ORASI

Ketika Pasar Beringkit Dipaksa ‘Glow Up’ Jadi Mall & Bioskop

Ada satu penyakit kronis yang tampaknya sedang menjangkiti para pemangku kebijakan di “Kesultanan” Badung: penyakit bingung menghabiskan uang.

Ketika Pendapatan Asli Daerah (PAD) sedang tumpah-ruah, alih-alih membereskan masalah fundamental seperti sampah yang tak kunjung usai, kemacetan yang bikin darah tinggi, atau krisis air bersih, Pemkab Badung justru melempar wacana yang membuat kita semua mengernyitkan dahi.

Ya, saudara-saudara sekalian, bersiaplah menyambut “Beringkit Town Square” (nama karangan kami, tapi siapa tahu jadi doa). Konon, Pasar Beringkit—pusat transaksi sapi terbesar dan surga thrifting bapak-bapak itu—akan disulap menjadi pasar modern lengkap dengan Mall dan Bioskop.

Sebuah ide brilian, jika kita hidup di alam semesta alternatif di mana sapi suka nonton film Marvel.

Sindrom Main SimCity Pakai Cheat

Melihat rencana ini, rasanya para pejabat di Puspem sedang bermain game SimCity atau Cities: Skylines menggunakan cheat code “Unlimited Money”. Logika pembangunannya sederhana: Ada lahan? Beton! Ada anggaran? Proyek! Urusan fungsi dan demografi pengunjung? Ah, itu urusan belakangan.

Mereka seolah lupa, atau pura-pura lupa, bahwa audience utama Beringkit adalah peternak, makelar hewan, dan warga lokal yang mencari barang murah. Apakah Pak Bupati berharap para blantik sapi ini, setelah lelah tawar-menawar harga pedet, akan langsung ngadem di Starbucks sambil memesan Caramel Macchiato?

Atau mungkin ini strategi untuk meningkatkan SDM Sapi Bali agar lebih cinematic dan cultured?

Sensasi Bioskop 4DX Aroma Kandang

Bayangkan skenarionya. Anda sedang date dengan pasangan, nonton film romantis di bioskop baru Beringkit. Di layar, adegan sedang sedih-sedihnya. Tapi tiba-tiba, angin berhembus kencang dari arah pasar hewan di sebelahnya.

Aroma popcorn yang manis mendadak kalah telak oleh aroma amonia pupuk kandang yang menusuk hidung. Ini bukan lagi pengalaman 4DX, ini pengalaman Real Life Survival.

Modernisasi pasar memang perlu. Tidak ada yang suka pasar becek dan bau. Tapi melompat dari pasar hewan tradisional langsung ke konsep Mall & Bioskop adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Ini seperti memakaikan tuksedo pada seekor babi; terlihat mahal, tapi tetap saja wagu.

Fetish Beton dan Gentrifikasi

Di balik nada bercanda ini, ada kekhawatiran serius. Dalam kamus pembangunan pemerintah kita, kata “Menata” seringkali menjadi eufemisme halus untuk “Mengusir”.

Mengubah pasar rakyat menjadi ruang komersial modern berpotensi besar mematikan pedagang kecil. Apakah pedagang nasi jinggo, pedagang sabit, dan pedagang baju rombengan (OB) mampu membayar sewa tenant di gedung mentereng itu? Atau mereka akan tersingkir pelan-pelan, digantikan oleh franchise raksasa yang pemilik modalnya entah siapa?

Jika itu terjadi, Badung bukan sedang membangun, melainkan sedang melakukan gentrifikasi: membersihkan “wajah kemiskinan” agar terlihat estetik di mata turis dan investor.

Menuju Monumen Mangkrak Berikutnya?

Kita tidak perlu menjadi ahli tata kota untuk melihat risiko kegagalan proyek ini. Tengoklah Denpasar, betapa banyak mall yang hidup segan mati tak mau. Sepi pengunjung, toko-toko tutup, dan lorong-lorongnya lebih mirip lokasi syuting film horor.

Membangun mall di tengah kota saja susah lakunya, apalagi membangun di tengah sentra hewan ternak di Mengwi. Jangan sampai niat hati ingin bikin ikon baru, malah berakhir jadi “Rumah Hantu Termahal” di Bali.

Sebuah Pesan Cinta untuk Pemkab Badung

Wahai Bapak-Bapak yang terhormat di Puspem, kami tahu uang Badung banyak. Kami tahu kalian ingin meninggalkan legacy. Tapi tolonglah, gunakan nalar.

Rakyat tidak butuh bioskop di pasar sapi. Rakyat butuh jalanan yang tidak berlubang, trotoar yang tidak diduduki parkir liar, dan jaminan bahwa sampah mereka diangkut tepat waktu.

Pasar Beringkit biarlah tetap menjadi Beringkit dengan segala kearifan lokalnya. Jangan paksa dia menjadi Plaza Indonesia, kalau akhirnya cuma jadi kandang beton kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *