ORASI

Triple Roles Perempuan Bali: Emansipasi atau Jebakan ‘Romusha’ Gaya Baru?

Pernah gak sih kalian denger temen atau saudara dipuji, “Wah, hebat ya Istri Bli, bisa kerja kantoran, ngurus rumah bersih, ngayah di banjar juga rajin!”? Sekilas, itu terdengar kayak pujian buat Triple Roles Perempuan Bali yang tangguh. Tapi kalau dibedah lagi, itu sebenernya pujian atau gaslighting supaya mereka tetep mau kerja rodi tanpa protes?.

Emansipasi wanita yang diperjuangin R.A. Kartini dulu tujuannya biar perempuan punya hak mikir dan belajar, bukan biar perempuan mati berdiri karena kelelahan. Di artikel ini, kita bakal bedah kenapa fenomena “Wonder Woman” ini sebenernya bahaya.

Apa Itu Triple Roles?

Sebelum debat kusir, kita samain persepsi dulu. Triple Roles adalah kondisi di mana perempuan menanggung tiga beban peran sekaligus:

  1. Peran Publik: Bekerja mencari nafkah (karir).
  2. Peran Domestik: Mengurus rumah tangga, anak, dan suami.
  3. Peran Sosial/Adat: Kewajiban bermasyarakat atau adat (ngayah).

Masalahnya, akses perempuan ke ruang publik (kerja) udah dibuka lebar, tapi struktur domestiknya gak berubah. Perempuan boleh cari duit, tapi urusan dapur tetep dianggap “kodrat” mereka. Akibatnya? Perempuan harus multitasking gila-gilaan, sementara banyak laki-laki tetep santai di satu peran aja.

The Second Shift & Mitos Ibuisme Negara

Fenomena ini bukan cuma perasaan kita doang, Ton. Sosiolog Arlie Hochschild nyebut ini sebagai The Second Shift. Bayangin, abis kerja 8 jam di kantor (First Shift), perempuan pulang ke rumah buat lanjut kerja shift kedua: nyuci, masak, ngasuh anak—tanpa gaji, tanpa uang lembur, dan tanpa pengakuan.

Di Indonesia, kondisi ini makin parah karena warisan Orde Baru yang disebut Julia Suryakusuma sebagai Ibuisme Negara. Konsepnya licik: perempuan didorong aktif di masyarakat, tapi tetep dibingkai sebagai “pendamping suami”. Jadi boleh aktif, asal jangan otonom alias jangan berkuasa penuh.

Realita Pahit di Bali: “Nyen Ngorin Lekad Dadi Nak Luh?

Khusus di Bali, pola ini kelihatan jelas banget. Seringkali penindasan ini dilindungi oleh satu kalimat sakti yang bikin sakit hati: “Nyen ngorin lekad dadi nak luh” (Siapa suruh lahir jadi perempuan).

Ini bahaya banget. Triple roles di sini seringkali bukan tanda kebebasan, melainkan “kelelahan yang dilegalkan”. Perempuan Bali seringkali ngerasa gak punya pilihan karena takut dibilang melawan adat atau kodrat. Padahal, sistem patrilineal ataupun patriarki gak pernah ngajarin kalau laki-laki harus jadi penguasa yang ngebiarin perempuannya menderita.

Emansipasi vs Eksploitasi: Di Mana Bedanya?

Jadi, apakah perempuan gak boleh hebat? Boleh banget. Tapi harus dibedain mana emansipasi, mana eksploitasi. Menurut Nitta Praba dalam Media Orasi x NiLuhNiTalks, Triple Roles baru bisa disebut emansipasi kalau memenuhi syarat ini:

  • Pilihan Sadar: Peran diambil karena keinginan sendiri, bukan karena tekanan norma atau paksaan.
  • Pembagian Adil: Urusan domestik dibagi rata, bukan diwariskan sepihak ke istri.
  • Pengakuan Nilai: Kerja mengasuh dan merawat diakui nilainya, bukan dianggap kewajiban alamiah gratisan.

Kalau syarat di atas gak terpenuhi, yang terjadi cuma patriarki dengan wajah baru yang lebih sadis. Bukan lagi ngelarang perempuan keluar rumah, tapi membiarkan perempuan lelah sendirian di luar dan di dalam rumah.

Kita Tidak Melawan Sistem, Tapi Membenahi Praktik

Penting buat dicatet: Kita gak lagi mau ngeruntuhin sistem budaya Bali atau melawan patriarki secara membabi buta. Kita sadar kok kita hidup di sistem patrilineal.

Yang kita lawan adalah implementasinya yang cacat. Budaya itu harusnya melindungi, bukan menindas. Jangan sampai budaya Bali bertahan cuma di atas keringat dan air mata perempuan. Emansipasi itu bukan soal sanggup melakukan semuanya sendirian, tapi soal hak memilih dan adanya sistem yang menopang pilihan itu.

Stop Cuma Memuji!

Buat para lelaki, berhenti cuma ngasih pujian kosong. Perempuan yang benar-benar bebas bukan yang paling kuat nahan beban, tapi yang tidak dipaksa memikul beban itu sendirian.

Jadi, daripada muji istrimu “Wonder Woman”, mending ambil sapu dan bantuin nyapu. Itu baru laki!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *