ORASI

Jenis sampah terbanyak di Bali

Bukan Plastik! Ini Jenis Sampah Terbanyak di Bali yang Bikin TPA Meledak

Ngaku deh, Wi. Kalau dengar kata “Darurat Sampah Bali”, apa yang muncul di kepala khe? Pasti botol plastik di Pantai Kuta atau sedotan yang nyangkut di hidung penyu, kan? Kampanye anti-plastik emang seksi banget di Instagram. Bawa tumbler kemana-mana rasanya udah paling eco-warrior sedunia.

Tapi, sorry to say, tebakan khe salah besar.

Musuh utama kita bukan cuma plastik. Berdasarkan data valid, ada “raja terakhir” yang sering lolos dari radar kita karena sifatnya yang menipu: Sampah Organik. Yuk, kita bedah fakta sebenarnya sebelum khe terlanjur koar-koar salah data di tongkrongan.

Mitos vs Data: Siapa Penguasa TPA Sebenarnya?

Kalau khe pikir plastik adalah jenis sampah terbanyak di Bali, khe korban bias visual. Plastik memang kelihatan awet dan jelek, tapi secara volume dan berat, dia cuma runner-up.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan riset lapangan berbagai NGO di Bali, inilah komposisi sampah kita yang sebenarnya:

  1. Sampah Organik (50-60%): Sisa makanan (food waste), sisa upacara (canang/janur), dan perompesan kebun.
  2. Sampah Plastik (15-20%): Kresek, botol, kemasan sachet.
  3. Kertas & Karton (10-12%): Kardus paket, kertas bungkus.
  4. Residu & B3 (Sisanya): Popok bayi (pampers), pembalut, puntung rokok, kaca, logam.

Poin Penting untuk Khe Catat:

Hampir 60% masalah sampah di Bali itu asalnya dari dapur dan tempat suci (merajan) kita sendiri. Bukan dari turis yang beli bir di minimarket.

Kenapa Organik Jadi “Bom Waktu” di Bali?

“Lho, organik kan bisa busuk, Ton? Harusnya aman dong?”

Nah, ini logika yang perlu diluruskan. Organik itu aman KALAU dia menyentuh tanah dan terurai. Masalahnya, kelakuan warga +62 (termasuk krama Bali) itu unik: Membungkus yang organik dengan plastik.

Kasus: Canang dalam Kresek

Bayangkan khe menghaturkan Canang (organik/suci). Setelah selesai, canang itu dimasukkan ke kresek (plastik), diikat mati, lalu dibuang ke tong sampah.

  • Di dalam kresek yang kedap udara, sampah organik mengalami proses anaerob.
  • Proses ini menghasilkan Gas Metana (CH4).
  • Gas inilah yang bikin tumpukan sampah di TPA Suwung atau TPA Mandung sering kebakaran dan meledak.

Jadi, niat hati biar rapi, ending-nya malah meracuni udara satu pulau. Ironis, kan?

Sisa 20%: Antara “Si Cuan” dan “Si Aib”

Selain organik dan plastik, ada sisa persentase sampah (sekitar 20%) yang terbagi jadi dua kasta. Khe wajib tahu bedanya biar gak rugi.

1. Si Cuan (Kardus, Kaca, Logam)

Kardus bekas paket, botol bir, kaleng soda, dan besi tua itu DUIT, Wi. Ini adalah jenis sampah yang paling jarang numpuk di TPA karena jadi rebutan pemulung. Kalau khe buang ini sembarangan dicampur nasi sisa, khe sebenernya lagi buang duit.

2. Si Aib (Popok & Pembalut)

Ini bagian paling gelap. Masih banyak warga Bali percaya mitos: “Jangan bakar pampers, nanti pantat bayi suletan (panas).”

Solusi jenius mereka? Dibuang ke sungai. Ini blunder fatal. Gel di dalam popok akan mengembang, pecah jadi mikroplastik, dimakan ikan, dan ikannya khe makan lagi sebagai seafood Jimbaran. Selamat, siklus karma berjalan sempurna.

Hobi Ngoplos: Penyakit Kronis Kita

Masalah terbesar pengelolaan sampah di Bali sebenarnya bukan pada jenis sampahnya, tapi pada kebiasaan mencampur (ngoplos).

Rumus kehancuran TPA itu sederhana:

Organik (Basah) + Plastik/Kertas (Kering) = RESIDU.

Begitu sisa kuah betutu khe tumpah ke tumpukan kardus dan botol plastik, nilai ekonomisnya jadi NOL.

  • Tukang rongsok ogah ambil karena jijik.
  • Mesin pengolah sampah di TPST macet karena lengket.
  • Akhirnya semua ditumpuk begitu saja di TPA sampai menggunung.

Solusi Gak Pake Ribet

Udah paham kan kalau musuhnya bukan cuma plastik? Sekarang, sebagai anak muda Bali yang cerdas, lakuin langkah simpel ini. Gak usah nunggu pemerintah turun tangan:

  1. Stop Mitos Pampers: Buang popok/pembalut ke tempat sampah residu, JANGAN ke sungai.
  2. Pisahkan Si Cuan: Kumpulin botol, kardus, kaleng. Kasih ke pemulung atau Bank Sampah.
  3. Kendalikan Organik: Punya halaman? Bikin lubang biopori/teba modern. Gak punya? Minimal pisahkan plastiknya sebelum buang canang/sisa makanan.

Yuk, mulai dari rumah sendiri. Malu dong, gaya lifestyle di Canggu tapi kelakuan buang sampah masih kayak jaman purba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *