Pernahkah terlintas di pikiran Khe saat membeli canang atau banten setiap rerahinan, ke mana sebenarnya muara dari perputaran uang yang kita keluarkan? Yadnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu Bali. Dari canang harian, Kajeng Kliwon, Purnama, hingga odalan besar, permintaan bahan upakara terus berjalan konsisten sepanjang tahun.
Secara logika, dengan besaran permintaan budaya yang diwariskan ini, petani dan produsen lokal kita seharusnya menjadi pihak yang paling sejahtera. Namun, realitas ekonomi di lapangan justru menampilkan sebuah ironi.
Skala Ekonomi Yadnya yang Bikin Merinding
Mari kita bedah angkanya. Data BPS Bali mencatat bahwa pada tahun 2024, rata-rata pengeluaran masyarakat Bali untuk kategori keperluan pesta dan upacara menyentuh angka Rp96.295 per kapita per bulan.
Jika kita menjadikan angka tersebut sebagai estimasi kasar bagi sekitar 3,78 juta penduduk Hindu Bali, maka skala pengeluaran ekonomi terkait upacara ini bisa berada pada kisaran Rp4,37 triliun per tahun. Ini adalah sebuah ekosistem ekonomi raksasa yang aktif bergerak setiap kali kita menyalakan dupa.
Paradoks Pasar Abadi dan Ketergantungan Pasokan
Di sinilah letak kontradiksi terbesarnya, Ton. Kita memiliki captive market dengan konsumen yang tidak perlu dibujuk oleh iklan untuk berbelanja. Akan tetapi, Pemprov Bali sendiri pernah secara eksplisit menyebutkan bahwa komoditas krusial seperti pisang dan janur untuk upacara masih banyak didatangkan dari wilayah Jawa Timur dan NTB.
Risiko dari rantai pasok eksternal ini bukan sekadar teori. Pada momen Galungan tahun 2012 yang berdekatan dengan libur Idulfitri, pasokan janur dari Jawa berkurang drastis. Akibatnya, harga janur di Bali mendadak meroket hingga 40 persen. Ini bukan kampanye sentimen kedaerahan—perdagangan antarwilayah tentu wajar terjadi. Namun, ada pertanyaan menohok yang harus kita jawab: saat permintaannya sudah terjamin sepanjang tahun, mengapa Bali belum mampu menangkap lebih banyak nilai ekonomi dari kebutuhan tradisinya sendiri?.
Ekologi yang Hilang di Balik Tradisi
Akar dari ketergantungan ini tidak bisa dilepaskan dari masifnya alih fungsi lahan. Semakin sedikit lahan tegalan dan kebun kelapa produktif yang tersisa, semakin kecil kemampuan kita menyediakan bahan baku sendiri. Menjaga tradisi ternyata tidak bisa hanya dipahami sebatas semangat ngayah dan ke pura, Gek, melainkan juga menuntut upaya konkret untuk menjaga ekosistem lahan agar bahan yadnya ini tetap ada.
Yang cukup menggelitik, pemerintah lewat BRIDA Provinsi Bali baru pada tahun 2026 ini memulai persiapan kajian khusus untuk menghitung neraca ekonomi dan rantai UMKM dari upacara keagamaan. Ratusan tahun kita rutin menjalankan ritual, tetapi sistem perekonomian di belakangnya baru mulai dipetakan secara utuh saat ini.
Jika ekosistem pertanian kita terus menyusut, apa yang akan terjadi pada ketahanan budaya kita ke depannya? Apakah Khe melihat ada solusi nyata yang bisa diterapkan dari tingkat desa adat untuk menekan permasalahan ini?




