ORASI

Masuk Top 10 Gubernur Terbaik Bali Versi Anak Muda, Ternyata Cuma Dipilih 19 Orang?

Pernah nggak Khe ngerasa hidup di Bali makin berat, jalanan makin macet, tapi tiba-tiba di sosmed muncul infografis kalau pemimpin kita masuk daftar Gubernur terbaik?

Baru-baru ini, akun GoodStats merilis hasil survei “Gubernur Berkinerja Terbaik Menurut Anak Muda” periode Januari-Maret 2026. Dan coba tebak, Ton? Bapak kita, I Wayan Koster, nangkring santai di peringkat 9 secara nasional. Otomatis, ini bisa jadi bahan flexing. Tapi, sebagai media yang hobi overthinking, Media ORASI ngerasa ada yang agak lucu dari angka-angkanya.

Matematika Survei: Fakta di Balik Angka

Mari kita pinggirkan dulu emosi dan pakai logika matematika SD sebentar. Survei Muda Bicara ID ini menggunakan sampel 800 responden se-Indonesia (usia 17–40 tahun). Di dalam infografis tersebut, persentase suara yang didapat Koster adalah 2,4%.

Sekarang, coba ambil kalkulator Khe. 800 dikali 2,4%. Hasilnya? 19,2 orang.

Iya, Wi. Di balik kebanggaan masuk Top 10 daftar elit nasional itu, nyatanya suara “anak muda” yang mewakili persepsi publik terhadap Gubernur terbaik cuma sekitar 19 orang (kita anggap saja yang 0,2 itu kepencet pas ngisi form).

Buat perbandingan skala, antrean orang beli Nasi Pedas di jam 11 malam itu jumlahnya jauh lebih banyak dari 19 orang. Terus, pertanyaannya: apakah 19 orang ini punya power magis yang cukup valid buat melabeli kinerja pemimpin kita sebagai “yang terbaik” di mata Gen Z?

Visibilitas Media vs Realita Jalanan Bali

Di bagian caption surveinya, GoodStats ngasih penjelasan tipis-tipis bahwa “visibilitas, komunikasi publik, dan kedekatan isu daerah” jadi faktor pembentuk persepsi. Terjemahan jujurnya: di era sekarang, seberapa sering namamu masuk FYP atau dikutip portal berita nasional jauh lebih menentukan “kinerja” ketimbang apa yang beneran terjadi di aspal.

Ini ironi yang agak dark jokes buat kita-kita yang tinggal di Bali. Sementara 19 orang di survei itu merasa kinerjanya top, puluhan ribu Gen Z dan Millennial Bali lainnya tiap hari harus tua di jalan By Pass. Belum lagi yang stres nyari celah di perempatan Teuku Umar, atau gigit jari ngelihat harga sewa kos yang makin nggak ngotak gara-gara gentrifikasi ekspatriat.

Ternyata, algoritma sosmed dan PR (Public Relations) yang rapi menang telak melawan realita kemacetan.

Jadi, 19 Orang Ini Mewakili Siapa?

Pada akhirnya, gelar elit dari survei ini ngajarin kita satu hal penting: opini belasan orang, kalau dibungkus pakai infografis yang aesthetic dan di-posting akun besar, bisa disulap seolah-olah mewakili suara jutaan warga.

Pertanyaannya buat Khe, Luh, dan Gung yang tiap hari struggle kerja di Bali… Apakah 19 orang ini beneran mewakili perasaan kita semua soal kinerja pemimpin daerah? Atau kita aja yang kurang literasi baca data?

Biar nggak cuma emosi sendiri, coba bagikan artikel ini ke grup WhatsApp tongkrongan kalian. Mari kita lihat, berapa banyak temenmu yang sadar kalau kebanggaan di infografis nasional itu ternyata cuma disokong sama belasan suara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *