Coba jalan-jalan ke area Canggu, Pererenan, atau masuk ke gang-gang kecil di Ubud. Pemandangan apa yang paling sering Khe lihat? Tembok bata merah khas angkul-angkul Bali, tapi di dalamnya ada kolam renang estetik, bean bag, dan bule lagi sunbathing.
Fenomena rumah Bali berubah jadi villa atau guesthouse ini makin masif. Buat sebagian netizen +62 dan “SJW Budaya”, ini adalah bencana. Kolom komentar sering penuh dengan nyinyiran: “Wah, identitas Bali udah hilang,” atau “Masa tanah pusaka leluhur disewain demi cuan?”
Tapi Ton, mari kita stop meromantisasi penderitaan dan pakai logika dasar. Apakah benar ini pengkhianatan budaya? Atau jangan-jangan, ini murni soal survival?
Realita Pahit: Merawat Rumah Adat Itu Bikin Dompet Menjerit
Gampang banget ngetik komentar pedas sambil rebahan. Tapi, pernah nggak yang nyinyir itu ikut patungan bayar tukang (Undagi)?
Faktanya, membangun dan merawat arsitektur tradisional Bali itu mahal minta ampun. Belum lagi urusan upacara (pancayadnya) dan banten untuk piodalan di Sanggah atau Merajan yang biayanya nggak main-main. Di sisi lain, harga kebutuhan pokok naik, dan pajak bumi (PBB) tiap tahun makin mencekik leher.
Jadi, ketika sebuah keluarga memilih menyulap Bale Daja mereka jadi kamar ber-AC bergaya boho-chic seharga 2 juta per malam, itu bukan karena mereka rakus.
Itu karena tagihan listrik dan biaya sekolah anak nggak bisa dibayar pakai “estetika budaya”.
“Desa, Kala, Patra” dan Survival Mode Warga Lokal
Orang Bali itu sebenarnya punya cheat code peradaban yang jenius banget: Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu, Keadaan). Konsep ini ngajarin kita untuk adaptif dan fleksibel.
Agama dan budaya kita nggak sekaku itu sampai mengharuskan umatnya jatuh miskin demi mempertahankan bentuk fisik bangunan jadul. Sanggah (tempat suci) tetap ada kok di pojok pekarangan, nggak digusur. Mungkin leluhur kita dari alam sana lebih sedih lihat cucunya stres dikejar debt collector pinjol, daripada lihat halaman rumahnya disewa turis asing.
Daripada tanah leluhur dijual putus ke investor luar dan hilang selamanya, dikontrakkan atau dijadikan properti komersial yang dikelola sendiri adalah langkah logis. Setidaknya, sertifikat tanah masih atas nama Wi, Gung, atau Gek.
Ironi Terbesar: Tuan Rumah yang Jadi Anak Kos
Di balik transisi rumah Bali berubah jadi villa ini, ada satu dark comedy yang paling ironis buat anak mudanya.
Tanah pusaka di kampung halaman disewakan mahal ke ekspatriat. Bule-bule asyik minum kelapa muda di teras rumah leluhur kita. Sementara kita—generasi penerusnya—malah harus ngekos di kamar petakan sempit di daerah pinggiran kota karena nggak sanggup beli rumah sendiri di Bali. Kita jadi alien di tanah kelahiran sendiri. Menangis di pojokan sambil makan mie instan akhir bulan.
Gimana Menurut Khe?
Pada akhirnya, pelestarian budaya nggak akan jalan kalau perut masyarakatnya keroncongan. Transformasi ruang fisik ini adalah bentuk evolusi orang Bali berhadapan dengan gempuran kapitalisme pariwisata.