ORASI

mitos memedi bali

Memedi Punah Bukan Karena Mantra Pemangku, Tapi Kalah Saing Sama Beton (dan Kita Menukarnya dengan Krisis Air)

Masih inget gak, Ton? Dulu pas kita kecil, timer main kita itu bukan jam tangan G-Shock atau notifikasi HP, tapi warna langit.

Begitu langit berubah jadi oren kemerahan alias Sandikala, itu tandanya sirene bahaya berbunyi. Kita bakal lari terbirit-birit pulang ke rumah. Bukan karena takut dimarahin Emak, tapi karena takut satu nama yang melegenda: Memedi.

Konon, makhluk berambut merah acak-acakan ini suka nongkrong di teba (kebun rimbun belakang rumah) atau semak-semak dekat sungai. Modusnya klasik: anak kecil yang masih keluyuran pas Maghrib bakal “diengkebang” (disembunyikan). Katanya, si anak bakal dibuat linglung, diajak main di dunia lain, dan disuapin cacing tanah yang rasanya dimanipulasi jadi kayak jajan laklak.

Ngeri? Banget. Efektif? Sangat.

Tapi coba liat sekarang. Kapan terakhir kali khe denger berita ada anak ilang “diengkebang Memedi”? Jarang, kan? Hampir nggak ada.

Apakah para Pemangku dan Balian di Bali sudah berhasil mengusir populasi Memedi ke dimensi lain? Atau apakah Memedi sudah resign massal karena nggak kuat sama UMR Bali?

Nggak, Ton. Jawabannya lebih pragmatis dan menyedihkan dari itu.

Memedi: Korban Gusuran Paling Tragis

Mari kita bedah pake logika, bukan klenik. Memedi itu sebenernya “Satpam Imajiner”. Leluhur kita menciptakan narasi Memedi sebagai parenting hack jenius. Dulu belum ada CCTV, orang tua sibuk di sawah. Cara paling ampuh biar anak nggak main ke hutan yang bahaya atau hanyut di sungai adalah dengan menanamkan rasa takut.

Memedi butuh habitat. Dia butuh rimbunnya bambu, gelapnya semak belukar, dan sunyinya tebing sungai.

Masalahnya, habitat itu sekarang sudah ganti kulit.

Teba tempat Memedi nongkrong sekarang sudah jadi Villa 3 lantai dengan private pool. Semak-semak tempat dia ngumpet udah rata sama aspal jalan raya yang macetnya ngalahin Jakarta. Sungai yang dulu angker sekarang penuh sama beach club atau warung estetik.

Memedi bingung, Ton. Dia mau ngumpetin anak orang di mana? Di Lobi Hotel? Di parkiran basement? Yang ada dia ditarik parkir progresif.

Selamat! Anak Kita Aman (Dari Hantu)

Secara teknis, pembangunan masif di Bali ini sukses besar. Beton menyelamatkan anak-anak kita dari Memedi.

Ini fakta. Anak-anak sekarang nggak mungkin ilang di semak-semak, karena semak-semaknya udah nggak ada. Mereka aman bermain di dalam kamar ber-AC, menatap layar iPad, jauh dari jangkauan makhluk halus penunggu pohon beringin (karena beringinnya juga udah ditebang buat pelebaran jalan).

Kita berhasil memusnahkan ketakutan irasional masa lalu. Tepuk tangan dulu buat kita semua. 👏👏

Tapi tunggu dulu. Hukum alam itu ada: Equivalent Exchange. Pertukaran setara.

Kita berhasil menukar “bahaya yang belum tentu ada” (hantu) dengan “bencana yang pasti ada”.

Tumbalnya Adalah Air

Saat kita menuangkan beton di atas tanah resapan demi mengusir “kesan angker” dan membangun ekonomi, kita sebenernya lagi menutup pori-pori napas pulau ini.

Memedi mungkin pergi, tapi dia digantikan oleh monster yang jauh lebih mengerikan: Intrusi Air Laut dan Krisis Air Bersih.

Dulu, anak yang diculik Memedi paling cuma linglung sehari dua hari, dimantrain dikit, sadar lagi. Paling trauma dikit takut sama cacing.

Tapi anak cucu kita nanti? Mereka bakal menghadapi teror di mana sumur bor di rumah kering kerontang. Mereka bakal berebut air bersih yang harganya mungkin nanti lebih mahal dari bensin. Sawah-sawah yang tersisa bakal mati bukan karena hama, tapi karena nggak dapet jatah air dari subak yang salurannya kepotong pondasi hotel.

Tanah Bali ini kayak spons, Ton. Kalau atasnya disemen semua, air hujan nggak masuk ke tanah, cuma numpang lewat bikin banjir, terus bablas ke laut. Cadangan air tanah kita defisit tiap tahun.

Pilih Hantu atau Haus?

Jadi, kalau dipikir-pikir lagi dengan kepala dingin (dan hati panas), sebenernya kita lagi menggali kuburan sendiri atas nama “kemajuan”.

Kita merasa hebat udah bikin Bali jadi modern, terang benderang, dan bebas dari takhayul kuno. Kita ketawa-ketiwi liat cerita Memedi yang dianggap primitif. Padahal, kita lagi melajukan mobil ke arah jurang kekeringan sambil ngegas pol.

Suatu hari nanti, mungkin kita bakal kangen sama Memedi. Kita bakal sadar, lebih baik punya teba rimbun yang ada hantunya tapi airnya melimpah, daripada punya kota beton megah tapi keran airnya mati.

Memedi cuma butuh sesajen canang sari biar nggak ganggu. Tapi beton-beton ini? Mereka butuh tumbal masa depan anak-anak kita.

Gimana, Ton? Masih merasa aman karena hantunya udah pergi? Atau tenggorokan khe mulai terasa kering?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *