ORASI

Viral Sasih Kaulu 2026: Leluhur Bali ‘Spill’ Badai Duluan daripada BMKG?

Lagi rame banget nih di timeline medsos warga Bali. Sebuah potongan gambar kalender Bali viral karena dianggap sukses memprediksi cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini. Sorotan utamanya tertuju pada periode Sasih Kaulu 2026, tepatnya tanggal 19-31 Januari 2026.

Narasi yang beredar pun bikin geleng-geleng kepala. Banyak yang bilang, “Tuh kan, Kalender Bali sudah kasih peringatan ratusan tahun lalu, BMKG baru warning seminggu kemarin!”

Pertanyaannya, apakah ini cuma cocoklogi netizen atau memang leluhur kita punya teknologi satelit versi gaib? Sebelum Wi dan Gek ikut-ikutan share tanpa baca, mari kita bedah fenomena Sasih Kaulu 2026 ini pakai logika, bukan klenik.

Apa Itu Sasih Kaulu dalam Kalender Bali?

Pertama, kita cek dulu validitas datanya. Berdasarkan sistem penanggalan Bali, tanggal 19 Januari 2026 memang jatuh pada Penanggal 1 Sasih Kaulu.

Sasih Kaulu adalah bulan ke-8 dalam sistem Saka Bali. Secara turun-temurun, bulan ini punya reputasi “seram” di dunia pertanian dan nelayan Bali. Ada pepatah kuno berbunyi: “Kaulu, ujan kadi hulu”. Artinya, di bulan ini hujan akan turun sangat deras seolah-olah ditumpahkan langsung dari hulu atau kepala kita.

Jadi, kalau kalender menyebutkan periode ini identik dengan hujan lebat, angin kencang (ngelinus), dan gelombang tinggi, itu 100% valid secara budaya dan klimatologi. Ini bukan ramalan nomor togel, Ton, tapi siklus alam yang sudah terjadi ribuan tahun.

Leluhur Kita: Data Scientist Zaman Old

Kenapa prediksi Sasih Kaulu 2026 bisa akurat banget sama peringatan cuaca buruk saat ini? Jawabannya sederhana: Statistik.

Leluhur orang Bali nggak pakai bola kristal buat nentuin musim. Mereka menggunakan metode Pattern Recognition (pengenalan pola). Selama berabad-abad, mereka mencatat data: “Oh, ternyata setiap bulan ke-8 setelah Nyepi, angin pasti berputar kencang dan laut pasang.”

Catatan ini kemudian dibakukan menjadi sistem kalender. Jadi, Kalender Bali itu sebenarnya adalah Big Data kearifan lokal. Ini adalah ilmu titen atau klimatologi (ilmu iklim jangka panjang) yang dikemas dengan bahasa tradisi.

Kalender Bali vs BMKG: Jangan Diadu!

Ini poin penting yang sering salah kaprah. Membandingkan peringatan Sasih Kaulu 2026 dengan warning BMKG itu ibarat membandingkan peta kertas dengan CCTV live.

  • Kalender Bali (Sasih Kaulu): Berfungsi sebagai Peta Musim. Ia memberi tahu kita, “Hati-hati, jalan di depan (Bulan Januari-Februari) adalah daerah rawan lubang dan badai.”
  • BMKG (Meteorologi): Berfungsi sebagai Pemantau Real-Time. Ia memberi tahu kita, “Eh, HARI INI ada badai terbentuk di selatan Bali, jangan melaut dulu!”

Keduanya saling melengkapi. Kalender Bali memberi awareness jangka panjang, sedangkan BMKG memberikan detail teknis harian. Bayangkan kalau tiba-tiba ada fenomena El Nino kuat di tahun 2026, bisa jadi Sasih Kaulu malah kering kerontang. Di situlah kita butuh data BMKG yang dinamis.

Kurangi Debat, Perbanyak Siaga

Fenomena viralnya Sasih Kaulu 2026 ini harusnya jadi tamparan buat kita. Leluhur sudah capek-capek bikin sistem peringatan dini lewat nama bulan, tapi kitanya sering abai.

Giliran banjir atau pohon tumbang, baru deh update status “Bali sedang tidak baik-baik saja”. Padahal, alam sudah kasih kode keras lewat kalender yang tergantung di tembok rumah.

Jadi, daripada sibuk memuji kehebatan leluhur di kolom komentar, mending sekarang Wi/Gek lakukan ini:

  1. Cek talang air dan atap rumah, pastikan nggak ada sampah nyangkut.
  2. Pangkas pohon besar yang terlalu rimbun di dekat bangunan.
  3. Kurangi nongkrong di pinggir pantai saat air pasang.

Ingat, Ton. Penjor boleh tinggi menjulang, tapi kalau atap rumah bocor pas Sasih Kaulu, gengsi ikut hanyut terbawa banjir!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *