ORASI

jenis ayam betutu

Betutu Itu Dipanggang, Bukan Direbus Sampai Hancur! Kenali 4 Kastanya Biar Gak Diketawain Leluhur

Wéh, Ton. Lagi makan apa siang ini? Betutu?

Yakin itu Betutu? Atau cuma ayam bumbu kuning yang dipresto sampai tulangnya lunak kayak mental Gen Z kena burnout?

Jujur aja, definisi “Betutu” di Bali makin ke sini makin kabur. Demi cuan dan efisiensi, banyak warung yang main jalan pintas. Asal ayamnya kuning, pedes, dan ada kacang gorengnya, langsung ditempel label “Betutu”. Padahal, kalau leluhur kita liat proses masaknya, mungkin mereka bakal nangis di pojokan merajan.

Sebelum khe debat kusir di kolom komentar soal warung mana yang paling enak, kita perlu luruskan dulu logikanya. Di Media ORASI, kita nggak cuma bahas rasa, tapi juga “kebenaran” kuliner.

Mari kita bedah 4 Mazhab (Aliran) Betutu yang beredar di pasaran, dari yang Real OG sampai yang… yah, penistaan.

Back to Basic: Apa Itu Betutu?

Sebelum ngomongin rasa, buka dulu kamus bahasa Bali khe.

  • Be = Daging.
  • Tunu = Bakar/Panggang.

Secara harfiah, Betutu itu daging yang dibakar/dipanggang. Kuncinya ada di api dan asap. Jadi, kalau ayam khe cuma direbus dalam panci, direndam kuah banjir, tanpa pernah menyentuh bara api atau sekam… sorry to say, Wi. Itu secara teknis batal demi hukum disebut Betutu. Itu lebih cocok disebut “Sup Ayam Base Genep Spicy Edition”.

Paham kan logikanya? Sekarang, cek lidah khe masuk kasta mana.

1. Mazhab Kering (The OG / Kasta Brahmana)

Lokasi habitat: Gianyar, Ubud, dan dapur nenek-nenek sakti.

Ini adalah kasta tertinggi perbetutuan duniawi. Betutu jenis ini dimasak dengan metode “Mekutun”. Ayam atau bebek utuh dimandikan bumbu base wewangen lengkap, dibungkus ope (pelepah pinang), lalu ditimbun dalam sekam padi yang membara selama 8 sampai 12 jam.

  • Kenapa Valid: Panas dari sekam itu slow cooking alami. Lemak daging meleleh pelan-pelan, bumbu meresap sampai ke sumsum tulang, dan ada aroma smoky (asap) yang nggak bisa dipalsukan sama mecin.
  • Realita: Susah nyarinya, Gung. Prosesnya ribet, harganya biasanya lebih mahal, dan harus sabar nunggu. Bukan makanan buat kaum “mendang-mending”.

2. Mazhab Kuah (The Mainstream / Kasta Satria)

Lokasi habitat: Gilimanuk, Negara, dan cabang-cabangnya di seluruh Bali.

Ini mazhab yang paling populer dan sering khe temui di pinggir jalan raya. Ciri khasnya: Kuah kuning kemerahan yang pedasnya bikin ubun-ubun meledak, disajikan bareng plecing kangkung dan kacang tanah.

  • Kenapa Laku: Cocok buat lidah orang Indonesia yang “nggak nendang kalau nggak ada kuah”. Seger, pedes, bikin keringetan.
  • Kritik Halus: Enak sih, Ton. Tapi unsur “Tunu”-nya seringkali hilang. Banyak warung (nggak semua ya) yang cuma merebus ayamnya dengan bumbu tajam biar cepet mateng. Rasanya dominan pedas cabai, kadang nutupin kompleksitas rempah aslinya.

3. Mazhab Goreng (The Safety Player / Kasta Wesia)

Lokasi habitat: Warung betutu modern dan menu sarapan sisa kemarin.

Ini adalah solusi buat khe yang fobia sama tekstur kulit ayam basah atau lembek. Ayam yang sudah dimasak betutu, digoreng lagi sampai garing (crispy).

  • Kenapa Laku: Tekstur. Siapa sih yang nggak suka ayam goreng?
  • Kritik Halus: Ini dilematis. Digoreng emang bikin enak, tapi itu penistaan bumbu. Rempah base genep yang mahal dan kaya rasa itu malah rontok, gosong, dan larut di minyak penggorengan. Khe kehilangan 50% kenikmatan bumbu demi ngejar kriuk. Sayang banget, Gek.

4. Mazhab Tulang Lunak/Presto (The Imposter / Kasta Sudra)

Lokasi habitat: Pusat oleh-oleh dan tempat makan turis.

Nah, ini musuh kita bersama. Ciri utamanya: Tulang ayam bisa dimakan kayak kerupuk, dan dagingnya hancur lebur kayak bubur begitu masuk mulut.

  • Kenapa Laku: Praktis. Nggak perlu repot misahin tulang.
  • Vonis Media ORASI: RED FLAG. Tekstur daging yang hancur itu tanda kalau ayamnya dimasak pakai tekanan tinggi industri (Presto), bukan kesabaran. Rasa bumbunya biasanya cuma nempel di kulit luar, nggak meresap ke dalam serat daging. Ini sih makan ayam instan berkedok tradisional. Kalau mau makan yang lunak-lunak, mending beli bubur bayi aja, Wi.

Kesimpulan: Jangan Asal Kenyang!

Makan itu selera, bebas khe mau pilih yang mana. Tapi sebagai anak muda Bali, minimal khe harus tau bedanya. Jangan sampai warisan kuliner leluhur yang canggih (teknik slow cook sekam) punah gara-gara kita lebih milih yang instan dan tulang lunak.

Sekali-kali, luangkan waktu (dan uang lebih dikit) buat nyari Betutu Tunu yang asli. Rasakan bedanya daging yang lepas dari tulang karena dipanggang bara api, sama daging yang hancur karena dipaksa panci bertekanan.

Jadi, makan siang hari ini mau “Betutu Beneran” atau “Ayam Presto Bumbu Kuning”?

Pilihan ada di tangan (dan dompet) khe, Ton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *