Om Swastiastu, Semeton! Masih bisa napas di tengah antrean macet shortcut Canggu hari ini? Kalau napas kalian udah Senin-Kamis gara-gara debu proyek, siap-siap tarik napas lebih panjang. Kenapa? Karena mall pertama di Canggu bakal segera hadir buat “menemani” hari-hari kalian.
Ya, kalian nggak salah baca. Di saat kita mikir Canggu butuh pelebaran jalan atau drainase yang bener, developer justru ngide bikin mall. PT Asia Mas Realty baru aja ngumumin kelanjutan proyek Canggu Hills Phase 3. Isinya? 35 unit villa eksklusif plus mall terintegrasi. Kle, mantap jiwa (atau gila?).
Mari kita bedah klaim-klaim “surgawi” dari proyek ini sebelum kita semua bengek kena macet.
“Ecovista”: Hijau di Brosur, Beton di Lapangan?
Dalam rilis resminya, proyek ini mengusung tema “Ecovista”. Namanya sih kedengeran adem, ramah lingkungan, dan save the earth banget. Tapi coba pake logika dikit, Ton.
Gimana ceritanya ngebangun 35 villa beton ditambah sebuah mall pertama di Canggu dengan 200 tenant bisa disebut “Eco”? Apakah mall-nya nanti pake AC tenaga angin mamiri? Atau parkirannya pake rumput gajah?
Ini bau-baunya seperti praktik greenwashing klasik. Jualan nama “Eco” biar laku di pasar bule sadar lingkungan, padahal aslinya cuma numpuk beton di atas tanah resapan air. Sawah nangis, air tanah menjerit, tapi yang penting cuan lancar, kan?
Logika “Solusi Macet” yang Membagongkan
Ini bagian paling absurd. Pihak developer bilang kalau proyek ini menghadirkan konsep gaya hidup modern “tanpa harus menghadapi kemacetan Canggu”. Alasannya? Karena penghuni villa tinggal jalan kaki kalau mau ke mall.
Logika ini cacatnya minta ampun, Wi.
Oke, penghuni villanya mungkin nggak perlu keluar naik motor. Tapi, pikirin 200 tenant di dalam mall pertama di Canggu itu. Mereka butuh staf, butuh supplier, dan yang paling penting: butuh PENGUNJUNG dari luar.
Mall segede gaban itu bakal jadi magnet baru yang nyedot ribuan motor dan mobil dari luar buat masuk ke area yang sekarang aja udah merah darah di Google Maps. Jadi, alih-alih solusi, ini justru nyiptain pusat kemacetan baru. Jenius banget, kan?
Jargon “Hanya Sultan” & Gentrifikasi Ugal-ugalan
Kalau kalian ngerasa makin asing di tanah sendiri, wajar. Proyek ini terang-terangan pake jargon marketing: “Hanya Sultan, Villa Pribadi Depan Mall”.
Target pasarnya jelas: investor tajir melintir dan ekspatriat yang duitnya nggak berseri. Sementara itu, warga lokal Gen Z dan Millenial Bali? Ya cukup jadi penonton aja sambil nikmatin harga tanah yang makin nggak ngotak.
Fenomena ini makin memperparah gentrifikasi di Bali. Kawasan Canggu Hills ini berstatus freehold (hak milik), yang digadang-gadang sebagai nilai investasi utama. Pertanyaannya, berapa banyak warga lokal yang sanggup beli properti dengan label “Sultan”? Atau ujung-ujungnya tanah Bali cuma jadi aset spekulasi orang luar?
Janji Manis untuk Putra Daerah
Seperti biasa, ada gula-gula manis di akhir rilis: “Memprioritaskan putra daerah Bali untuk lapangan kerja.”
Kita udah sering denger lagu lama ini, Ton. Pertanyaannya, lapangan kerja yang mana? Apakah posisi strategis di manajemen, atau sekadar jadi security, tukang parkir, dan cleaning service di mall megah itu?
Media ORASI menantang developer buat transparan soal ini. Jangan sampe janji pemberdayaan cuma jadi tameng biar izin mulus.
Canggu Butuh Mall atau Kewarasan?
Kehadiran mall pertama di Canggu ini adalah bukti nyata kalau pembangunan di Bali Selatan udah jalan sendiri tanpa rem. Investor jalan terus, pemerintah stempel izin, warga lokal yang nanggung macet dan banjirnya.
Buat kalian para “Sultan” yang mau beli, selamat menikmati kemewahan di tengah kemacetan. Buat kita warga biasa? Siapin mental dan masker tebel.