Skip to main content

ORASI

Cuaca Panas Bali: Mitos Kiriman Asap Kalimantan dan Realita yang Bikin Nyesek

Belakangan ini, cuaca panas Bali memang lagi nggak ngotak.

Keluar rumah jam 12 siang buat beli es kopi aja rasanya kayak lagi ikut simulasi padang mahsyar. Kipas angin di kosan rasanya cuma muter udara panas, dan AC mendadak jadi kebutuhan primer.

Saking ekstremnya, banyak yang mulai nyeletuk di tongkrongan: “Ton, ini panasnya gara-gara asap karhutla Kalimantan nyampe sini ya?”

Logis sih mikir gitu. Jarak kita nggak sejauh itu beda benua. Apalagi tiap buka medsos, timeline isinya video langit oranye dan lahan yang kebakar nggak mati-mati.

Tapi, mari kita lurusin satu hal sebelum tebakan ini jadi hoaks grup WhatsApp keluarga.

Plot Twist dari BMKG

Tebakan soal asap menyeberang pulau itu ternyata meleset.

BMKG sudah menjelaskan bahwa cuaca panas Bali saat ini berkaitan dengan posisi semu Matahari yang lagi asik nongkrong di selatan ekuator.

Ditambah lagi, minimnya tutupan awan bikin sinar matahari langsung nyengat ke ubun-ubun. Kemarau panjang dan efek El Niño bikin potensi hujan makin kecil.

Artinya, asap kebakaran dari Kalimantan sama sekali nggak terbang nyebrang ke Pulau Dewata. Api di sana nggak bikin suhu di sini naik.

Kita kepanasan murni karena cuaca regional, bukan karena “dikirimin” asap tetangga.

Ironi Nasib di Bawah Langit yang Sama

Setelah tahu fakta ini, pertanyaannya berubah. Kalau asapnya nggak bikin Bali panas, berarti karhutla Kalimantan bukan urusan kita, kan?

Tunggu dulu.

Ngeluh gerah waktu bawa motor di perempatan Teuku Umar itu valid. Tapi coba bayangin bangun tidur harus menghirup udara beracun berminggu-minggu.

Di Kalimantan Barat saja, luas lahan indikatif yang terbakar dilaporkan mencapai lebih dari 38 ribu hektare. BNPB juga mencatat kabut asap ini sampai mengganggu aktivitas penerbangan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

Bahkan, ada peningkatan jumlah warga yang sakit akibat paparan asap, memaksa petugas mendistribusikan masker besar-besaran.

Di saat kita sibuk nyari AC yang lebih dingin, saudara-saudara kita di sana sibuk nyari oksigen bersih. Bencana ekologis ini nyata dan terjadi sekarang.

Haruskah Asapnya Sampai Sini Dulu?

Matahari yang memanggang kita hari ini adalah matahari yang sama yang mengeringkan lahan gambut di sana.

Apakah kita baru akan peduli kalau kabut asapnya sudah menutupi patung GWK? Tentu nggak. Jarak tempat seharusnya tidak mengurangi kenyataan dampaknya.

Kita nggak perlu nunggu kena imbas fisiknya buat sekadar sadar bahwa ada yang salah dengan sistem mitigasi lingkungan kita. Bencana yang tidak terlihat dari jendela kamar kos kita, tetap dialami secara nyata oleh orang lain.

Cuaca panas Bali mungkin bikin gerah dan emosi gampang naik. Tapi, jangan sampai empati kita ikut-ikutan kering.

Coba cek kontakmu. Kalau khe punya teman, keluarga, atau kenalan yang berdomisili di Kalimantan, tag mereka atau kirim pesan singkat. Tanyakan kabar mereka hari ini.

Kadang, bantuan paling sederhana dimulai dari menolak untuk tutup mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *