ORASI

Tahun Baru 2026

Tahun Baru 2026: Terompet Udah Mau Bunyi, Tapi Alarm Bahaya Malah Kita Matiin

Jalanan macet, villa-villa di Canggu sampai Ubud full booked, dan suara petasan mulai saut-sautan. Semua orang sibuk bikin caption “Page 365 of 365” dengan foto senyum lebar, seolah-olah tahun 2025 ini mulus kayak jalan tol baru.

Tapi sori nih, Ton. Kami di Media ORASI nggak mau ikut-ikutan amnesia.

Kita nggak lupa sama bulan September kemarin. Pas kalian batal healing karena terjebak macet di tengah genangan air coklat. Pas DM Instagram kami meledak isinya video garasi rumah yang berubah jadi kolam lele.

Di momen itulah Media ORASI lahir. Bukan dari ruang redaksi ber-AC dingin, tapi dari kegelisahan melihat Bali yang makin “sakit” tapi dipaksa tetap senyum buat turis.

Banjir September 2025 itu bukan musibah numpang lewat. Itu adalah “Grand Launching” dari kebobrokan sistem yang sudah kita tumpuk bertahun-tahun. Dan sialnya, fakta-fakta yang terungkap barengan sama surutnya air itu, beneran bikin mual.

Mari kita recap dosa kita sebelum kita sok suci di tahun 2026.

1. DAS Ayung Sisa 3%: Paru-Paru Kita Udah Dijual

Fakta paling ngeri yang terungkap pas banjir kemarin: Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung—yang harusnya jadi benteng terakhir penahan air—sekarang cuma sisa 3%.

Tiga persen, Wi! Baterai HP kalau sisa segitu udah merah kedip-kedip panik. Tapi kita santai aja. Sisanya ke mana? Coba cek bantaran sungai favorit kalian. Udah jadi infinity pool, restoran jungle view, atau villa privat yang iklannya “menyatu dengan alam” (padahal merusak alam).

Kita maksa sungai buat diet ketat demi beton, giliran dia muntah (banjir), kita teriak “Alam sedang tidak bersahabat.” Lawak.

2. Provinsi Sultan, Mental Sumbangan

Ini yang paling “agak laen”. Bali itu lumbung devisa. Pajak Hotel dan Restoran (PHR) di Badung & Denpasar itu triliunan. Kita bisa bakar duit buat pesta kembang api, bikin patung yang tiap lima tahun ganti, atau event seremonial nggak jelas.

Tapi pas banjir melanda dan butuh dana darurat? Kas Daerah mendadak kosong. Solusinya apa? Minta sumbangan ke Guru dan PNS.

Bayangin, Guru Oemar Bakrie yang gajinya pas-pasan diminta urunan buat nambal kegagalan pemerintah mengelola anggaran mitigasi. Ini bukan gotong royong, ini gaslighting birokrasi. Duit pajaknya ke mana, Bos? Hanyut?

3. Tata Ruang Cuma “Saran”, Bukan Aturan

September kemarin menampar kita dengan realita: Peta Jalur Hijau di Bali itu cuma hiasan dinding.

Di kertas warnanya hijau (sawah/resapan), di lapangan warnanya abu-abu (beton). Izin pembangunan diobral kayak kacang goreng. Investor datang bawa duit, aturan tata ruang langsung sungkem minggir.

Dampaknya? Air hujan yang dulu punya rumah di tanah serapan, sekarang jadi gelandangan di aspal jalan raya.

4. Drainase atau Tempat Sampah?

Jangan cuma salahin pemerintah. Kita juga bagian dari masalahnya. Pas banjir surut, apa yang nyangkut di gorong-gorong?

Botol boba, plastik canang, kresek belanjaan, sampai gulungan kabel fiber optik yang lebih ruwet dari kisah asmara Gen Z. Drainase kita udah nggak berfungsi ngalirin air, tapi cuma jadi “gudang sampah bawah tanah”.

Resolusi 2026: Jangan Bebal (Lagi)

Jadi, sambil kalian nunggu jam 12 malam nanti, coba renungi dikit. Apakah tahun 2026 kita cuma bakal ganti kalender, atau ganti mindset?

Kalau kita masih diem aja lihat sawah dibeton, masih buang sampah sembarangan, dan masih milih pemimpin yang cuma jago bikin gimmick tapi nol besar soal lingkungan… ya siap-siap aja.

Tahun depan, mungkin kita nggak butuh sepatu baru. Kita butuh perahu karet.

Selamat Tahun Baru 2026. Semoga kita nggak mati konyol ditelan keserakahan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *