Pernah nggak sih kamu merasa kalau Hari Raya Kuningan itu suasananya jauh lebih hectic alias buru-buru dibandingkan Galungan?
Kalau pas Galungan kita bisa santai sembahyang ke pura sampai sore, bahkan malam hari, beda ceritanya dengan Kuningan. Biasanya, para orang tua (nak lingsir) di rumah sudah mewanti-wanti sejak pagi: “De kanti tengai, nak Bhatara gelis budal” (Jangan sampai kesiangan, para Dewa cepat pulang).
Sebenarnya, kenapa sih ada “deadline” waktu sembahyang pas Kuningan? Apakah itu cuma mitos biar kita nggak malas bangun pagi, atau memang ada dasar sastranya? Yuk, kita bedah alasannya.
1. Tamu Agung “Check Out” Tepat Tengah Hari
Dalam kepercayaan Hindu Bali, Hari Raya Kuningan diyakini sebagai momen turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para Dewa, Bhatara, dan roh leluhur (Pitara) ke dunia untuk memberikan berkah dan kemakmuran.
Namun, kunjungan “Tamu Agung” ini durasinya terbatas. Diyakini bahwa para Dewa dan Leluhur hanya berstana di bumi sampai batas waktu Tengai Tepet (tepat tengah hari atau jam 12.00 siang).
Setelah matahari mulai condong ke barat, Beliau semua akan kembali ke Kahyangan (Swargaloka). Jadi, logikanya sederhana: jika kamu menghaturkan banten atau sembahyang lewat jam 12 siang, ibaratnya kamu menyuguhkan hidangan saat tamunya sudah pulang. Persembahanmu mungkin tetap ada, tapi momen sakral pertemuan dengan Leluhur itu sudah lewat.
2. Perubahan Energi Alam: Masuk Fase Pralina
Selain keyakinan tentang pulangnya para Dewa, ada alasan filosofis yang berkaitan dengan siklus energi kosmik.
Waktu dari pagi hari hingga jam 12 siang disebut sebagai masa Utpetti (penciptaan) dan Stiti (pemeliharaan). Di jam-jam inilah energi spiritual alam semesta sedang memancar kuat-kuatnya, sangat cocok untuk memohon anugerah kehidupan.
Namun, begitu jarum jam melewati angka 12 siang, siklus energi berubah memasuki fase Pralina (peleburan/pengembalian). Pada fase ini, pintu spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan alam dewata dianggap mulai tertutup. Energi yang ada bukan lagi untuk “memberi”, melainkan “mengembalikan” segala sesuatu ke asalnya.
Itulah sebabnya, suasana sore hari saat Kuningan seringkali terasa berbeda—lebih hening, sepi, dan magis dibandingkan hari raya lainnya.
3. Bukan Sekadar Mitos, Ada di Lontar
Aturan waktu ini bukan sekadar gugon tuwon (omongan turun-temurun tanpa dasar). Hal ini tersurat dalam sastra agama, salah satunya Lontar Sundarigama.
Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa persembahan (terutama banten) pada hari Kuningan hendaknya dihaturkan saat matahari sedang naik hingga tepat di atas kepala.
“Janganlah melakukan persembahyangan lewat tengah hari, karena pada saat itu para Dewa, Bhatara, dan Pitara telah kembali ke stana-Nya masing-masing.”
Jadi, tradisi sembahyang “ngebut” di pagi hari saat Kuningan itu adalah bentuk disiplin spiritual kita. Ini adalah momen untuk menghargai waktu dan menghormati “Tamu Agung” kita sebelum Beliau kembali ke asalnya.
Lagi pula, Kuningan berasal dari kata Kauningan yang artinya mencapai keunggulan atau kemakmuran. Masa iya mau minta makmur tapi bangunnya kesiangan?
Jadi buat Semeton Mediaorasi, Kuningan nanti jangan begadang ya, biar paginya bisa gaspol sembahyang sebelum “loket” ditutup!
Rahajeng Rahina Kuningan!