ORASI

Berita SD Sepi Murid: Ironi Anak Muda Bali Merantau demi Bertahan Hidup

Ton, berita soal SD Negeri 3 Bukit di Karangasem yang cuma dapet 2 murid baru di tahun ajaran ini rasanya nyesek banget. Kalau kamu lagi duduk ngopi sore di bale banjar sambil baca berita ini lewat HP, pasti kerasa ada yang salah dengan sistem kita.

Banyak orang luar yang kasihan dan hanya melihat ini murni sebagai masalah sekolah yang sepi. Tapi buat kita yang lahir di luar ring satu kawasan Denpasar-Badung, berita ini rasanya sangat personal. Ini bukan cuma cerita tentang bangku kelas yang kosong. Ini cerita tentang nasib anak muda Bali merantau, yang pelan-pelan harus meninggalkan kampung halamannya sendiri.

Ilusi Potensi Desa dan Modal yang Gaib

Di kolom komentar media sosial, banyak orang yang tiba-tiba jadi pengamat bijak. Mereka bilang: “Kenapa harus pergi? Desa Bukit kan punya potensi wisata, pertanian lahan kering, dan peternakan. Kenapa nggak dibangun sama warganya sendiri?”

Betul, potensinya ada, Wi. Tapi menggarap lahan kering atau membangun homestay yang layak itu butuh modal besar. Buat anak muda yang baru lulus sekolah, boro-boro memodali desa, buat makan besok aja masih ngitung hari. Sering kali, sehabis ada upacara adat di kampung—masih rapi memakai udeng—kita sudah harus buru-buru mengepak barang, memanaskan motor bebek hijau stabilo keluaran 2012 kesayangan, lalu kembali membelah jalanan menuju kos-kosan di Selatan. Realitanya memang sekeras itu.

Sakitnya Meninggalkan Kampung Halaman

Nggak ada yang murni seratus persen bahagia meninggalkan rumah, Gek. Meninggalkan udara pagi di desa, demi menyewa kamar 3×3 meter yang panasnya minta ampun di Denpasar. Berdesakan di jalan By Pass setiap pagi, kerja shift-shift-an di dunia hospitality sampai badan remuk.

Kita merantau bukan karena benci kampung halaman atau buta dengan potensi desa. Kita merantau karena keadaan memaksa. Kue ekonomi Bali saat ini cuma menumpuk di Selatan. Fasilitas yang memadai, UMK yang masuk akal, dan kepastian kesempatan kerja—hampir semuanya berpusat di sana. Sementara desa-desa di Timur, Utara, dan Barat pelan-pelan kehabisan darah mudanya.

Realita Uang, Adat, dan Masa Depan Desa

Banyak dari kita yang badannya lelah bekerja di Selatan, tapi nyawa dan isi dompetnya tetap tertinggal di kampung. Gaji yang pas-pasan dipakai buat bantu bapak bayar utang, melunasi iuran banjar bulanan, sampai metepeng (patungan) buat biaya ngodalin pura.

Hari ini, anak muda Bali tidak membangun desanya dengan keringat di ladang jagung. Kita membangun desa lewat transferan mobile banking setiap akhir bulan.

Jadi, kalau ada pertanyaan “siapa yang akan menjaga desa 20 tahun lagi?”, itu sering kali bikin kita overthinking tiap malam di kosan. Kita juga takut desa kita mati dan menua sendirian. Tapi kalau kita nekat diam di desa tanpa kepastian ekonomi, siapa yang mau menjaga perut dan masa depan keluarga kita?

Peluk Jauh untuk Para Perantau

Buat khe yang sekarang lagi capek shift malam, atau yang lagi ngelamun di kosan mikirin kapan bisa sukses biar bisa menetap selamanya di kampung… kamu bukan pengkhianat desa, Ton. Kamu cuma anak muda yang berusaha keras bertahan hidup dan menyambung nyawa keluarga.

Pada akhirnya, berita dua murid SD ini adalah monumen sunyi dari ketimpangan ekonomi yang jarang dibahas. Peluk jauh untuk pundak-pundak perantau yang mulai pegal hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *