ORASI

Wacana Gedung 45 Meter di Bali: Nyelamatin Sawah atau Nyicil Kiamat Ekologi?

Selama lebih dari setengah abad, kita orang Bali hidup dengan satu dogma tata ruang yang paling undebatable: “Bangunan nggak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa” alias mentok di 15 meter. Aturan ini udah saklek, menjaga keseimbangan alam, budaya, dan mata kita dari pemandangan yang bikin sumpek.

Tapi, tiba-tiba di bulan April kemarin, DPRD melempar wacana gedung 45 meter di Bali untuk zona-zona tertentu. Pertanyaannya: pohon kelapa jenis apa yang tingginya 45 meter? Kelapa sawit mutan bekas radiasi nuklir?

Dalih di balik ide “brilian” ini katanya sih mulia banget: demi menyelamatkan lahan sawah yang makin habis dicaplok vila. Tapi tunggu dulu. Sebelum kita tepuk tangan dan kasih piala ke para pemangku kebijakan, mari kita bedah betapa cacatnya logika tata ruang ini. Bahkan lulusan terbaik Unud pun bakal garuk-garuk kepala ngelihat logical fallacy di balik wacana ini.

Logika “Hemat Lahan” yang Pantes Dapet Nobel (Sarkasme)

Kubu pro sangat yakin dengan argumen ini: “Daripada pariwisata ngelebar terus ke samping dan ngebeton sawah di Tabanan atau Gianyar, mending kita kasih mereka izin bangun ke atas di Nusa Dua!”

Wah, sounds smart, right? Seolah-olah dengan ngasih izin menara vertikal, ekskavator di utara bakal otomatis berhenti.

Realitanya, kapitalisme itu nggak kenal kata “substitusi” atau ganti-gantian. Kalau wacana gedung 45 meter di Bali ini beneran tembus, investor bakal senyum lebar. Mereka bakal bangun hotel pencakar langit di selatan buat ngejar mass tourism, sementara bos yang lain akan tetap ngebabat sawah terasering di utara buat bikin private villa dengan embel-embel “healing spot”. Double kill, Khe! Langit selatan isinya beton, sawah utara isinya kolam renang bule.

Estetika Asta Kosala Kosali vs Realita Mandi Air Asin

Di sisi lain, kubu yang kontra juga kadang ngomelnya kurang strategis. Mereka sibuk nangisin hilangnya estetika langit biru dan pelanggaran Asta Kosala Kosali. Bener sih, budaya itu penting. Tapi ada dark jokes ekologis yang jauh lebih ngeri di depan mata.

Bali ini pulau vulkanik. Kita nggak punya lempeng benua sekeras Manhattan. Membangun beton setinggi 45 meter itu butuh paku bumi raksasa yang menembus jantung akuifer air tanah kita. Dampaknya?

  1. Air Tanah Disedot Vampir Beton: Gedung setinggi itu butuh air yang nggak main-main buat operasional. Warga lokal nyalain Sanyo aja kadang cuma keluar angin, ini malah disuruh saingan sama pencakar langit.
  2. Intrusi Air Laut: Saat air tawar di bawah tanah habis disedot, air laut bakal masuk ngisi kekosongan. Jangan kaget kalau 10 tahun lagi, Khe kumur-kumur pakai air keran rasanya udah kayak kuah soto garam.

Paradoks Tata Ruang Paling “Visioner”

Yang paling bikin ketawa getir dari wacana gedung 45 meter di Bali ini adalah siapa yang ngusulin. Pansus TRAP yang melempar ide ini adalah panitia yang sama yang baru aja teriak-teriak minta moratorium (stop izin bangunan baru) di Badung karena dinilai udah overload.

Coba cerna sebentar: Mengerem izin di satu titik karena udah macet dan padat, tapi di saat bersamaan buka keran buat bangunan vertikal raksasa di titik lain. Ini mah bukan solusi tata ruang, ini cuma mindahin titik macet dan krisis air ke server baru. Sangat visioner, bukan?

Grand Inna Bali Beach Nggak Akan Kesepian Lagi

Sampai detik ini, “fosil” gedung tinggi kita cuma satu: Inna Bali Beach di Sanur. Dibangun tahun 1963 di era Bung Karno, gedung 10 lantai ini aman dari aturan pohon kelapa karena lahir duluan. Sekarang, dia berdiri sendirian bak tugu peringatan.

Kalau wacana ini disahkan, Grand Inna nggak akan kesepian lagi. Dia bakal dikelilingi raksasa-raksasa beton baru. Ingat, sekali langit lanskap kita dirusak oleh semen dan baja, nggak ada tombol Control-Z di dunia nyata.

Pilih Dystopia-mu Sendiri

Pada akhirnya, wacana ini ngasih kita dua menu kiamat kecil yang sama-sama dark. Menurut Khe, mana racun yang lebih mending? Pasrah ngelihat langit Bali pelan-pelan berubah jadi Jakarta core, atau ikhlas ngelihat sisa sawah kita habis dijual per are di Facebook Marketplace?

Ketik keluh kesah paling savage kalian di kolom komentar. Jangan diam aja ngelihat pulau ini diacak-acak, karena mewarisi kehancuran ekologi itu nggak seindah mewarisi kos-kosan dari orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *