Ada kabar yang bikin deg-degan sekaligus geleng-geleng kepala, Ton. Baru-baru ini keluar data kalau ada 1.174 pasutri di Badung dan Denpasar yang resmi bubar jalan alias cerai.
Kambing hitam utamanya? Klasik: Faktor Ekonomi.
Tapi bentar deh, Wi, Gek. Coba kita pakai logika dikit. Badung dan Denpasar itu pusat perputaran uang terbesar di Bali. UMR paling tinggi, pariwisata lagi gacor-gacornya, macet di mana-mana (tanda ekonomi gerak, kan?). Kalau alasannya murni “nggak bisa makan”, kok rasanya agak sus ya?
Di Media ORASI, kita nggak mau nelan data mentah-mentah. Setelah investigasi tipis-tipis dan ngobrol sama kanan-kiri, “Faktor Ekonomi” itu seringkali cuma topeng. Di baliknya, ada 5 “penyakit” kronis yang sebenarnya bikin rumah tangga di Bali ambyar.
Siap mental? Yuk kita bedah.
1. Masalah Gengsi: Gaji UMR, Selera Sultan
Ini penyakit paling umum di kalangan anak muda kita. Masalahnya bukan karena gaji kecil, tapi karena gaya hidup yang kegedean.
Di era Instagram dan TikTok ini, validasi sosial itu seolah lebih penting dari beras. Nongkrong di coffee shop hits di Canggu itu wajib. iPhone harus yang kameranya boba tiga. Motor harus Nmax atau Vespa matic modifan.
Pas nikah, kebiasaan ini dibawa. Giliran bayar listrik, beli popok anak, atau bayar iuran Banjar, bilangnya “Sing ada pis” (nggak ada uang). Istri mana yang nggak stress kalau suaminya lebih mentingin ganti knalpot daripada isi kulkas? Ini namanya BPJS: Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.
2. Adat atau Ajang Pamer?
Topik sensitif, tapi harus diomongin. Yadnya itu suci, tujuannya keharmonisan. Tapi di tangan orang yang salah, Yadnya berubah jadi ajang pamer gengsi.
Banyak kasus di mana suami maksa istrinya nyiapin banten atau punia gila-gilaan cuma biar dibilang “Mampu” dan dapet hormat di lingkungan sosial/Banjar. Padahal, ekonomi rumah tangga lagi ngap-ngap.
Ingat, Ton. Leluhur kita minta keikhlasan (tulus ikhlas), yang minta kemewahan sampai ngutang itu GENGSI-mu sendiri. Jangan jadikan adat alasan buat bikin dapur nggak ngebul.
3. Investasi Bodong (Baca: Tajen & Slot)
Cowok Bali itu pekerja keras, setuju? Tapi kalau udah kena racun satu ini, wassalam.
Dulu musuhnya tajen (sabung ayam). Sekarang, musuhnya digital: Slot Judi Online. Banyak Gek/Luh yang akhirnya nyerah dan minta cerai karena suaminya “investasi” terus ke Kakek Zeus.
Menang sekali, sombongnya setahun. Kalah berkali-kali, uang belanja istri yang disikat. Kalau udah gini, wajar istri minta pisah. Masa dia harus saingan sama ayam atau mesin slot buat dapet perhatian?
4. “Orang Ketiga” Era Digital
Badung dan Denpasar itu surganya pergaulan, Ton. Godaan “orang ketiga” jaman now bukan cuma tetangga sebelah yang suka minjem garem.
Sekarang, selingkuh itu semudah swipe kanan atau buka aplikasi “Hijau”. Akses ke nightlife yang gampang bikin iman gampang goyah. Banyak yang secara finansial mapan, tapi “burung”-nya nggak bisa diam. Ingat, loyalty is expensive. Kalau cuma modal tampang doang tapi nggak setia, ya auto talak.
5. The Gong: “Nabrak” Dulu, Baru Mikir (MBA)
Ini poin paling brutal tapi paling nyata. Kenapa angka perceraian tinggi? Salah satunya karena banyak pasangan yang belum siap mental tapi dipaksa nikah.
Kenapa dipaksa? Karena “Nabrak” duluan alias Hamil Duluan (Married by Accident).
Bayangin, belum puas masa muda, finansial belum stabil, belum kenal sifat asli pasangan, tiba-tiba harus jadi Bapak dan Ibu. Kaget? Jelas. Stress? Pasti.
Akhirnya, pas bayi lahir dan mulai nangis tengah malam, emosi nggak stabil. Cekcok sedikit, kata “Cerai” langsung keluar. Nikah itu marathon, Wi, bukan lari sprint 100 meter. Kalau start-nya aja karena “kecelakaan”, jangan heran kalau di tengah jalan banyak yang tumbang.
Jadi, kalau baca berita ada ribuan orang cerai karena “Ekonomi”, jangan langsung kasihan mikir mereka kelaparan. Bisa jadi mereka “kelaparan” karena uangnya habis buat judi, buat gengsi, atau karena emang belum siap nikah tapi terlanjur “isi”.
Buat Gek dan Luh yang berani ambil keputusan pisah dari hubungan toxic: Salut! Sendiri emang berat, tapi lebih berat hidup sama beban pikiran.
Buat yang mau nikah: Melek finansial dan mental dulu, Ton. Jangan sampai masuk statistik tahun depan.