Skip to main content

ORASI

Dikira Pajegan, Ternyata Sokok Pegayaman: Bukti Budaya Bali Itu Open-Source

Kalau khe lihat sekilas susunan buah dan bunga menjulang di atas dulang ini, pasti langsung mikir, “Oh, ini pajegan”.

Wajar. Otak kita sudah terbiasa dengan visual tersebut. Tapi kalau khe datang ke utara Bali, tebakan itu bakal meleset jauh.

Mari kenalan dengan Sokok Pegayaman, sebuah tradisi perayaan Maulid Nabi yang bentuknya sangat Bali, tapi maknanya sangat Islam.

Bukan Pajegan, Ini Sokok Pegayaman

Di Desa Pegayaman, Buleleng, masyarakat Muslim punya tradisi unik menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka merangkai struktur vertikal di atas dulang yang disebut Sokok.

Ada dua jenis utama: Sokok Base yang didominasi rangkaian sirih, dan Sokok Taluh yang menggunakan telur. Dari namanya saja, tradisi ini sudah menggunakan bahasa Bali sehari-hari.

Kok Bisa Mirip Pajegan atau Gebogan?

Ini yang sering bikin orang luar kaget dan bingung.

Sokok Pegayaman memang dirangkai menggunakan dulang, persis seperti wadah persembahan yang lazim dipakai umat Hindu Bali. Tapi kemiripan visual ini bukan plagiat. Ini adalah akulturasi murni.

Ketika komunitas Muslim hidup berdampingan ratusan tahun di lingkungan budaya Bali, mereka meminjam “bahasa visual” lokal untuk mengekspresikan agamanya.

Plot Twist Makna: Dari Ritual Menjadi Sedekah

Meski bentuknya mirip, sistem religius keduanya sama sekali berbeda. Pajegan dalam tradisi Hindu adalah bentuk banten atau persembahan dan bhakti.

Lalu, bagaimana dengan Sokok?

Sokok dibawa menuju masjid saat perayaan Maulid, didoakan, lalu unsur-unsurnya dibagikan kembali kepada masyarakat. Pesan utamanya adalah sedekah dan kebersamaan. Benda yang terlihat sangat ornamental ini ujung-ujungnya berpusat pada aksi sosial untuk berbagi.

‘Tamparan’ Halus Buat Para Gatekeeper Budaya

Kisah dari tradisi Sokok Pegayaman ini menarik banget buat merenung.

Buat ton atau luh yang masih sering ributin siapa yang paling “Bali Asli”, tradisi ini memberikan tamparan halus. Identitas budaya dan identitas agama tidak selalu harus berada dalam satu kotak yang sama. Seseorang bisa menjadi Muslim secara keyakinan, sekaligus sangat Bali secara budaya. Budaya Bali ternyata bisa menyediakan bentuk, sementara agama yang berbeda memberikan maknanya.

Menurut khe, apa lagi contoh akulturasi budaya di Bali yang sering salah dipahami oleh orang luar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *