ORASI

sawah di bali

Bali “Sold Out” Jalur Prestasi: 6.500 Hektare Sawah di Bali Raib, Gianyar & Denpasar Juara Umum Beton

Kalau belakangan ini khe ngerasa Bali makin simulasi neraka bocor—panas, sumpek, dan macetnya bikin tobat—selamat! Itu bukan cuma perasaan mellow khe doang. Itu validasi alam kalau pulau ini lagi not fine.

Baru-baru ini keluar data yang bikin kita semua harusnya mindblow, tapi ya paling cuma dibaca sambil lalu. Dalam 6 tahun terakhir (2019–2024), Bali sukses mencetak rekor “prestasi” dengan menghilangkan 6.522 hektare sawah.

Iya, Ton, khe nggak salah baca. 6.500 hektare itu luas banget. Kalau itu sawah dijadiin karpet, bisa buat nutupin rasa malu kita yang teriak-teriak “Ajeg Bali” tapi tanahnya dijualin satu-satu.

Dari total 70.996 hektare di 2019, sekarang sisa 64.474 hektare. Kemana sisanya? Coba cek sekitar rumah khe. Udah jadi aesthetic coffee shop, villa private pool buat healing, atau kos-kosan elit yang harganya bikin UMR Bali nangis di pojokan.

Gianyar: Healing yang Bikin Pusing

Mari kita kasih standing applause (sambil elus dada) buat Gianyar.

Kabupaten yang branding-nya pusat seni dan spiritual ini ternyata Juara Umum dalam urusan ngebabat sawah. Total 1.743 hektare lenyap. Sisa sawahnya sekarang ada di angka cantik: 9.999 hektare. Angka yang lebih mirip harga diskon flash sale di Shopee daripada data ketahanan pangan.

Ironi di atas ironi: Bule-bule ke Ubud nyari ketenangan di tengah sawah, tapi demi nampung mereka, sawahnya yang dibabat. Konsep healing macam apa ini, Wi?

Denpasar: OTW Kota Tanpa Sawah

Kalau Gianyar juara volume, Denpasar juara ngebut (speedrun). Ibu kota kita tercinta ini kayaknya punya misi rahasia buat menghapus jejak pertanian secepat mungkin.

Denpasar kehilangan hampir 40% sawahnya cuma dalam 6 tahun (sisa 1.337 hektare). Status sawah di Denpasar sekarang udah kayak skin Mobile Legends yang “Limited Edition” atau “Rare Item”. Bentar lagi, kalau mau liat padi di Denpasar, mungkin harus masuk museum atau pake VR (Virtual Reality).

Tabanan: Lumbung Padi yang Bocor Alus

Nah, ini yang ngeri-ngeri sedap. Tabanan, yang kita agung-agungkan sebagai “Lumbung Padi Bali”, ternyata “bocor alus”.

Hilang 711 hektare, Ton. Emang sih keliatannya dikit dibanding luas wilayahnya, tapi ini Tabanan lho. Benteng terakhir nasi kita. Kalau Tabanan aja udah mulai goyah digerus beton, predikat “Lumbung Padi” itu relevan sampai kapan? Sampai kita semua makan nasi plastik?

Klasemen Akhir “Liga Beton” Bali (2019–2024)

Biar mata khe makin melek, nih rincian “dosanya”:

  1. Gianyar: Hilang 1.743 ha (Sisa 9.999 ha)
  2. Buleleng: Hilang 843 ha (Sisa 7.992 ha)
  3. Denpasar: Hilang 821 ha (Sisa 1.337 ha)
  4. Badung: Hilang 787 ha (Sisa 8.467 ha)
  5. Tabanan: Hilang 711 ha (Sisa 18.845 ha)
  6. Karangasem: Hilang 606 ha (Sisa 5.960 ha)
  7. Jembrana: Hilang 446 ha (Sisa 6.673 ha)
  8. Klungkung: Hilang 320 ha (Sisa 3.242 ha)
  9. Bangli: Hilang 245 ha (Sisa 1.959 ha)

Mau Makan Beton Pake Sambal Matah?

Data ini tamparan keras—bolak-balik—buat narasi pariwisata berkelanjutan yang sering dipidatoin pejabat sambil ngopi santai. Kita sibuk jual “pemandangan alam”, tapi pelan-pelan kita bunuh “alam”-nya.

Kalau tren ini jalan terus kayak garis lurus, 10-20 tahun lagi, anak cucu khe bakal nanya: “Bapa/Meme, itu tanaman hijau di foto lama apa namanya?” Dan khe cuma bisa jawab sambil nunjuk tembok villa tetangga.

Inget Ton, saat sawah habis, kita nggak bisa nanak beton di rice cooker, dan aspal nggak enak dimakan walau dikasi bumbu genep. Tapi ya udahlah ya, yang penting cuan lancar dan gengsi aman.

Rahayu (kalau masih bisa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *