ORASI

Jersey Bali United Barong: Estetik, Tapi Ada Realita yang Disembunyikan

Rilis jersey Bali United Barong musim ini bareng Adidas emang sukses bikin heboh timeline. Visualnya cakep, warnanya berani, dan narasi “membawa budaya lokal ke lapangan hijau” selalu jadi jurus jitu buat narik simpati (dan dompet) para suporter.

Motif Barong Ket nampang di dada jersey kandang kebanggaan Semeton. Katanya, ini simbol kebaikan, pelindung, dan penolak bala. Secara bisnis? Langkah ini jenius. Tapi, kalau dibedah pakai kacamata kosmologi Bali dan realita anak muda sekarang, ada sesuatu yang aneh, Ton. Sesuatu yang sengaja ditinggalkan.

Di Mana Rangda? Realita Rwa Bhineda yang Terlupakan

Kalau kita ngomongin Barong, secara otomatis hukum alam Bali menuntut kita ngomongin Rangda. Selamat datang di realita Rwa Bhineda.

Banyak orang modern ngira Barong dan Rangda itu sekadar plot pahlawan vs penjahat kayak di film Marvel. Padahal, faktanya nggak se-sepele itu, Wi. Pertarungan mereka itu abadi. Secara sakral, mereka adalah pralingga (wujud suci) untuk memohon keselamatan. Bahkan Rangda punya peran ganda: dewi kematian sekaligus pelindung yang luar biasa kuat.

Pertanyaannya: kenapa cuma sisi Barong yang diajak masuk lapangan?

Kita nggak lagi nyalahin manajemen klub, karena mari jujur, naruh visual Rangda di atas baju olahraga penuh keringat itu sama aja ngundang somasi desa adat. Tapi absennya dualitas di jersey Bali United Barong ini justru jadi cerminan sempurna buat fenomena sosial kita hari ini.

Komersialisasi “Kebaikan” Itu Jauh Lebih Gampang

Jualan “kebaikan” emang jauh lebih gampang diterima pasar global ketimbang bawa dualitas sakral yang rumit. Pasar nggak mau disuruh mikir soal keseimbangan alam. Pasar maunya beli baju keren, pakai, lalu merasa sudah berkontribusi melestarikan budaya.

Budaya kita perlahan disederhanakan demi komoditas komersial. Barong yang dulu magis di pura, sekarang makin lumrah dipajang di etalase toko elit dengan sorotan lampu neon.

Refleksi: Kita Juga Sering “Menyunat” Realita di Medsos

Sadar nggak, Gek? Fenomena jersey ini sebenernya mirip banget sama kelakuan kita di medsos sekarang.

Kita sibuk memoles feeds, pamer healing di beach club, dan nunjukin sisi “Barong” (sukses, estetik, bahagia) biar divalidasi sama orang lain. Padahal di dunia nyata, sisi “Rangda” kita lagi nangis darah—dompet tipis, kerjaan burnout, dan kepala mumet mikirin cicilan.

Konsep Rwa Bhineda ngajarin kalau sisi gelap itu nggak perlu disembunyikan mati-matian. Sisi gelap itu butuh diterima biar hidup seimbang. Sayangnya, kita hidup di era di mana kesedihan atau kegagalan dianggap aib yang harus difilter dan diedit pakai Lightroom.

Jadi, Wajar atau Sayang Banget?

Pada akhirnya, jersey Bali United Barong ini tetaplah merchandise olahraga dengan kelas Eropa yang patut diapresiasi. Tapi nggak ada salahnya kan, kalau kita sedikit kritis? Jangan sampai kita cuma bangga pakai bajunya, tapi lupa kalau dalam hidup ini, khe nggak bisa cuma memeluk cahaya dan lari dari bayangan.

Menurut Khe, ini wajar demi cuan klub dan tren semata, atau sayang aja maknanya jadi tereduksi? Sini ribut (sehat) di kolom komentar atau share artikel ini ke temen nongkrong Khe yang kemarin baru checkout jerseynya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *