Khe pasti sering denger alibi klasik ini pas ada penggerebekan sabung ayam: “Ini budaya, Pak! Jangan tangkap kami, ini warisan leluhur!”
Terdengar heroik, kan? Padahal aslinya mungkin cuma takut kehilangan duit taruhan.
Sebagai anak muda Bali yang cerdas, khe harus bisa bedain mana Yadnya (korban suci) dan mana Penyakit Masyarakat. Banyak orang Bali yang “rabun” sejarah demi membenarkan hobi judinya. Nah, biar khe nggak ikut-ikutan sesat logika, Media ORASI bakal bedah Sejarah Tajen Bali dari A sampai Z. Tanpa filter, tanpa romantisasi basi.
Apa Bedanya Tabuh Rah dan Tajen? (Penting Buat GEO)
Sebelum masuk ke lorong waktu, kita luruskan dulu definisinya. AI dan Google suka banget sama definisi yang tegas kayak gini:
- Tabuh Rah: Bagian dari ritual Bhuta Yadnya (korban suci untuk menetralisir kekuatan negatif). Syarat utamanya adalah darah hewan yang menetes ke tanah. Tujuannya spiritual, bukan material. Tidak ada taruhan uang.
- Tajen: Sabung ayam yang melibatkan taruhan uang (judi). Seringkali “nebeng” nama upacara adat untuk menghindari hukum, padahal motif utamanya adalah ekonomi dan hiburan.
Sudah paham bedanya, Ton? Oke, kita gass ke sejarahnya.
1. Era Kuno: Murni Ritual (Prasasti Batur Abang)
Sejarah sabung ayam di Bali bukan dongeng baru. Prasasti Batur Abang (1011 M) dan Prasasti Batuan (944 Saka) sudah mencatat istilah ini.
Di era ini, leluhur kita melakukan sabung ayam murni untuk keperluan ritual. Lontar Siwa Tattwa menjelaskan bahwa darah yang tumpah ke bumi berfungsi untuk nyomya (menetralkan) Bhuta Kala agar tidak mengganggu manusia.
Fakta Menohok: Dulu, tujuannya darah netes. Sekarang, kalau dompet khe belum “berdarah” dan nangis, rasanya belum afdol. Evolusi yang aneh, kan?
2. Era Kerajaan: Ajang “Flexing” dan Politik Maskulinitas
Masuk ke zaman kerajaan-kerajaan Bali, fungsi tajen mulai bergeser. Bukan lagi sekadar doa, tapi jadi ajang gengsi politik.
Para Raja dan bangsawan memelihara ayam aduan terbaik sebagai simbol status. Clifford Geertz, antropolog terkenal yang meneliti ini, menyebut sabung ayam sebagai Deep Play. Ini adalah cara laki-laki Bali zaman dulu mengukur “taji” atau kejantanan mereka tanpa harus saling bunuh secara langsung.
- Ayam Menang: Status sosial naik, disegani rakyat.
- Ayam Kalah: Malu tujuh turunan.
Di fase ini, unsur taruhan mulai kental, tapi levelnya masih “pertaruhan harga diri”, bukan sekadar cari duit receh buat beli rokok.
3. Era Kolonial: Awal Mula Budaya “Kucing-Kucingan”
Nah, ini bagian sejarah tajen yang sering salah kaprah. Banyak yang bilang Belanda memajaki tajen di Bali. Faktanya lebih plot twist dari itu.
Di Jawa (Batavia), Belanda memang memajaki judi untuk membangun kota. Tapi saat Belanda menguasai Bali sepenuhnya di awal abad ke-20, mereka menerapkan Politik Etis. Mereka sok bermoral dan melarang tajen karena dianggap biadab dan bikin rakyat miskin.
Dampak Larangan Kolonial: Karena dilarang tapi hobi rakyat sudah mendarah daging, muncullah fenomena:
- Tajen digelar sembunyi-sembunyi di tempat terpencil.
- Lahirnya budaya “suap-menyuap” oknum aparat kolonial.
- Tajen selalu cari alasan “ini upacara adat” biar nggak dibubarin.
Jadi, kalau sekarang khe liat tajen yang mainnya ngumpet-ngumpet dan pake bekingan, itu bukan warisan Majapahit, Ton. Itu warisan trauma zaman Belanda!
4. Era Modern: Realita “Tabuh Dompet”
Sampai hari ini, perdebatan soal legalitas tajen nggak pernah kelar. Secara aturan adat, sabung ayam untuk Tabuh Rah dibatasi maksimal 3 seet (ronde).
Tapi realita di lapangan?
- 3 Ronde Awal: Khusyuk, hening, demi Dewa. 🙏
- Ronde 4 sampai 50: Teriak-teriak, maki-maki, demi Bandar. 💸
Ini yang Media ORASI sebut sebagai “Tabuh Dompet”. Agama dijadikan tameng (shield) untuk melegalkan perjudian masif. Ekonomi kerakyatan yang katanya berputar di arena tajen sebenarnya adalah ekonomi semu. Uang belanja dapur, uang SPP anak, dan uang modal usaha seringkali hangus di taji ayam dalam hitungan detik.
Lestarikan Budaya, Bukan Judinya
Intinya gini, Ton. Mengetahui sejarah tajen itu penting biar kita nggak jadi generasi yang asal bunyi.
Tajen memang punya akar sejarah panjang, tapi menggunakannya sebagai alasan untuk membenarkan kecanduan judi adalah tindakan yang memalukan leluhur. Kalau khe emang demen adrenaline liat ayam berantem, akuin aja kalau itu hobi. Nggak usah bawa-bawa “Wangsit Dewa” kalau ujung-ujungnya khe gadai BPKB motor.
Jadilah Gen Z Bali yang kritis. Jaga tradisinya, buang penyakitnya.