ORASI

gigi susu

Misteri “Gigi Susu”: Kenapa Manusia Rela Menderita Antre Demi Roti dan Validasi Sosial?

Selamat datang di zaman akhir, di mana sarapan bukan lagi tentang mengisi perut agar tidak pingsan saat kerja, melainkan kompetisi siapa yang paling estetik di Instagram Story.

Pemenang trofi “Penyebab Macet Pagi Hari” bulan ini jatuh kepada: Gigi Susu. Sebuah kafe yang namanya terdengar seperti klinik dokter gigi anak, tapi antreannya lebih panjang daripada antrean BPJS. Kenapa tempat ini bisa jadi “kiblat” sarapan anak muda masa kini? Mari kita bedah kegilaan massal ini.

1. Konsep Vintage: Menjual Nostalgia yang Tidak Pernah Kalian Alami

Mari jujur, daya tarik utamanya adalah interiornya. Konsepnya “vintage”. Dalam bahasa marketing, “vintage” artinya: “Kami menaruh barang-barang tua yang terlihat seperti isi gudang nenekmu, tapi kami menatanya ulang dan menaikkan harga kopinya 300%.”

Dan surprise, itu berhasil.

Orang-orang berbondong-bondong datang demi duduk di kursi kayu yang mungkin dulu dipakai rapat RT tahun 80-an, hanya demi sebuah foto dengan caption “Slow morning~”. Padahal aslinya tidak slow sama sekali; kalian buru-buru makan karena ditatap sinis oleh orang yang menunggu giliran meja di belakangmu.

2. Pastry Viral: Tepung dan Mentega yang Dipertuhankan

“Tapi croissant-nya enak banget!” seru seorang netizen yang sudah antre 45 menit.

Dengar, pastry di Gigi Susu memang enak. Mereka renyah, buttery, dan flaky. Tapi mari kita realistis. Apakah sepotong pain au chocolat sepadan dengan bangun jam 6 pagi dan berdiri di antrean sambil menghirup polusi jalan raya?

Mungkin bagi mereka, rasa lapar itu bumbu penyedap terbaik. Atau mungkin, rasa “enak” itu muncul dari manipulasi psikologis: karena aku sudah menderita untuk mendapatkan roti ini, maka roti ini HARUS enak. Makanlah selagi hangat? Oh tidak, makanlah setelah 15 menit sesi pemotretan sampai rotinya dingin dan alot. Bon appétit.

3. The “FOMO” Effect: Takut Dibilang Kurang Gaul

Alasan terbesar kenapa Gigi Susu jadi spot paling diincar bukan karena rasa, dan bukan karena tempat. Tapi karena rasa takut. Takut dibilang “kudet” (kurang update) kalau belum check-in di sana.

Gigi Susu adalah panggung sandiwara yang sempurna.

  • Kamu datang.
  • Kamu pesan menu yang namanya susah disebut.
  • Kamu foto (pastikan logo giginya kelihatan).
  • Kamu upload.

Selamat, kamu baru saja menukarkan uang dan waktu tidurmu dengan dopamin sesaat dari notifikasi “Likes”. Kamu resmi menjadi bagian dari masyarakat hits ibu kota.

Di Balik Hype, Ada Kualitas

Terlepas dari segala sinisme di atas, harus diakui secara objektif: Gigi Susu tidak sekadar menjual angin. Di balik antrean yang menguji iman dan obsesi estetika itu, ada tim dapur yang memang serius menggarap kopi dan rotinya dengan standar tinggi.

Jadi, apakah layak dicoba? Yah, boleh saja. Jika kamu punya stok kesabaran berlebih dan bisa datang di jam-jam yang manusiawi, tempat ini adalah opsi sarapan yang solid. Anggap saja suasana “kalcer” itu nilai tambah, dan rasa pastry-nya yang lezat adalah alasan utamanya. Datanglah, nikmati makanannya, dan jangan lupa: makan dulu baru foto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *