ORASI

Tingkat Kegemaran Membaca Bali

Tingkat Kegemaran Membaca Bali Jeblok ke Peringkat 12: Sibuk Healing, Lupa Reading?

Bali boleh saja menyandang gelar destinasi wisata terbaik dunia. Namun, untuk urusan literasi, kita harus menelan pil pahit. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dan Perpustakaan Nasional, Tingkat Kegemaran Membaca Bali terlempar dari 10 besar nasional. Kita “nyangkut” di peringkat 12 dengan skor 71,97, kalah telak dari DI Yogyakarta yang nyaman di posisi puncak.

Apakah ini tanda bahwa anak muda Bali lebih sibuk healing dan scrolling daripada reading? Mari kita bedah datanya tanpa baper.

Fakta Data: Bali Kalah dari Kaltara

Bagi khe yang selama ini merasa Bali adalah pusat peradaban yang maju, coba lihat tabel di bawah ini. Skor Tingkat Kegemaran Membaca Bali (TGM) bahkan berada di bawah provinsi baru seperti Kalimantan Utara (Kaltara).

Berikut adalah posisi 10 besar plus posisi Bali (Data BPS/Perpusnas Publikasi 2024/2025):

  1. DI Yogyakarta: 79,99 (Sangat Tinggi)
  2. Kep. Bangka Belitung: 77,47
  3. Jawa Timur: 77,15
  4. Jawa Barat: 75,07
  5. Kalimantan Selatan: 74,63 …
  6. Kalimantan Utara: 72,80 …
  7. DKI Jakarta: 72,19
  8. BALI: 71,97 (Sedang)

Angka 71,97 menempatkan Bali dalam kategori “Sedang”. Artinya? Kita medioker, Ton. Kita 11-12 dengan Jakarta yang skornya 72,19. Ada korelasi unik di sini: semakin banyak coffee shop aesthetic dan tempat nongkrong di suatu provinsi, sepertinya semakin rendah minat warganya untuk membuka buku.

Kenapa Literasi di Bali Rendah?

Malu dong sama turis yang jemuran di Pantai Kuta sambil baca novel tebal, sementara kita di sebelahnya cuma scroll video jedag-jedug. Ada beberapa alasan “nakal” kenapa tingkat kegemaran membaca Bali sulit naik kelas:

1. Budaya Visual vs Tekstual

Anak muda Bali dimanjakan oleh visual. Alam yang indah, upacara adat yang colorful, dan serbuan konten pariwisata membuat otak kita terbiasa “menonton”, bukan “membaca”. Kita lebih cepat menangkap informasi lewat Story 15 detik daripada artikel berita 500 kata. Akibatnya? Daya tahan baca (reading endurance) kita lemah.

2. Mental “Sing Ken Ken” dalam Mencari Tahu

Budaya lisan kita sangat kuat. Kalau tidak tahu, kita lebih suka bertanya (“Niki napi, Wi?”) daripada mencari tahu sendiri lewat literatur. Di era digital, kebiasaan ini berbahaya. Malas membaca dan verifikasi data membuat warga Bali rentan termakan isu provokatif di grup WhatsApp keluarga.

3. Fasilitas ‘Healing’ Lebih Laku dari Perpustakaan

Coba bandingkan keramaian di Beach Club Canggu dengan Perpustakaan Daerah di Renon. Jomplang, kan? Di Jogja (DIY), ekosistem kotanya mendukung diskusi dan bedah buku. Di Bali, ekosistemnya mendukung party dan adu outfit. Wajar kalau skor literasi DIY jauh di atas kita.

Dampak Fatal Malas Baca bagi Gen Z Bali

Masalah tingkat kegemaran membaca Bali yang rendah ini bukan sekadar angka statistik. Efek dominonya nyata di lapangan:

  • Mudah Kena Tipu: Minim literasi finansial dan hukum (karena malas baca kontrak/aturan) bikin banyak semeton terjebak investasi bodong atau sengketa tanah.
  • Bangsa “Katanya”: Debat kusir di media sosial hanya bermodal emosi tanpa data valid.
  • Kalah Saing di Rumah Sendiri: Saat investor asing masuk dengan proposal tebal dan data riset, kita cuma bisa melongo karena gak paham isinya. Akhirnya? Kita cuma jadi penonton di tanah sendiri.

Solusi: Kurangi Fomo, Mulai Baca Buku

Tahun 2026 ini, mari ubah mindset. Jangan cuma bangga jadi “Anak Senja” atau “Anak Skena” kalau isi kepalanya kosong.

Meningkatkan tingkat kegemaran membaca Bali gak harus langsung baca ensiklopedia. Mulailah dari hal kecil:

  1. Baca artikel berita sampai habis, jangan cuma judul.
  2. Verifikasi informasi sebelum share.
  3. Sisihkan uang nongkrong buat beli satu buku fisik bulan ini.

Ingat Ton, pariwisata bisa pasang surut, tapi isi kepala adalah investasi yang gak bakal rugi. Yuk, buktikan kalau Bali gak cuma punya sunset, tapi juga punya mindset!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *