ORASI

Feroza Style Bali: Beneran Mobil Ormas atau Cuma Krisis Paruh Baya?

Pernah nggak sih Khe lagi santai nunggu lampu merah, sambil nyeruput es kopi Banyuatis di pinggir jalan, tiba-tiba dari belakang ada suara mesin ngorok? Pas dilirik dari spion, moncong mobil kotak dengan ban oversize di depan seolah siap ngelindas apa aja di depannya. Reaksi pertama otak kita pasti otomatis judging: “Wah, anggota turun gunung nih. Mending minggir daripada urusan panjang.”

Stereotip mobil Feroza style Bali yang ban depannya lebih tinggi alias “dongak” memang udah kadung melekat erat dengan image ormas atau premanisme lokal. Apalagi kalau di kaca belakangnya ada stiker logo sebesar gaban. Tapi, pertanyaannya: apakah asumsi kita ini 100% valid, atau kita cuma korban logical fallacy di jalan raya?

Asal Usul Feroza Style Bali: Bukan Monopoli Ormas

Sebelum kita gampang ngecap, mari kita putar waktu sebentar. Jauh sebelum bule-bule Canggu merasa paling cool bawa scooter custom, atau anak muda sekarang yang sibuk restorasi Honda BeAT Karbu buat pamer tarikan awal, Daihatsu Feroza (dan saudaranya Taft serta Jimny) adalah kasta tertinggi tunggangan fuckboy Bali di era 90-an sampai awal 2000-an.

Modifikasi ban pacul gede di depan itu bukan desain buat cari ribut atau flexing kekuasaan. Itu murni culture otomotif masa muda mereka. Sama halnya kayak anak sekarang yang suka modif motor trondol, bapak-bapak kita (sebut saja Bli Wi atau Gung yang sekarang udah jadi Ajik) dulu merasa ganteng maksimal kalau mobilnya bergaya off-road ekstrem, meski cuma dipakai muter-muter Renon. Jadi, melabeli gaya modifikasi ini eksklusif milik ormas adalah pembacaan sejarah otomotif yang males banget, Ton.

Bias Kognitif Kita yang Lebay

Kenapa stereotip ini bisa awet? Jawabannya ada di otak kita sendiri. Dalam psikologi, ada yang namanya negativity bias. Otak manusia lebih gampang merekam hal-hal yang mengintimidasi atau menakutkan.

Coba ingat-ingat, berapa banyak Feroza dongak polosan milik penghobi off-road sejati atau kolektor mobil klasik yang Khe lewatin hari ini? Pasti lupa. Tapi begitu ada satu Feroza dengan stiker ormas nyalip dari kiri, ingatan itu langsung nyangkut berminggu-minggu. Kita menggeneralisasi satu oknum menjadi identitas satu jenis mobil. Kasihan dong bapak-bapak pehobi mobil lawas yang niatnya cuma mau ikut gathering komunitas, malah disangka mau sweeping.

Simbol Krisis Paruh Baya yang Relatable

Daripada melihat mobil ini sebagai ancaman, coba deh ubah framing Khe. Feroza style Bali ini sebenarnya adalah monumen romantisme bapak-bapak yang menolak tua. Ya, semacam wujud krisis paruh baya a la Bali.

Bayangin, suspensinya keras bikin encok, setirnya berat, bensinnya boros minta ampun. Kenapa mereka tetap pelihara? Karena di balik kemudi mobil itu, para Ajik ini bisa ngerasain kembali nostalgia kejayaan mereka. Sebuah mesin waktu ke era di mana jalanan Bali masih lengang, belum diinvasi oleh kemacetan turis dan tren properti yang harganya nggak masuk akal. Ini bukan soal premanisme, ini soal mempertahankan sepotong memori masa muda yang nggak bisa dibeli pakai uang pensiunan.

Jadi Ton, besok-besok kalau ketemu Feroza dongak di jalan, nggak usah buru-buru panik. Bisa jadi itu cuma Ajik Khe yang lagi pengen healing muterin Denpasar sebelum disuruh istrinya jemput cucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *