ORASI

Tradisi Mebat Paskah di Bali: Toleransi Nyata atau Cuma Numpang Makan?

Setiap kali long weekend tiba, timeline pasti penuh sama foto-foto estetik. Apalagi kalau menjelang hari raya. Di Bali, momen Jumat Agung dan Paskah bukan cuma urusan ibadah di gereja, tapi juga soal perut dan kumpul banjar. Salah satu hal yang paling sering dielu-elukan masyarakat adalah Tradisi Mebat Paskah di Bali.

Tanya saja sama tetangga atau Googling sebentar. Pasti narasinya selalu indah: “Umat Kristen dan Hindu di Bali bergotong royong mencincang daging dan meracik bumbu genep bersama-sama.” Keren? Banget. Di atas kertas, ini adalah puncak toleransi yang bikin umat provinsi lain iri.

Tapi, mari kita turun sedikit dari awan romantisisme itu dan melihat realita di lapangan. Pertanyaannya sekarang: Berapa banyak dari kita yang benar-benar menjaga tradisi ini pakai keringat sendiri?

Gereja Rasa Banjar: Estetika Toleransi di Atas Kertas

Pemandangan menjelang Paskah di kantong-kantong umat Kristen Bali seperti Palasari atau Blimbingsari memang beda. Gereja dengan arsitektur perpaduan gotik dan ukiran Bali, jemaat yang datang pakai udeng dan kamen, hingga kesibukan memotong babi di belakang gereja. Suasananya serasa lagi siap-siap odalan di banjar.

Secara historis, tradisi Mebat Paskah di Bali ini terbentuk dari proses akulturasi yang panjang. Nenek moyang kita sadar, cara paling gampang menyatukan perbedaan dogma adalah lewat makanan. Ketika umat lintas agama duduk bareng bikin lawar dan urutan, nggak ada lagi yang peduli soal perbedaan tata cara doa.

Namun, seiring berjalannya waktu, esensi keringat bersama ini mulai mengalami pergeseran. Terutama sejak generasi kita, Gen Z dan Millennial, mulai ambil alih (atau tepatnya, mulai menghindar dari) urusan dapur.

Ketika “Bumbu Genep” Kalah Sama “Vendor Katering”

Ini fakta pahitnya, Ton. Mebat itu capek. Butuh skill tingkat dewa buat memastikan babi yang dipotong bersih, daging yang dicincang halus, dan racikan bumbu genep yang pas di lidah satu RT. Butuh komitmen untuk bangun jam 5 pagi dan rela tangan bau bawang sampai sore.

Generasi kita? Lebih mendewakan kepraktisan dan work-life balance. Akibatnya, tugas kotor-kotoran ini akhirnya cuma jadi monopoli bapak-bapak Boomer atau Gen X.

Gen Z dan Ilusi Tradisi Mebat Paskah di Bali

Banyak dari kita yang sangat vokal menyuarakan soal indahnya toleransi di Bali lewat Instastory. Tapi, kontribusi nyatanya nol besar. Kita baru muncul di lokasi jam 11 siang pas babi gulingnya sudah dipotong-potong dan lawarnya siap saji.

Setelah itu, foto piring yang estetik, upload ke Instagram pakai caption: “Indahnya toleransi di Bali ✨”, lalu makan sampai kenyang.

Kalau kelakuan ini diteruskan, narasi soal toleransi Mebat Paskah di Bali kelak cuma jadi “ilusi”. Kita terjebak dalam kebanggaan kosong. Bangga dengan tradisi leluhur, tapi malas melanjutkannya karena outsourcing ke vendor prasmanan lokal terasa jauh lebih mudah.

Menyelamatkan Esensi Gotong Royong (Atau Minimal Tahu Diri)

Gue nggak bilang pesen katering itu dosa. Di era di mana semua orang sibuk kejar target dan nge-grab cuan, efisiensi waktu itu penting. Tapi, kalau kita mau terus-terusan mengklaim bahwa Bali adalah surga toleransi yang hidup berdampingan lewat tradisi mebat, ya harus ada effort dong, Khe.

Paskah itu esensinya pengorbanan. Yesus saja rela berkorban di kayu salib. Masak Wi, Gung, Gek, dan Luh nggak rela berkorban waktu tidur buat sekadar bantu orang tua ngiris sayur di dapur?

Tahun ini, coba kurangi sedikit porsi pamer di media sosial. Kalau memang nggak bisa bantu masak karena saking sibuknya (atau saking nggak bisanya), minimal bantu cuci piring setelah acara selesai. Jangan cuma jadi freeloader toleransi berkedok pelestari budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *