Skip to main content

ORASI

Setahun Banjir Besar Bali: Saat Kafe Estetik Menenggelamkan Jalan Pulangmu

Om Swastyastu, Ton. Coba lihat ke langit hari ini. Mendung tidak?

Setahun lalu, tepat pada 9–10 September 2025, air memberikan sebuah pelajaran brutal kepada kita. Banjir besar Bali terjadi setelah hujan berintensitas sangat tinggi mengguyur berbagai wilayah. Hari ini, sebagai bentuk evaluasi satu tahun tragedi tersebut, kita perlu bertanya dengan jujur: kalau hujan sebesar itu turun lagi malam ini, apakah Bali aman?

Jawaban paling bertanggung jawab: belum bisa dikatakan aman. Mari kita bedah alasannya, bukan sekadar menyalahkan got mampet, tapi dari sudut pandang yang lebih esensial: tata ruang.

Tragedi ‘Waterboom’ Massal dalam Angka

Kejadian September lalu bukan banjir biasa. BMKG menyebut banjir Bali 9–10 September 2025 sebagai yang terparah dalam satu dekade. Data observasi menunjukkan banyak wilayah menerima hujan kategori ekstrem, seperti Denpasar Barat yang tercatat 204,6 mm/hari, dan Jembrana yang mencapai 385,5 mm dalam sehari.

Hantaman alam ini membuat BPBD Bali mencatat 356 titik kejadian bencana, dengan 205 titik berupa banjir. Denpasar menjadi wilayah dengan sebaran titik banjir terbanyak. Bahkan, skala kejadian 2025 memang cukup besar sehingga pemulihannya tidak berhenti dalam hitungan minggu; contohnya rehabilitasi fasilitas Longstorage Tukad Petanu yang masih berjalan pada Mei 2026.

Bukan Cuma Hujan, Ini Soal Tanah yang Menjerit

Menyalahkan hujan ekstrem adalah jalan pintas yang paling mudah. Hujan ekstrem memang pemicu utama. Namun, besarnya dampak juga ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari kapasitas sungai, kondisi daerah resapan, hingga tata ruang.

Analisis resmi Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali pascabanjir menyebut persoalan struktural seperti perubahan kawasan resapan dan perkembangan kawasan perkotaan sebagai bagian yang perlu dievaluasi. Bali Selatan terus berkembang pesat dengan munculnya kos, villa, hotel, kafe, dan area parkir. Masalah utamanya terjadi di sini: setiap kali permukaan tanah alami berubah menjadi permukaan kedap air, sebagian air hujan yang tadinya bisa masuk ke tanah berubah menjadi run-off atau limpasan air.

Akibat kombinasi okupansi lahan resapan, sedimentasi, dan hujan ekstrem inilah, jalan-jalan di kawasan Sarbagita berubah menjadi jalur aliran air saat kejadian 2025. Sederhananya, masalahnya bukan sekadar air yang terlalu banyak, tetapi semakin sedikit tempat untuk air pergi.

Apa yang Berubah? (Excavator dan Alarm Kepanikan)

Tentu tidak adil jika kita mengatakan tidak ada perubahan sama sekali. Ada sejumlah langkah nyata pascabanjir:

  • Pengerukan Sedimentasi: Pada Januari 2026, BWS Bali Penida melakukan pengerukan sedimentasi Tukad Badung untuk mengembalikan kapasitas penampang sungai.
  • Infrastruktur Pengendali: Pada 13 Juli 2026, BWS Bali Penida memulai pekerjaan Pembangunan dan Rehabilitasi Prasarana Pengendali Banjir Kota Denpasar.
  • Sistem Peringatan Dini: Sejak Januari 2026, Early Warning System (EWS) banjir mulai dipasang di DAS Tukad Badung, dan kini sudah ada enam titik yang aktif. Sistem ini memonitor kenaikan muka air dan memberikan peringatan melalui sirene.

Apakah Bali lebih siap dibanding setahun lalu? Ya, tetapi belum selesai. Excavator bisa mengeruk sungai, dan EWS bisa dipasang. Tetapi masalah tata ruang jauh lebih sulit. Sirene peringatan dini hanya memberi kita waktu ekstra untuk menyelamatkan barang, bukan mencegah air menenggelamkan kos-kosan kita karena tanah resapannya sudah dicor menjadi kafe estetik.

Mengapa Gen Z Bali Harus Peduli?

Isu tata ruang ini sebenarnya sangat personal bagi Gen Z, karena generasi sekaranglah yang akan hidup paling lama dengan konsekuensi pembangunan Bali hari ini.

Banjir tidak cuma soal rumah terendam. Banjir berarti:

  • Motor mogok atau rusak di tengah jalan.
  • Kos kebanjiran.
  • Jalan menuju kampus putus.
  • Ojol tidak bisa mengambil order.

Kita tidak bisa mencegah hujan ekstrem. Tetapi, evaluasi pascabanjir dari Pemprov Bali sendiri menyoroti pentingnya perlindungan kawasan resapan dan kolam retensi. Karena secantik apa pun kota dibangun, alam tetap akan menguji cara kita membangunnya.

Jadi, sembari nongkrong di kafe baru favoritmu akhir pekan ini, cobalah berpikir sejenak: jika hujan selebat September 2025 turun lagi, apakah jalan pulangmu masih berwujud aspal, atau sudah berubah menjadi sungai?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *