Tiap Hari Raya Saraswati datang, timeline Instagram pasti penuh dengan foto tumpukan buku, laptop, sampai pulpen yang dijejer rapi di bawah banten. Caption-nya standar dan seragam: “Rahajeng Rahina Saraswati”. Tapi jujur aja, Ton, seberapa sering kamu beneran baca buku-buku itu setelah bantennya diangkat?
Sebagian besar dari kita terjebak dalam romantisme Saraswati sebagai “harinya ilmu pengetahuan”, tapi lupa mencari tahu akar sejarahnya. Fakta mengejutkannya, Lontar Saraswati yang asli ternyata membahas sesuatu yang jauh lebih mind-blowing daripada sekadar ritual tahunan pemujaan dewi berparas cantik. Siap-siap, karena isinya beda server banget sama apa yang dijejalkan di bangku sekolah.
Mengungkap Isi Asli Lontar Tutur Aji Saraswati
Kalau kamu kira isi Lontar Saraswati adalah kumpulan mantra untuk memuja dewi cantik yang main kecapi, kamu salah besar, Wi. Teks kuno yang bernama Tutur Aji Saraswati ini ditulis oleh intelektual Bali, Ida Bagus Made Jlantik, pada tahun 1922.
Alih-alih membahas wujud fisik Sang Dewi, naskah ini berfokus murni pada konsep Sabda atau suara. Jauh sebelum ilmuwan Barat ribut soal frekuensi dan quantum physics, leluhur kita sudah mencatat bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berawal dari suara. Aksara bukanlah sekadar alat tulis, melainkan sumber kehidupan. Tanpa bahasa dan aksara, dunia ini gelap total.
Aksara Suci: Software di Dalam Tubuhmu
Ini bagian yang paling dark sekaligus keren. Di dalam naskah kuno tersebut, dijelaskan secara gamblang bahwa setiap aksara suci memiliki posisi atau titik koordinat khusus di dalam tubuh manusia. Mulai dari pernapasan, detak jantung, hingga isi kepala.
Oleh karena itu, bayangkan tubuhmu itu layaknya sebuah hardware, sementara aksara adalah software-nya. Saat kamu belajar atau melafalkan aksara, kamu sebenarnya tidak sekadar menghafal, tapi sedang meng-update sistem di dalam dirimu sendiri. Tubuhmu adalah miniatur alam semesta. Sayangnya, konsep level dewa ini jarang sekali dibahas di tongkrongan.
Ironi dan Realita Pahit di Balik Banten
Di sisi lain, ada realita pahit di balik warisan intelektual ini, Gek. Saat kita sibuk adu estetik banten Saraswati di media sosial, lontar aslinya justru sedang bertarung melawan waktu. Saat ini, ribuan naskah kuno bertumpuk di Gedong Kirtya, Singaraja.
Jumlah ahli yang mampu menerjemahkannya sangat minim. Ratusan teks antre untuk dialihbahasakan dan perlahan hancur dimakan usia. Ironis kan? Di hari yang katanya merayakan ilmu pengetahuan, sumber ilmunya malah lapuk dibiarkan begitu saja.
Banten Boleh Elit, Literasi Jangan Sulit
Pada akhirnya, Lontar Saraswati dengan tegas mengingatkan: “Tanpa bahasa, tidak ada pengetahuan. Tanpa pengetahuan, manusia gelap.” Jadi, sudah waktunya kita berhenti sekadar menjadikan momen ini sebagai ajang pamer aesthetic.
Mulai sekarang, jadikan Saraswati sebagai pengingat untuk benar-benar membaca dan membedah isi buku. Jangan sampai bantennya tinggi menjulang, tapi literasi kita makin tiarap. Setuju nggak, Ton?




