau suatu saat nanti Bahasa Bali Alus cuma jadi naskah kuno yang cuma dimengerti sama peneliti bule di museum.
Pang sing keneh-kenehne gen. (Biar nggak cuma maunya aja). Gas melajah, Ton. Dikit-dikit asal slay.