ORASI

Investor yang dibutuhkan Bali

Bali Gak Butuh “Sugar Daddy”, Kita Butuh Tukang Sampah Berduit

Jujur aja, Ton. Tiap kali denger berita “Investor Asing Siap Suntik Dana Triliunan ke Bali”, reaksi khe apa? A. Sujud syukur sambil teriak “Bali Bangkit!”? B. Cek Google Maps, sawah mana lagi yang bakal berubah jadi beton?

Kalau jawaban khe A, selamat, main khe kurang jauh. Kalau jawaban khe B, sini duduk bareng, kita perlu ngopi (sebelum harga kopi lokal kalah mahal sama oat milk latte di Canggu).

Selama ini, narasi yang dibangun pemerintah dan media mainstream itu selalu sama: Investasi = Dewa Penyelamat. Kita diposisikan kayak gadis desa yang lagi nunggu dipinang pangeran kota. Padahal realitanya? Kita lebih mirip lagi cari Sugar Daddy buat nambal gaya hidup boros, tapi bayarannya pake ginjal (baca: tanah warisan).

Bali itu gak miskin uang, Wi. Lihat aja Canggu, Uluwatu, sampai Seseh. Duit ngalir deras kayak banjir lahar dingin pas musim hujan. Tapi pertanyaannya: Kita butuh investor model apa lagi?

Apakah kita kurang Beach Club? Kurang Villa estetik di tengah sawah yang airnya nyolong subak? Kurang Cafe yang jual avocado toast seharga UMR harian? Jawabannya: GAK. Kita udah overdosis, sampai muntah beton.

Terus, investor kayak gimana yang harusnya kita gelar karpet merah? Ini wishlist “Jodoh Idaman” buat Bali yang sebenernya—yang sayangnya, gak seksi di mata kapitalis.

1. The Waste Warrior: Investor “Pemulung” Elite

Gunung tertinggi di Bali bentar lagi bukan Gunung Agung, tapi Gunung Suwung (dan TPA-TPA ilegal lainnya). Kita darurat sampah, Ton.

Kita gak butuh investor yang datang bawa jargon “Eco-Friendly” tapi cuma modal sedotan bambu doang. Kita butuh investor gila yang berani bangun pabrik Waste-to-Energy skala raksasa. Yang teknologinya bisa “makan” sampah ribuan ton per hari dan ngubah jadi listrik.

Kenapa investor tipe ini langka? Karena bisnis sampah itu bau, ribet, dan balik modalnya lama. Gak bisa dipamerin di Instagram Story sambil sunsetan. Tapi kalau gak ada yang masuk sini, siap-siap aja Bali jadi pulau dengan aroma eau de toilette rasa sampah busuk.

2. The Water Saviour: Pawang Air Modern

Pernah mikir gak, hotel punya kolam renang olympic size yang airnya jernih, sementara sumur warga di sebelahnya kering kerontang? Itu bukan takdir, itu ketimpangan.

Bali krisis air bersih. Kita butuh investor yang bawa teknologi Desalinasi Air Laut atau Smart Water Management. Biar kita gak terus-terusan nyedot air tanah sampai pulau ini ambles. Mahal? Banget. Tapi opsinya cuma dua: Investasi di air sekarang, atau nanti kita mandi tayamum pakai debu vulkanik.

3. The Connectivity Hero: Juragan Angkot Cyberpunk

Macet di Bali itu udah bukan cobaan, tapi gaya hidup. Solusi pemerintah? Pelebaran jalan. Padahal teori tata kota bilang: Adding lanes to cure traffic is like loosening your belt to cure obesity. Gak ngaruh, Bos.

Kita butuh investor yang berani taruhan duit di Transportasi Publik Massal. Bus listrik, trem, atau water taxi yang nyambungin pantai-pantai macet itu. Emang sih, ngubah habit orang Bali yang ke warung jarak 10 meter aja naik motor itu susah. Tapi kalau opsinya diem di jalan 3 jam dari Kerobokan ke Berawa, orang bakal sadar juga.

4. The Brain Investor: Bukan Cuma Cari “Baboe”

Selama ini investor datang cari apa? Tenaga kerja murah yang ramah, jago senyum, dan penurut. Akibatnya, mentalitas kita terjebak jadi “pelayan” di rumah sendiri.

Kita butuh investor yang bangun R&D Center, Tech Hub, atau Creative Campus. Yang transfer ilmunya jalan. Yang bikin anak muda Bali digaji karena OTAK dan SKILL-nya, bukan cuma karena “Service with a Smile”. Biar lulusan kampus di Bali gak cuma berakhir jadi admin olshop atau driver ojol.

Kesimpulan: Realita Pahit

Masalahnya, Ton, investor tipe di atas itu GAK SEKSI. ROI (Return on Investment)-nya lama. Resikonya gede. Gak instagramable.

Investor “Cuan Cepat” (Properti, F&B, Hotel) bakal terus datang karena hukum kita lembek. Selama melanggar tata ruang lebih murah daripada patuh aturan, Bali bakal terus diperkosa atas nama “Pembangunan”.

Jadi, kalau besok ada pejabat yang bangga bilang “Investasi Bali Meningkat!”, tanya balik: Investasi yang mana? Yang nyelesein masalah, atau yang nambah masalah baru?

Berhenti mimpi dapet Sugar Daddy yang baik hati. Bali butuh partner yang siap kotor-kotoran benerin pondasi rumah kita yang udah retak ini.

Gimana menurut khe? Masih mau nambah villa, atau udah waktunya kita tutup gerbang bentar buat bersih-bersih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *