ORASI

Post-Nyepi Depression: Kena Mental Beneran atau Cuma Males Balik Kerja?

Sehari setelah Nyepi, biasanya timeline Instagram dan FYP TikTok mendadak penuh dengan unggahan estetik dan melankolis. Caption-nya seragam: “Missing the Nyepi silence so much” atau “Udah kangen sama bintang tadi malam.” Lalu, muncul satu istilah psikologi pop yang tiba-tiba viral dipakai banyak orang: Post-Nyepi Depression.

Katanya sih, ini perasaan hampa dan sedih karena kedamaian spiritual selama 24 jam tiba-tiba direnggut oleh bisingnya dunia nyata. Dunia terasa terlalu berisik. Jiwa terguncang. Kena mental.

Tapi tunggu dulu, Ton. Sebagai media yang hobi overthinking, Media ORASI merasa perlu mempertanyakan asumsi ini. Apakah sindrom ini beneran valid, atau kita cuma lagi denial aja? Mari kita bongkar.

Realita Nyepi Zaman Now: Kedamaian atau Privilese Rebahan?

Mari kita uji argumen soal “pencarian makna spiritual” ini. Kalau kita hidup di era 90-an, mungkin masuk akal. Tapi hari ini? Di banyak area, router WiFi di rumah atau hotel tetap menyala hijau terang benderang.

Jujur aja, Wi. Kemarin 24 jam di kamar, berapa persen waktu yang dipakai buat meditasi, dan berapa persen yang dipakai buat maraton drakor di Netflix sambil ngabisin stok Chiki?

Sebenarnya, yang kita rindukan dari Nyepi bukanlah “suara jangkrik” atau “langit tanpa polusi”. Yang kita kangenin adalah privilese untuk bermalas-malasan tanpa di-judge oleh kapitalisme.

Nyepi adalah satu-satunya hari dalam setahun di mana ghosting kerjaan itu dilindungi oleh hukum adat dan agama. Nggak ada bos yang berani nge-chat nanya progres report. Nggak ada klien yang minta revisi desain jam 9 malam. Kita rindu kemerdekaan itu, bukan kesunyiannya.

Dopamine Crash dan Setelan UMR

Seorang skeptis cerdas pasti akan melihat Post-Nyepi Depression bukan sebagai masalah kejiwaan, melainkan sekadar dopamine crash. Otak kita kaget, Gek.

Kemarin kita dimanja seharian jadi kaum rebahan tingkat dewa. Hari ini? Kita langsung dihantam alarm jam 6 pagi. Grup WA kantor kembali rewel. Dan begitu keluar rumah, kita langsung disambut antrean lampu merah di perempatan Sunset Road yang panjangnya kayak nunggu kepastian jodoh, lengkap dengan raungan klakson Vario ugal-ugalan.

Transisi dari “kaum rebahan VIP” kembali ke “setelan UMR” ini emang menyakitkan. Transisi inilah yang sering disalahartikan sebagai depresi.

Buat Warga Lokal, H+1 Itu Realita Keras

Kalau argumen depresi ini dibawa ke Bli dan Luh yang real local, ceritanya makin nggak relate. H+1 Nyepi alias Ngembak Geni itu bukan waktunya healing estetik atau meratapi hilangnya bintang.

Ini waktunya manasin sisa lawar babi yang udah agak kering. Waktunya Dharma Santi keliling keluarga. Dan yang paling bikin depresi sungguhan? Mikirin cara nutup dompet yang jebol setelah dipakai beli rentetan banten dan upacara dari Galungan, Kuningan, sampai Pangerupukan. Hampa di hati masih bisa ditahan, hampa di saldo rekening beda ceritanya.

Kesimpulan: Bali Memang Lagi Sumpek Aja

Daripada berlindung di balik istilah psikologi yang terdengar keren, mungkin kita harus berani mengakui satu kebenaran pahit.

Kita nggak sedih karena Nyepi berakhir. Nyepi itu ibarat cermin besar yang sangat bersih. Begitu cerminnya (Nyepi) diangkat, kita dipaksa melihat kembali realita harian di Bali. Dan jujur saja, realita Bali hari ini—macet parah, over-tourism, harga properti gila-gilaan, polusi suara—memang udah makin nggak layak huni buat kewarasan kita.

Jadi, kita nggak kena Post-Nyepi Depression. Kita cuma muak kembali ke rutinitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *