Skip to main content

ORASI

7 dari 10 Perempuan Bali Bekerja: Murni Emansipasi atau Gaji Suami Kurang?

Kita sering banget dengar pujian soal betapa rajinnya perempuan Bali. Bangga rasanya melihat Gek dan Luh makin mandiri dan punya karir sendiri. Apalagi kalau lihat datanya.

Pada Agustus 2025, tingkat partisipasi kerja perempuan Bali menembus angka 70,84%. Artinya, sekitar 7 dari 10 perempuan usia kerja di Bali itu aktif bekerja atau sedang cari kerja. Ini narasi yang gampang banget bikin kita teriak, “Independent woman!” Tapi, mari kita bedah angkanya pelan-pelan.

Plot Twist di Balik Narasi Emansipasi

Struktur ekonomi Bali memang beda. Ekonomi kita sangat bergantung pada sektor akomodasi dan makan-minum. Sektor ini nyumbang sekitar 22,1% buat ekonomi Bali di akhir triwulan IV 2025. Ekosistem pariwisata ini jelas buka banyak pintu buat perempuan.

Tapi dari sekitar 1,224 juta perempuan Bali yang bekerja pada 2024, nggak semuanya duduk manis di ruang ber-AC. Kekuatan utama pekerja perempuan Bali justru ada di usaha sendiri, usaha keluarga, dan pekerjaan informal.

Dan ini bagian paling plot twist. Ada hampir 248 ribu perempuan Bali yang secara statistik tercatat bekerja sebagai pekerja keluarga atau tidak dibayar.

Bekerja, Tapi Nggak Pegang Uang?

Coba bayangin skenario ini. Suami punya usaha, lalu istri ikut jaga atau bantu usaha tersebut. Usaha itu pada akhirnya menghasilkan pendapatan untuk keluarga.

Secara statistik, si istri dicatat sebagai pekerja. Tapi apakah dia punya kontrol atas pendapatannya sendiri? Belum tentu. Jadi, angka yang tinggi itu nunjukin kalau perempuan aktif secara ekonomi.

Bukan otomatis nunjukin gaji mereka besar, pembagian kerja setara, atau kesejahteraannya tinggi.

Beban Ganda dan Realita Keseharian

Ini makin kompleks kalau kita ngomongin realita sehari-hari.

Sebuah kajian di Denpasar ngebahas fenomena double burden atau beban ganda. Perempuan masuk dunia kerja, tapi tanggung jawab domestik nggak ikut berkurang. Di Bali, lapisannya nambah satu lagi: kewajiban sosial-adat.

Pagi ngantor, sore ngurus rumah, akhir pekan sibuk ngayah. Mandiri secara ekonomi sih iya, tapi capeknya borongan.

Jadi, Kerja Karena Ingin atau Perlu?

Pada akhirnya, kita harus realistis melihat isi dompet. Penelitian dari Universitas Udayana menemukan kalau perempuan menikah adalah bagian penting dari aktivitas ekonomi rumah tangga. Mereka justru banyak masuk ke sektor informal biar jadwalnya fleksibel. Bisa jualan online atau jaga warung sambil tetap urus urusan domestik. Ini ngebawa kita ke sebuah pertanyaan krusial. Bisa jadi, tingginya angka perempuan Bali bekerja memang bukti bahwa kesempatan ekonomi makin terbuka.

Tapi di saat yang sama, ini juga sinyal keras. Pendapatan perempuan sekarang makin krusial buat menopang ekonomi keluarga. Mungkin pertanyaannya bukan lagi kenapa perempuan Bali harus kerja keras. Tapi seberapa berat ekonomi sebuah keluarga kalau cuma ngandelin satu pencari nafkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *