ORASI

Kasta Anjing Bali: Ras Impor Disembah, Sepupu Dingo Disingkirkan

Kita di Bali paling jago ngetawain turis yang FOMO. Tapi jujur aja, Ton, generasi kita sendiri juga sama munafiknya kalau sudah urusan pamer kasta peliharaan.

Coba perhatikan fenomena di sore hari. Banyak anak muda rela menabung jutaan rupiah demi flexing jalan-jalan di Berawa bawa Golden Retriever atau Husky yang bulunya tebal kepanasan. Namun, giliran ada kuluk kacang (anjing kampung lokal) lewat di depan pagar rumah? Langsung diusir pakai sapu lidi. Fenomena kasta anjing Bali ini bukan cuma ironis, tapi juga membongkar seberapa parah krisis identitas budaya kita hari ini.

Realita “Si Paling Sayang Hewan”

Mari kita bicara fakta sosial yang lumayan dark. Pas anjing ras kesayangan di rumah mendadak agak susah makan dalam seminggu terakhir, atau mata dan gusinya mulai kelihatan kuning, Khe pasti paniknya setengah mati dan langsung booking dokter hewan yang paling mahal.

Sebaliknya, bagaimana nasib anjing lokal? Faktanya, praktik membuang anak anjing betina yang tidak diinginkan sudah lama berlangsung, dan ini justru menjadi salah satu faktor utama yang mempertahankan populasi anjing liar. Anjing-anjing ini seringnya dibuang begitu saja, atau ironisnya, baru mendapat “panggung” saat kondisinya sudah kurus kering dan siap dijadikan konten rescue bersponsor dengan backsound sedih.

Silsilah Kelas Dunia yang Dianggap Hama

Banyak yang menganggap kuluk kacang itu kampungan. Padahal, kalau Khe mau membaca sains, silsilah genetik mereka itu masuk kategori “bangsawan”.

Hasil analisis DNA dari jurnal internasional menunjukkan bahwa anjing Kintamani dan anjing jalanan Bali (BSD) punya kerabat genetik terdekat dengan Dingo Australia. Lebih mengejutkan lagi, ilmuwan menemukan 3 alel eksklusif yang HANYA ada di anjing Bali dan Dingo, yang sama sekali tidak ditemukan di ras impor mana pun. Artinya, kasta anjing Bali secara biologis jauh lebih langka daripada ras impor yang sering Khe pamerkan di Instagram.

Luh dan Gung Zaman Dulu Lebih Pintar

Selain bukti sains, leluhur kita di Bali dulu sangat paham soal “harta karun” ini. Sebelum ada tren dog-trainer di TikTok, leluhur kita sudah membuat Lontar Carcan Asu, sebuah naskah kuno yang mendokumentasikan setidaknya 31 sifat anjing berdasarkan ciri fisiknya.

Bahkan, ada kasta anjing Bali tertentu yang kedudukannya sangat sakral. Contohnya, anjing Asu Bang Bungkem (bulu merah dengan moncong dan ekor hitam) yang menjadi syarat mutlak dalam upacara Caru Panca Sanak. Pada masa itu, anjing adalah bagian integral dari keseimbangan ekosistem, sesuai dengan pijakan filosofis Palemahan dalam konsep Tri Hita Karana. Standar Barat soal konsep “stray dog” yang ditelantarkan jelas tidak pernah pas dipasang ke sistem komunal Bali.

Titik Balik Rabies: Otak Kita yang Ikut “Sakit”

Terus, apa yang membuat semuanya berubah? Jawabannya ada pada kepanikan kolektif.

Sebelum Desember 2008, Bali tercatat bebas rabies sepanjang sejarah. Namun, momen masuknya wabah di tahun 2008 itulah yang mengubah drastis cara orang Bali memandang anjing bebas-berkeliaran—dari awalnya dianggap “anggota komunitas” menjadi murni “ancaman kesehatan publik”.

Hari ini, realitanya sangat brutal. Ada total 34.845 kasus gigitan hewan penular rabies dan 231 kematian sejak wabah tersebut pertama kali merebak. Sayangnya, alih-alih memperbaiki sistem komunal dan berhenti membuang anak anjing betina, masyarakat kita lebih condong mendukung wacana eliminasi massal. Kita menyalahkan hewannya, menutup mata dari kelakuan warga sendiri yang terus menyumbang populasi di jalanan.

Hilangnya Identitas di Tanah Sendiri

Kesimpulannya, Ton, krisis kasta anjing Bali hari ini adalah cermin retak dari wajah kita sendiri.

Bukan anjing lokalnya yang turun kasta, melainkan generasi kita yang kehilangan identitas. Kita merasa hebat bisa merawat anjing ras luar negeri, tapi gagal menjadi manusia yang bertanggung jawab atas ekosistem di tanah sendiri.

Jadi, menurut Khe, tragedi anjing di Bali ini murni salah hewannya, atau emang mindset sosial kita yang sudah kelewat bobrok?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *