ORASI

Denpasar Juara 1 Kota Paling Bikin Kere: Jakarta Minggir, Kami Lebih Jago Gaya (Walau Maksa)!

Om Swastiastu, Semeton Elit tapi Sulit!

Ada kabar gembira (atau kabar duka?) buat kita semua yang masih setia menghirup polusi di Jalan Gatsu dan Teuku Umar. Berdasarkan data terbaru yang lagi viral—salah satunya dari Kitalulus yang nyomot data BPS—Kota Denpasar resmi dinobatkan sebagai Kota Paling Bikin Dompet Cepet Kering.

Tepuk tangan dulu dong, Ton!

Kita berhasil mengalahkan Jakarta (posisi 3) dan Yogyakarta (posisi 2). Skor pengeluaran per kapita kita tembus 20,76 Juta per tahun

Wait, sebentar. Tarik napas, Wi. Coba cek saldo ATM sekarang. Kalau isinya masih 3 digit dan koma, artikel ini valid buat dibaca sambil nangis di pojokan kamar kos.

Kenapa Denpasar “Mahal”? (Padahal Nasi Jinggo Masih Ada)

Kalau dibilang harga makanan pokok mahal, nggak juga. Nasi Jinggo 5 ribu masih ada kok di pinggir jalan. Masalahnya, Gen Z Denpasar mana ada yang mau nongkrong di pinggir jalan kalau nggak kepepet?

Denpasar itu jebakan lifestyle, Gung. Di sini, batas antara “Hidup Sederhana” dan “Ikut-ikutan Bule” itu tipis banget setipis tisu toilet warung makan.

  • Kopi: Bukan lagi kebutuhan kafein, tapi kebutuhan feed. Sekali duduk 35 ribu.
  • Healing: Dikit-dikit stress, lari ke Kintamani atau Canggu. Niatnya healing, pulang-pulang malah tambah pening liat sisa saldo.
  • Kos-kosan: Mentang-mentang banyak bule, Bapak Kos sekarang masang harga sewa seolah-olah fasilitasnya setara hotel bintang 4. Padahal air keran kadang mati nyala kayak lampu disko.

Kita hidup di kota dengan Harga Bule, Gaji Lokal. Inflasi gaya hidup di Denpasar itu nyata, dan korbannya adalah mental finansial kita.

Prestasi atau Tragedi?

Menjadi “Juara 1 Bikin Dompet Kering” sebenarnya adalah sindiran keras buat kita. Ini membuktikan kalau di Denpasar, Gengsi adalah Mata Uang Utama.

Orang Jakarta mungkin pusing bayar KPR atau sewa apartemen mahal. Orang Denpasar pusing karena harus menyeimbangkan biaya hidup, biaya adat, biaya sosial, dan biaya “biar kelihatan hits”.

Di kota lain, orang takut mati kelaparan. Di Denpasar, orang lebih takut mati gaya.

Surat Terbuka Buat Dompet Kalian

Jadi, buat Gek dan Wi yang masih bertahan di Denpasar dengan gaji UMR tapi tetap berusaha terlihat “menyala”, hormat kami setinggi-tingginya. Kalian adalah pesulap handal.

Data 20 juta per bulan itu mungkin terdengar gila. Tapi lebih gila lagi kita yang sadar diri miskin, tapi kalau diajak brunch mahal masih aja jawab: “Gasss, Ton!”

Denpasar Pride! (Padahal cry).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *