ORASI

Tanah Leluhur Jadi Villa, Cucu Jadi Housekeeping: Sebuah Horor Properti di Bali

Apa kabar mental hari ini? Masih aman atau udah mulai retak liat harga tanah di marketplace?

Kalau khe adalah Gen Z atau Millennial Bali yang punya cita-cita mulia pengen punya rumah sendiri di tanah kelahiran, artikel ini mungkin bakal bikin dada sesak. Tapi nggak apa-apa, sesak dikit biar sadar, daripada terlena mimpi indah yang nggak bakal kejadian.

Jujur-jujuran aja nih. Narasi “Bali is Healing” pasca-pandemi itu emang manis buat pariwisata, tapi pahit banget buat warga lokal yang mau nyari tempat berteduh. Fenomena yang kita hadapi sekarang bukan lagi sekadar inflasi, tapi sebuah displacement atau penyingkiran halus.

Gimana nggak? Cita-cita pengen jadi tuan tanah, realitanya malah jadi housekeeping di villa yang berdiri di atas tanah warisan kakek sendiri.

Matematika yang Membunuh Logika

Coba kita berhitung ala anak SD, Wi. Ambil contoh area “seksi” kayak Canggu, Pererenan, atau bahkan sekarang udah merembet ke Seseh dan Kedungu. Harga tanah di sana udah dipatok pakai standar Dollar. Investor asing (atau lokal Jakarta berkantong tebal) dengan enteng nyebut angka milyaran per are.

Sementara itu, gaji UMR Bali? Yah, khe tau sendiri lah. Naiknya irit banget, kayak odol yang udah mau abis.

Kesenjangan ini bikin matematika hidup di Bali jadi nggak masuk akal. Mau nabung sampai reinkarnasi tiga kali pun, gaji standar lokal nggak akan pernah kekejar buat beli properti dengan harga standar turis.

Hasilnya? Kita dipaksa minggir. Yang tadinya orang Badung/Denpasar, pelan-pelan geser ke Tabanan pelosok atau Gianyar ujung utara. Kita jadi commuter di pulau sendiri, tua di jalan demi nyari sesuap nasi di pusat pariwisata.

Jangan Cuma Salahin Bule, Coba Ngaca Dikit

Nah, ini bagian yang paling pedes. Gampang banget emang kalau kita cuma teriak “Anti-Gentrification” atau nyalahin bule yang bikin harga tanah naik. Tapi pertanyaannya: Tanah itu siapa yang jual?

Bule nggak bisa beli tanah kalau nggak ada orang lokal yang ngasih tanda tangan, Ton.

Tragedi ini seringkali dimulai dari dalam rumah kita sendiri. Coba cek sejarah keluarga khe. Berapa are tanah leluhur yang lepas di era Bapak atau Kakek kita? Dan alasannya apa?

Seringkali alasannya klise dan menyedihkan:

  1. Gengsi Upacara: Biar bisa bikin yadnya yang jor-joran (mewah), tanah rela dilepas. Padahal Dewa nggak minta mewah, tetangga yang minta.
  2. Gaya Hidup: Beli mobil baru biar nggak kalah sama banjar sebelah.
  3. Investasi Bodong & Judi: Berapa banyak tanah Bali yang hilang di meja tajen atau investasi bodong?

Jadi, sebelum kita marah-marah sama investor yang bikin villa, sadari dulu bahwa kitalah yang membukakan gerbangnya lebar-lebar.

Ironi: “Om Swastyastu, Sir. Room Service?”

Puncak dari komedi gelap ini adalah nasib kita, generasi pewaris yang cuma dapet sisa-sisa.

Banyak anak muda Bali sekarang bekerja di sektor hospitality. Kelihatannya keren, kerja di villa estetik, story IG-nya bagus. Tapi di balik itu, ada ironi yang nusuk hati.

Bayangin, khe kerja jadi gardener atau housekeeping. Tiap pagi khe bersihin kolam renang, nyapu halaman, dan nyiapin floating breakfast buat tamu. Padahal, 20 tahun yang lalu, tanah tempat kolam renang itu berada adalah sawah tempat Pekak (kakek) khe ngebajak tanah buat ngehidupin keluarga.

Dulu kita yang punya, sekarang kita yang melayani. Dulu kita tuan rumah, sekarang masuk ke situ aja harus lepas sandal dan nunduk-nunduk sopan sama “tuan” yang baru.

Solusinya Apa? Atau Emang Nggak Ada?

Kalau khe nanya solusi ke pemerintah, jawabannya pasti normatif: “Rumah subsidi”, “Pemerataan ekonomi”. Bosan dengernya, Ton.

Realitanya, Gen Z Bali punya pilihan yang terbatas:

  1. Minggir: Terima nasib tinggal jauh dari pusat kota.
  2. Ngotot: Kerja keras bagai kuda (atau cari side hustle gila-gilaan) buat beli tanah sisa yang ukurannya cuma cukup buat parkir NMAX.
  3. Kritis: Mulai edukasi keluarga. Stop jual tanah! Kalau kepepet, sewakan jangka pendek. Jangan tergoda sewa jangka panjang (80 tahun) yang sama aja kayak ngejual masa depan anak cucu.

Intinya, artikel ini bukan buat nakut-nakutin. Ini alarm, Ton. Bangun. Jangan sampai nanti anak cucu kita nanya: “Bapa, kenapa kita numpang di Bali?” dan khe cuma bisa jawab, “Maaf Nak, dulu Bapa sibuk healing dan Bapaknya Bapa sibuk tajen.”

Selamat merenung. Jangan lupa ngopi biar nggak stress.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *