Pernah nggak sih khe lagi bengong di tengah macetnya Jalan Raya Canggu, atau pas lagi mandi tiba-tiba air keran croot… mati total, terus mikir: “Kle, kenapa sih Bali jadi se-chaos ini?”
Kalau jawaban khe adalah “Gara-gara gubernur sekarang!” atau “Gara-gara bule Rusia!”, khe nggak sepenuhnya salah. Tapi, khe kurang jauh mainnya, Ton.
Akar masalah dari segala kemacetan, krisis air, dan alih fungsi lahan yang brutal hari ini sebenarnya bisa dilacak mundur ke sebuah dokumen tua berdebu dari tahun 1971. Namanya: Masterplan SCETO.
Ini bukan mantra dukun, tapi “kitab suci” pariwisata Bali yang didesain oleh konsultan Prancis (SCETO) atas pesanan Bank Dunia dan Pemerintah Orde Baru. Niat awalnya sih mau bikin Bali kaya raya, tapi kok rasanya sekarang kita malah mewarisi “kado beracun”?
Mari kita bedah dosa masa lalu dan kebodohan masa kini.
1. Mitos “Kandang Turis” yang Jebol
Dulu, SCETO punya ide yang terdengar brilian pada zamannya: Enclave Concept.
Idenya gini: “Orang Bali itu polos dan suci, jangan sampai terkontaminasi budaya Barat yang hedon. Jadi, kita kurung aja turis-turis kaya itu di satu tempat terisolasi.”
Maka lahirlah Nusa Dua. Sebuah kawasan elit, steril, dan terpisah dari permukiman warga. Harapannya, turis cuma bakal leyeh-leyeh di hotel bintang lima, buang duit di sana, terus pulang.
Realitanya? SCETO lupa kalau turis itu manusia, bukan sapi yang betah dikandangin. Mereka bosan dengan kemewahan palsu Nusa Dua. Mereka pengen liat “The Real Bali”.
Akibatnya? “Kandang” itu bocor. Turis membludak keluar mencari sensasi di Kuta, Legian, Seminyak, dan sekarang bablas sampai Canggu dan Pererenan. Masalahnya, desa-desa ini nggak pernah didesain dalam masterplan buat nampung ribuan turis. Infrastrukturnya nol, sanitasinya amburadul.
Jadilah sprawl (pembangunan acak-acakan) yang khe nikmati sekarang. Sawah dibeton, jalan tikus dipaksa jadi jalan raya. Rencana SCETO gagal memprediksi hasrat liar pasar.
2. Hausnya Industri “World Class”
Selain soal lokasi, SCETO juga menanamkan standar ganda soal sumber daya. Demi menarik turis berdompet tebal, Bali harus punya fasilitas kelas dunia.
Apa artinya “Kelas Dunia”? Artinya: Lapangan golf yang rumputnya harus hijau 24 jam, dan kolam renang raksasa di setiap hotel.
SCETO mendahulukan kenyamanan turis di atas daya dukung lingkungan. Pola pikir ini yang berbahaya dan awet sampai sekarang.
Coba cek, kapan terakhir kali hotel di Nusa Dua kekurangan air? Jarang. Tapi coba tanya warga di sekitarnya. Sumur warga kering, air laut intrusi ke darat (air tanah jadi asin). Kita mewarisi mentalitas bahwa “Air untuk kolam renang tamu lebih prioritas daripada air buat mandi warga lokal.”
3. Budaya Kok Dijual Kiloan?
Ini bagian paling dark. SCETO adalah pihak yang mempopulerkan istilah “Cultural Tourism” atau Pariwisata Budaya.
Terdengar mulia? Tunggu dulu. Dalam logika ekonomi SCETO, budaya dilestarikan SUPAYA laku dijual. Budaya dijadikan aset komersial, bukan lagi sekadar laku spiritual.
Dampaknya terasa sekarang. Kita jadi terbiasa memodifikasi ritual biar pas sama jadwal flight turis. Kita bikin pertunjukan sakral di hotel sambil orang makan malam.
Ketika turis mulai ngelunjak—masuk pura sembarangan atau komplain suara gamelan berisik—itu sebenarnya karma dari kita sendiri yang sudah menempelkan label harga pada budaya kita sejak tahun 70-an. We sell it, they buy it.
4. SCETO Kasih Korek, Kita yang Siram Bensin
Nah, sampai sini khe mungkin emosi sama si konsultan Prancis itu. Tapi, mari kita fair sedikit.
SCETO merancang rencana itu tahun 1971. Situasi dunia beda, Ton. Belum ada Instagram, belum ada Digital Nomad, belum ada low cost carrier.
Kesalahan fatalnya bukan cuma di SCETO, tapi di KITA SENDIRI (Pemerintah Daerah, Investor, dan Masyarakat).
SCETO ibarat ngasih kita korek api (industri pariwisata). Harusnya apinya dijaga biar anget buat masak nasi. Tapi selama 50 tahun terakhir, kita malah sibuk nyiram bensin ke api itu.
- Aturan “Bangunan setinggi pohon kelapa”? Kita akali dengan bikin basement dalam atau bangun di tebing.
- Aturan Jalur Hijau? Kita terobos demi bikin villa cuan.
- Rekomendasi Moratorium Hotel? Kita abaikan demi PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Kita malas mikir ulang (re-thinking). Kita masih pakai “buku panduan” usang tahun 70-an buat ngadepin masalah tahun 2024. Ya jelas system error, lah!
Waktunya Ganti OS
Berhenti menyalahkan hantu masa lalu. Masterplan SCETO mungkin cacat, tapi kitalah yang membiarkan luka itu membusuk.
Bali hari ini butuh lebih dari sekadar tambal sulam jalan berlubang. Kita butuh Masterplan baru yang lahir dari otak orang Bali masa kini—yang ngerti kalau kita butuh air, butuh ruang, dan butuh harga diri, bukan cuma butuh dollar.
Kalau kita terus-terusan jalan pakai peta tahun 71, jangan kaget kalau ujung-ujungnya kita nyemplung ke jurang.