Pamer pakaian adat tradisional dan mengikat udeng bali di kepala saat perayaan memang cara paling instan untuk diakui sebagai penjaga budaya. Tapi giliran disuruh menyelamatkan Lontar Bali, mendadak semua pura-pura sibuk scroll media sosial. Pengetahuan leluhur ini perlahan-lahan sedang ikut dikubur bersama generasi tua yang membawanya pergi. Plot twist yang paling menampar ego: cadangan “database” kuno ini justru tersimpan jauh lebih rapi dan lengkap di benua biru, Eropa.
Lontar Bali: Bukan Sekadar Daun Kering Berdebu
Lontar adalah manuskrip yang digores di atas daun pohon rontal menggunakan pisau tajam bernama pangrupak. Bagi masyarakat lokal, tumpukan daun ini bukan sampah organik, melainkan punya taksu (kekuatan ilahi) dan diperlakukan seperti bagian dari kitab suci. Isinya? Sebuah pedoman hidup komplet, mulai dari resep pengobatan kuno (Usadha), perhitungan astronomi (Wariga), sejarah kerajaan (Babad), sampai petuah spiritual (Tutur).
Komedi satir yang selalu berulang setiap perayaan Hari Raya Saraswati adalah bagaimana tumpukan daun sakral ini diberi sesajen dan disembahyangi dengan sangat khusyuk, lalu dimasukkan kembali ke kotaknya. Disembah iya, dibaca tidak.
Ironi Gedong Kirtya: Museum Terkeren yang Dilupakan
Di Singaraja, Buleleng, berdiri Gedong Kirtya, yang statusnya sangat flex-worthy: SATU-SATUNYA perpustakaan lontar di seluruh dunia. Di rak-raknya tersimpan 2.064 cakep lontar fisik.
Tapi jangan buru-buru menepuk dada. Dari ribuan naskah tersebut, baru 459 naskah (sekitar 22%) yang berhasil didigitalisasi. Artinya, 78% sisa warisan Lontar Bali ini sedang dilepas untuk ikut survival game melawan cuaca tropis, debu, dan tentu saja, rasa lapar koloni tikus. Cara perawatannya pun masih sangat mengandalkan nyali dan kearifan lokal: dilap menggunakan minyak sereh dan digosok kemiri bakar agar tintanya kembali hitam. Metode lawas ini terbukti bertahan ratusan tahun, masalahnya tinggal siapa yang mau repot mengerjakannya.
Admin “Back-up” Terbaik Kita Ada di Belanda
Jika ada yang berhalusinasi bahwa pusaka paling lengkap hanya ada di tanah kelahiran, bersiaplah menelan realita. Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda justru menyimpan sekitar 9.000 lontar Bali dalam wujud ketikan maupun digital. Fakta ini menobatkan mereka sebagai perpustakaan dengan koleksi arsip tentang Indonesia terlengkap di dunia.
Sebelum jempol beringas mengetik kata “jarahan kolonial!”, ketahuilah bahwa lontar di Leiden itu BUKAN hasil curian. Pada masa lampau, peneliti Belanda secara formal meminjam naskah warga untuk disalin ulang, dan lontar aslinya dikembalikan utuh kepada pemiliknya. Secara esensi, mereka sekadar membuat back-up manual karena tahu kita terlalu lamban menyalin data sendiri.
Bahkan pada April 2024, seorang pustakawan bernama David Stuart-Fox secara tak sengaja menemukan 3 buku ber-cap Gedong Kirtya nyasar di Leiden. Alih-alih menyembunyikannya, bule ini terbang ke Singaraja dan mengembalikannya langsung. Bule saja punya inisiatif untuk melestarikan warisan kita.
Tikus: “Sarjana Sastra” Paling Literal di Pulau Ini
Krisis sebenarnya tidak butuh kacamata pembesar untuk dilihat: jumlah orang yang fasih membaca aksara Bali semakin terjun bebas. Lebih parah lagi, tumpukan lontar sering kali dikunci rapat di puri-puri keluarga bangsawan tanpa pernah dibuka untuk umum, hingga akhirnya rusak dimakan tikus. Tikus-tikus inilah sarjana sastra sejati karena secara harafiah menelan mentah-mentah isi sastra leluhur sebelum sempat didigitalisasi.
Pemerintah Kota Denpasar memang mencoba melawan arus kepunahan ini dengan menggandeng lembaga DREAMSEA untuk memfasilitasi digitalisasi lontar. Meski begitu, progresnya butuh suntikan energi yang masif; sejauh ini baru 35 cakep lontar di wilayah Denpasar yang berhasil terekam secara digital.
Kesimpulan: Pewaris yang Asing di Kandang Sendiri
Fakta paling menampar dari tragedi Lontar Bali ini datang dari ranah akademik. Ratusan tesis magister dan disertasi doktoral yang membedah lontar koleksi Kirtya, nyatanya lebih banyak dilahirkan oleh peneliti asing. Karya paling monumental seperti Kamus Jawa Kuna pun dikerjakan puluhan tahun oleh seorang Jesuit Belanda bernama Prof. P.J. Zoetmulder. Kita yang punya nama naskahnya, orang asing yang menyandang gelar S3-nya.
Teruslah berbangga menenteng status sebagai pelestari adat. Namun, bila pusaka lontar ini sampai hancur tak bersisa, yang lenyap bukan cuma aksara di atas daun, melainkan pedoman cara orang Bali memahami diri mereka sendiri. Bersiaplah suatu hari nanti, generasi masa depan harus membeli tiket pesawat ke Eropa cuma untuk menelusuri sejarah identitas keturunannya. Sungguh dark joke yang sangat tidak lucu.




