Setiap tanggal 9 September, linimasa media sosial kita selalu penuh dengan peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas). Tanggal yang aslinya merujuk pada pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Surakarta tahun 1948 ini sering kali menjadi momen bagi banyak pihak untuk menceramahi kita dengan satu kalimat sakti: “Ayo rutin berolahraga.”
Namun, mari kita jujur, Wi. Di Bali, ajakan rajin olahraga ini sering kali berbenturan dengan realitas kultural yang kita jalani. Kita adalah generasi yang kalau mau beli kopi di minimarket depan banjar yang jaraknya cuma 200 meter, wajib hukumnya memanaskan mesin Scoopy.
Banyak yang bilang Gen Z Bali itu manja dan malas gerak. Tapi sebelum kita menelan bulat-bulat beban moral tersebut, ada satu pertanyaan kritis yang jarang dibahas: Apakah masyarakatnya yang memang malas, atau tata kota kita yang membuat aktivitas fisik menjadi hal yang mustahil dilakukan tanpa mengorbankan kewarasan?
Paradoks Bali: VIP Saat Event, NPC Saat Harian
Sebagai salah satu destinasi sports tourism terbesar, Bali semakin sering menjadi lokasi lomba lari, triathlon, fun run, dan kegiatan bersepeda berskala internasional.
Kalau sedang ada event, tata kota kita mendadak luar biasa. Jalanan bisa disterilkan, pengamanan ketat, water station berjejer rapi, dan rekayasa lalu lintas disiapkan sedemikian rupa demi kenyamanan peserta. Kita bisa membuat ruang aman untuk berlari ketika ada event.
Masalahnya, begitu acara selesai dan tenda sponsor dibongkar, warga kembali menjadi Non-Playable Character (NPC) di kotanya sendiri. Kehidupan sehari-hari berbeda 180 derajat dari lintasan marathon. Warga Bali kembali menghadapi kondisi jalan sehari-hari yang keras dan jauh dari kata steril.
Trotoar Multitalenta dan Olahraga Ekstrem Gratis
Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas fisik itu bukan cuma soal angkat beban di gym atau lari mengejar pace. Berjalan kaki menuju suatu tempat, bersepeda sebagai transportasi, hingga pekerjaan rumah tangga juga masuk dalam kategori aktivitas fisik.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu. Secara teori, berjalan kaki menuju warung, mengantar anak, atau bersepeda menuju tempat kerja juga bisa menjadi bagian dari aktivitas fisik tersebut—kalau lingkungannya memungkinkan.
Kenyataannya? Di Denpasar dan sekitarnya, berjalan kaki di pinggir jalan adalah olahraga ekstrem. Trotoar yang seharusnya dibangun untuk pejalan kaki, dalam praktiknya sering berubah fungsi. Jangan kaget kalau trotoar terputus atau tiba-tiba berubah menjadi tempat parkir, lapak sementara, akses keluar-masuk bangunan, penempatan barang, hingga jalur alternatif kendaraan roda dua saat macet.
Selain itu, penyeberangan jalan tidak selalu terasa aman, dan pesepeda harus terus berbagi ruang hidup dan mati dengan kendaraan bermotor. Jadi wajar kalau kita mending naik motor. Bukan karena tidak mau sehat, tapi karena kita masih sayang nyawa.
Ilusi Renon dan Kemiskinan Waktu Pekerja Shift
Setiap kali isu tata kota ini diangkat, argumen tandingan yang selalu muncul adalah: “Kan sudah ada Renon, Lumintang, dan Pantai Sanur.”
Argumen itu benar. Denpasar memiliki sejumlah ruang yang digunakan warga untuk bergerak, dan kalau sudah sampai di Sanur, berjalan serta bersepeda memang terasa menyenangkan. Tantangannya justru ada pada perjalanan dari rumah menuju lokasi tersebut.
Apakah kita bisa berjalan kaki dari rumah ke ruang publik itu dengan aman? Apakah jalurnya tersambung? Bagi kelas pekerja—terutama pekerja sektor hospitality yang dihajar sistem shift—waktu yang nyaman sering terbatas pada pagi atau sore karena panas dan lalu lintas.
Kemampuan seseorang berolahraga sangat dipengaruhi oleh jam kerja, waktu perjalanan, biaya, hingga keamanan jalan. Tidak semua orang punya waktu dan uang untuk menjadwalkan sesi olahraga khusus atau berlangganan gym. Bagi banyak warga Bali, perjalanan harian seharusnya bisa menjadi kesempatan bergerak. Namun, kondisi kota justru membuat target aktivitas fisik itu berubah dari hal yang mudah menjadi beban moral tambahan bagi individu.
Standar Baru Kota Sehat
Pada akhirnya, keaktifan warga bukan hanya persoalan niat pribadi. Lingkungan kota ikut menentukan apakah berjalan kaki dan bersepeda terasa mudah, nyaman, dan aman.
Daerah bisa saja sukses berulang kali menjadi tuan rumah lomba internasional, tetapi itu belum tentu membuktikan bahwa semua warganya mudah bergerak setiap hari. Punya beberapa lokasi olahraga eksklusif belum tentu sama dengan memiliki kota yang nyaman untuk bergerak bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kota yang sehat tidak hanya terlihat ketika ribuan orang ikut lomba lari di akhir pekan. Kota yang sehat terlihat ketika seorang anak, pekerja shift, ibu rumah tangga, perempuan yang berjalan sendirian, atau lansia bisa berjalan dan bersepeda dengan aman pada hari biasa.
Jadi, Ton, sebelum kamu merasa bersalah karena malas olahraga di momen Haornas ini, coba tanyakan pada dirimu sendiri: Di daerahmu, tempat gratis paling nyaman untuk bergerak ada di mana? Dan yang terpenting, perjalanan menuju ke sana aman atau tidak?




