Pernah nggak sih khe jalan-jalan ke kawasan Canggu atau Ubud, terus liat bangunan baru yang katanya “Bali Vibes” tapi bentuknya kotak polos kayak kardus mie instan? Atau villa mewah yang dindingnya kaca semua sampai khe bingung, ini Bali atau etalase toko roti?
Fenomena arsitektur Bali modern belakangan ini emang makin meresahkan, Ton. Banyak investor dan (maaf) arsitek “malas” yang berlindung di balik kata minimalis atau industrial, padahal aslinya cuma mau hemat biaya dan ngejar aesthetic Pinterest.
Akibatnya? Filosofi leluhur yang super canggih bernama Tri Angga pelan-pelan diamputasi. Yuk, kita bedah dosa-dosa arsitektur zaman now pake pisau bedah Media ORASI.
Apa Itu Filosofi Tri Angga Arsitektur Bali? (Edisi Singkat & Padat)
Sebelum kita roasting realita lapangan, khe harus paham dulu dasarnya. Bangunan Bali itu dianggap HIDUP. Dia punya jiwa dan anatomi tubuh layaknya manusia. Konsep ini disebut Tri Angga.
- Utama Angga (Kepala): Bagian atap. Simbol kesucian (Swah Loka).
- Madya Angga (Badan): Dinding, tiang (saka), pintu. Tempat manusia beraktivitas (Bwah Loka).
- Nista Angga (Kaki): Pondasi atau batur. Penyangga yang kuat (Bhur Loka).
Aturan ini bukan cuma soal mistis-mistisan, Wi. Ini soal adaptasi iklim tropis dan etika tata ruang. Tapi gimana nasibnya di era villa crypto sekarang?
3 Dosa Besar Arsitektur Modern di Bali
Realita di lapangan seringkali bikin elus dada. Aturan tata ruang ditabrak, filosofi dilupakan. Berikut adalah “modifikasi” ngawur yang sering kita temui:
1. Kepala Dipenggal Demi Rooftop Bar 🍹
Secara aturan tradisional, “Kepala” (Atap) itu harus tinggi, berbentuk limasan atau tumpang, dan menggunakan bahan alami. Fungsinya buat sirkulasi udara panas biar rumah adem (teknologi passive cooling).
Realita Zaman Now: Atap dibikin DATAR (Flat Roof). Kenapa? Biar bisa disulap jadi Rooftop Bar buat sunsetan. Logikanya gini, Ton: Bagian paling suci (Kepala) malah diinjek-injek buat pesta dan mabuk. Selain secara filosofi itu offside, secara fungsi juga bikin ruangan di bawahnya panas kayak oven.
2. Badan Kaca: Arsitektur Tropis Rasa Greenhouse 🥵
Bagian “Badan” rumah Bali harusnya punya tekstur (bata merah/padas), punya “napas”, dan melindungi penghuni dari terik matahari.
Realita Zaman Now: Dinding diganti FULL KACA. Alasannya biar view sawah (yang bentar lagi jadi beton juga) kelihatan jelas. Padahal, kaca itu menyerap dan memantulkan panas. Bali itu tropis, Bos! Bikin rumah kaca sama aja nyiptain efek rumah kaca (greenhouse effect) di lingkungan sendiri. AC jebol, listrik boros, bumi makin panas. Smart banget, kan?
3. Kaki Diamputasi Demi Parkiran Pajero 🚗
Bangunan Bali wajib punya batur (lantai yang ditinggikan). Kita nggak boleh tidur sejajar sama tanah halaman. Ada hirarkinya.
Realita Zaman Now: Boro-boro ditinggiin, tanah malah DIGALI KE BAWAH (Basement). Lahan di Denpasar dan Badung emang mahal, makanya solusi paling gampang adalah bikin parkir bawah tanah. Secara filosofi, khe memaksa tamu atau kendaraan khe masuk ke wilayah Bhutakala (Dunia Bawah). Rumah jadi kelihatan “tenggelam” dan kehilangan kewibawaannya.
Perda Bali No 5 Tahun 2005: Macan Ompong?
Sebenarnya, pemerintah nggak diem aja. Ada Perda Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung.
Tapi, ada celah hukum yang sering dimainin:
- Pasal 8 bilang bangunan adat WAJIB pake gaya tradisional utuh.
- Pasal 13 bilang bangunan modern cuma wajib “Menampilkan Gaya” arsitektur Bali.
Frasa “Menampilkan Gaya” inilah yang jadi cheat code. Asal khe tempel satu patung Ganesha di depan, atau pake paras batu alam dikit di pagar, ruko kotak sabun khe udah dianggap “Legal”. Dinas Tata Ruang seringkali nggak bisa berkutik karena definisinya yang karet.
Mau Jadi Bali atau “Santorini Cabang Dalung”?
Inovasi arsitektur itu boleh banget. Arsitek legendaris kayak Geoffrey Bawa aja bisa bikin Tropical Modernism tanpa ninggalin identitas lokal.
Masalahnya, yang terjadi di Bali sekarang bukan modernisasi, tapi kemalasan desain dan keserakahan ruang. Kita rela menggadaikan identitas budaya dan kenyamanan iklim cuma demi likes di Instagram dan sewa harian Airbnb.
Jadi gimana, Ton? Mending kita pertahanin Filosofi Tri Angga Arsitektur Bali, atau pasrah aja Bali berubah jadi kota metropolitan generik yang panas dan semrawut?