ORASI

Viral Spanduk “Gaya Gagah Pesu Kapah”: Diancam Kremasi, Siapa Takut?

Belakangan ini, jagat maya Bali dihebohkan dengan sebuah foto spanduk di salah satu balai banjar. Tulisannya singkat, padat, dan menohok ulu hati: “Gaya Gagah, Pesu Kapah. Mani Mati Kanggoan Kremasi.”

Kalau diterjemahkan ke bahasa tongkrongan, kira-kira artinya: “Gaya lu selangit, tapi jarang nongol (ngayah). Besok kalau mati, terima nasib aja dikremasi (seadanya).”

Waduh, savage banget, Ton!

Spanduk yang memuat frasa Gaya Gagah Pesu Kapah ini jelas ditujukan sebagai shock therapy buat krama (warga) yang dianggap antisosial. Mereka yang cuma numpang tidur di desa adat, tapi sibuk cari cuan di luar sampai lupa kewajiban sosial.

Tapi, mari kita bedah dengan kepala dingin. Apakah “ancaman” kremasi ini masih relevan di tahun 2024? Atau jangan-jangan, bagi generasi kita yang logis dan realistis, ancaman ini malah terdengar seperti win-win solution?

Fenomena “Gaya Gagah Pesu Kapah” di Era Modern

Harus diakui, sindiran Gaya Gagah Pesu Kapah ini valid banget buat nyentil fenomena New Rich di Bali. Banyak yang mobilnya baru, rumahnya mentereng, story Instagram-nya healing terus, tapi pas suara kulkul (kentongan) banjar bunyi, mendadak “hilang sinyal”.

Di sistem banjar yang komunal, ketidakhadiran fisik (ngayah) adalah dosa besar. Modal uang saja tidak cukup. Kamu butuh modal sosial. Spanduk ini adalah jeritan frustrasi para prajuru (pengurus adat) yang lelah melihat warganya yang cuma mau hak tapi lupa kewajiban.

Tapi, menyamaratakan semua orang yang jarang keluar sebagai orang malas juga kurang tepat. Tuntutan kerja 9-to-5, shift malam di hotel, atau bisnis yang menuntut 24/7 membuat definisi “rajin ngayah” jadi makin sulit dipenuhi anak muda.

Diancam Kremasi? “Don’t Threaten Me with a Good Time!”

Nah, ini bagian paling menarik. Bagian akhir spanduk berbunyi: “Mani Mati Kanggoan Kremasi.”

Kata “Kanggoan” di sini berkonotasi negatif, seolah-olah kremasi adalah opsi kelas dua, opsi buangan, atau opsi bagi mereka yang tidak layak dapat penghormatan bade tumpang pitu dan arak-arakan ribuan orang.

Tapi, tunggu dulu. Coba kita balik logikanya.

Bagi Gen Z dan Millennial Bali yang makin melek finansial, kremasi (Mekinsan ring Gni) justru seringkali jadi pilihan utama, bukan paksaan. Kenapa?

  1. Hemat Biaya (No Drama Warisan): Biaya ngaben konvensional bisa ratusan juta. Kremasi di krematorium modern? Jauh lebih terjangkau, transparan, dan tidak meninggalkan utang.
  2. Praktis & Efisien: Tidak perlu merepotkan ratusan warga banjar untuk gotong wadah, bikin banten berhari-hari, dan masak besar. Cukup keluarga inti. Selesai dalam hitungan jam.
  3. Valid Secara Agama: Ingat, Ton. Tujuan upacara kematian adalah mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke alam. Api krematorium sama sucinya dengan api pembakaran manual. Yang penting Atma (roh) tenang, bukan tetangga yang senang lihat keramaian.

Jadi, kalau kaum Gaya Gagah Pesu Kapah ini “dihukum” dengan cara dikremasi praktis, bukankah itu malah meringankan beban keluarga mereka? Joke’s on you, spanduk!

Gengsi Adat vs Realita Dompet

Masalah utamanya ada pada mindset lama: Semakin ramai yang mengantar ke kuburan, semakin sukses hidupmu.

Spanduk ini melanggengkan stigma bahwa kematian yang sepi adalah aib. Padahal, menjadi Gaya Gagah (sukses secara finansial) seringkali butuh pengorbanan waktu yang membuat seseorang jadi Pesu Kapah (jarang bersosialisasi).

Jika konsekuensinya adalah kremasi sederhana, banyak anak muda Bali sekarang yang bakal bilang: “Gas! Yang penting saya tidak mewariskan utang ke anak cucu cuma demi gengsi dilihat orang sekampung.”

Tetap Hormati, Tapi Jangan Baper

Tentu saja, tulisan ini bukan ajakan buat jadi warga banjar yang ignorant atau masa bodoh. Bagaimanapun, kita hidup di Bali, di mana menyama braya (persaudaraan) adalah fondasi utamanya. Kalau memang sibuk (Pesu Kapah), ya wajib sadar diri: bayar iuran lancar, bayar uang pengganti (dosa/patus), dan tetap santun.

Tapi, soal ancaman di spanduk Gaya Gagah Pesu Kapah itu? Gak usah diambil pusing.

Kalau pada akhirnya kita harus “dikanggoan” kremasi karena sibuk bekerja membangun masa depan, terima saja dengan lapang dada. Toh, saat kita mati nanti, Tuhan tidak akan bertanya seberapa tinggi bade-mu, tapi seberapa baik karmamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *