ORASI

Yadnya Berhutang

Yadnya Berhutang: Ketika “Mental Peace” Jadi Tumbal di Atas Dulang

on, ngaku deh. Menjelang hari raya kayak Galungan atau mau ada upacara Manusa Yadnya (kayak Ngaben atau Tiga Bulanan), apa yang pertama kali muncul di kepala? Rasa syukur yang meluap-luap, atau rasa pusing mikirin saldo rekening yang kembang kempis?

Kalau jawaban Khe yang kedua, selamat datang di klub mayoritas.

Fenomena Yadnya berhutang di Bali itu kayak rahasia umum. Di depan penyengker (tembok rumah) kita kelihatan religius, tapi di belakang layar, aplikasi pinjaman online atau LPD jadi penyelamat. Pertanyaannya: emang boleh Yadnya hasil ngutang? Sah nggak sih di mata Tuhan? Atau jangan-jangan kita cuma lagi “cosplay” jadi orang kaya?

Mari kita bedah pake logika, bukan pake perasaan.

Gengsi (Rajas) vs Kebodohan (Tamas): Kamu di Posisi Mana?

Selama ini kita sering denger kalau orang ngutang buat upacara itu karena gengsi. Dalam istilah agama, ini disebut sifat Rajas (nafsu/ego/dinamis).

“Malu dong sama tetangga kalau bantennya kecil.” “Masak soroh kasta A upacaranya biasa aja?”

Kalau motif Khe adalah gengsi, itu emang masalah. Tapi, ada yang jauh lebih bahaya daripada gengsi, yaitu Tamas (kegelapan/kebodohan/kemalasan).

Menurut pandangan kritis (termasuk insight dari Dr. Ravinjay), banyak orang Bali ngutang bukan karena mau pamer, tapi karena tidak tahu dan asal nurut.

  • “Disuruh Jero Mangku harus gini…”
  • “Kata penglingsir biayanya segini…”
  • “Kata serati bantennya harus tingkatan utama…”

Karena nggak paham esensinya, Khe cuma bisa manggut-manggut, lalu nekat ambil kredit kur. Ini adalah definisi Tamas Polll. Kita melakukan sesuatu tanpa ilmu, didikte orang lain, dan akhirnya menyengsarakan diri sendiri.

Memahami Posisi ‘Yajamana’: Jangan Cuma Jadi Sapi Perah

Biar Khe nggak terjebak dalam Yadnya berhutang yang sia-sia, pahami dulu struktur “Event Organizer” dalam ritual Hindu. Ada tiga komponen penting:

  1. Serati: Tukang banten/arsitek ritual (Vendor).
  2. Purohita: Sulinggih/Pemangku yang mengantarkan doa (Provider Sinyal).
  3. Yajamana: Orang yang punya gawe, punya niat, dan membiayai (Sponsor Utama).

Nah, posisi Khe itu adalah Yajamana.

Hukum alamnya begini: Pahala (Punya) dari sebuah Yadnya itu mengalir ke Yajamana karena dialah yang mengeluarkan energi (usaha/biaya) dan niat.

Logika Energinya di Mana?

Sekarang coba pake logika warung kopi. Yadnya = Pengorbanan Energi. Uang = Energi yang sudah kita kumpulkan dari hasil kerja keras.

Kalau Khe jadi Yajamana tapi uangnya hasil minjem (hutang), berarti uang itu secara energi belum jadi milik Khe. Khe belum “membeli” energi itu dengan keringat atau usaha.

Jadi, apa yang Khe korbankan di atas dulang itu? Kosong. Bantennya beli, uangnya punya bank. Terus Khe ngapain? Cuma jadi perantara doang?

“Kalau kita minjem, berarti kita belum bayar dong untuk yadnya-nya. Berarti kita belum berusaha untuk uangnya. Jadi kita korbankan apa pas yadnya? Mental peace kita sendiri dong.”

Bahaya “Tamas”: Yadnya Jadi Beban, Bukan Pembebasan

Ini bagian paling dark-nya, Ton.

Tujuan Yadnya itu membebaskan (Mokshartam Jagadhita). Bikin hati tenang, damai, dan happy. Tapi kalau Khe melakukan Yadnya berhutang karena sifat Tamas (asal nurut tanpa nanya), yang terjadi malah sebaliknya.

Upacara selesai, asep dupa ilang, yang sisa cuma asep dapur yang nggak bisa ngebul karena gaji habis buat nyicil utang. Itu bukan Dewa Yadnya, itu Debt Collector Yadnya.

Melakukan ritual demi melakukan ritual, tanpa tau artinya, malah bikin hal yang suci jadi beban hidup. Tuhan Maha Tahu, Ton. Beliau nggak butuh kita bangkrut biar kelihatan berbakti.

Tips Jadi Yajamana Cerdas (Anti Boncos)

Terus solusinya gimana? Masa nggak meyadnya? Tenang, Gung, Gek. Tuhan itu simple, manusianya yang ribet.

  1. Ukur Baju di Badan Sendiri: Jangan paksa pake Yadnya Utama kalau dompet masih Nista. Sattwika Yadnya (yadnya yang berkualitas) itu diukur dari ketulusan, bukan ketinggian banten.
  2. Berani Nanya (Kritis): Kalau ada tokoh/serati yang nyuruh bikin upacara mahal, tanya: “Maknanya apa? Wajib nggak? Ada opsi yang lebih sederhana nggak?” Kalau mereka marah ditanya gitu, berarti mereka yang nggak paham.
  3. Prioritaskan Lunasi Hutang Rna: Kita punya utang sama leluhur (Pitra Rna), tapi jangan gali lubang utang baru di bank (Rupiah Rna) yang bikin stres.

Stop normalisasi Yadnya berhutang. Jadilah Yajamana yang sadar, bukan robot ritual. Kalau emang belum mampu, Tuhan pasti ngerti kok. Yang nggak ngerti itu biasanya cuma tetangga yang hobi gosip dan gengsi kita sendiri.

Mending banten alit tapi tidur nyenyak, daripada banten agung tapi dikejar bunga bank. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *