Pernah nggak, pas lagi asyik numis kangkung atau kejebak macet di Canggu, tiba-tiba pikiran khe melayang: “Kle, jangan-jangan gue lahir lagi ke dunia ini karena di kehidupan sebelumnya gue dapet nilai merah ya?”
Konsep reinkarnasi dalam Hindu Bali seringkali digambarkan sebagai lingkaran setan bernama Samsara. Katanya, tujuan akhir itu Moksha—bebas dari lahir dan mati. Jadi, kalau sekarang Khe masih napas, masih cicil motor, dan masih pusing mikirin harga canang, artinya Khe belum lulus. Kita semua ini murid remedial yang harus ngulang kelas di Bumi.
Tapi, bener nggak sih hidup ini se-menderita itu? Atau kita cuma salah baca Terms & Conditions-nya aja?
1. Paradoks Babi Guling: Kenapa Kegagalan Dirayakan?
Kalau kita sepakat lahir itu adalah tanda “gagal Moksha”, logika kita bakal nabrak tembok pas liat tradisi kita sendiri. Bayangkan, ada bayi lahir, kita bikin upacara Tiga Bulanan gede-gedean, potong Babi Guling, undang satu banjar.
Kalau pake logika “Remedial”, harusnya kita semua kumpul buat melayat. “Turut berduka ya, Gung, bayinya gagal Moksha, harus balik lagi ke dunia yang macet ini.” Aneh, kan?
Nyatanya, masyarakat Bali nggak sebodoh itu. Kita merayakan kelahiran karena manusia adalah kasta tertinggi dalam sistem operasional alam semesta. Cuma manusia yang punya “remote control” buat ngerubah nasib jiwanya sendiri. Jadi, perayaan itu bukan buat kegagalannya, tapi buat “tiket emas” yang berhasil didapetin lagi.
2. Dunia Ini Penjara atau Spiritual Gym?
Banyak orang terjebak mindset kalau dunia ini adalah penjara. Dampaknya? Khe jadi benci hidup, malas kerja, dan dikit-dikit pengen “pulang”. Padahal, kitab Sarasamuscaya dengan tegas bilang kalau jadi manusia itu Utama.
Mari kita ganti sudut pandangnya: Dunia bukan penjara, tapi Gym.
- Masalah Hidup: Itu barbelnya. Makin berat, makin kuat otot mental Khe.
- Reinkarnasi: Itu set tambahan. Kalau Khe belum ripped (jiwanya belum bersih), ya tambah satu set lagi sampai bentuknya sempurna.
- Macet & Turis Rese: Itu latihan cardio buat kesabaran.
Tanpa tekanan (beban), jiwa Khe nggak bakal pernah berkembang. Jadi, berhenti ngerasa jadi korban nasib. Khe itu atlet spiritual yang lagi latihan.
3. Jangan “Mabuk” Akhirat Sampai Lupa Tumisan
Sering banget anak muda sekarang kena spiritual bypass. Pusing dikit sama dunia, langsung bahas pelarian ke hal-hal metafisika. Padahal, tugas utama jadi manusia itu ya menjalani kemanusiaannya.
Sadar kalau dunia ini sementara itu perlu banget biar Khe nggak serakah dan nggak gila harta. Tapi kalau sampai benci hidup dan nganggep semua ini nggak guna, itu namanya halu. Tuhan nitipin hidup bukan buat diratapi sambil nunggu mati, tapi buat diperbaiki kualitas karmanya sambil tetep dinikmati—dikit-dikitlah, asal nggak kebablasan.
Lulus atau Kagak, Yang Penting Waras
Jadi, apakah kita murid remedial dalam reinkarnasi hindu Bali? Mungkin iya. Tapi nggak usah minder. Seenggaknya kita remedial di tempat yang pemandangannya bagus kayak Bali, bukan di planet yang isinya cuma gas beracun.
Manfaatin “baju” manusia Khe buat berbuat baik, cari cuan yang halal, dan jangan lupa bahagia. Karena percuma Khe mikirin cara bebas dari Samsara kalau goreng tempe aja masih gosong gara-gara kebanyakan overthinking.
Gimana menurut Khe, Ton? Lebih mending jadi manusia yang “remedial” tapi berguna, atau jadi “suci” tapi nggak napak bumi? Komen di bawah, jangan diem-diem bae kayak patung di simpang siur!