ORASI

Kenapa Gen Z Bali Tidak Bisa Bahasa Bali? Mitos Bule, Kasta, dan Gengsi

Ton, ngaku aja. Pas kumpul keluarga besar waktu odalan atau Galungan, khe pernah ngerasa keringat dingin pas diajak ngobrol sama kakek pakai bahasa Bali alus?

Ujung-ujungnya, khe cuma bisa nyengir, pura-pura sibuk main HP, atau jawab pakai bahasa Indonesia dengan logat yang dipaksa-paksain. Kalau khe ngerasa begini, santai. Kamu orang Bali, tapi gak bisa bahasa Bali? Kamu bukan sendirian. Dan ini bukan salah kamu.

Fenomena Gen Z Bali tidak bisa bahasa Bali ini bukan sekadar mitos tongkrongan. Ada ironi besar yang lagi terjadi di tanah kita sendiri. Mari kita bedah kenapa bahasa ibu kita makin terasa asing di lidah sendiri.

Bencana Mental Bernama Sor Singgih

Banyak yang nge-judge Gen Z itu males belajar budaya. Padahal, masalah utamanya bukan di kemauan, tapi di ketakutan.

Bahasa Bali itu nggak cuma satu. Ada sistem tingkatan bahasa yang disebut sor singgih (atau anggah-ungguh basa), yang mengatur kosakata berdasarkan siapa yang ngomong dan siapa lawan bicaranya. Bukan satu bahasa — tapi lima register berbeda!

Bayangin, Ton. Perkara mau ngomong “makan” aja, otaknya harus loading milih cabang:

  • Kepada yang lebih rendah status: NAAR
  • Kepada sesama tongkrongan: NGAJENG
  • Kepada yang dihormati atau bos: MERAYUNAN

Salah pilih kata dikit aja, khe bisa dianggap nggak sopan, atau lebih parahnya, menyinggung perasaan orang. Ini yang bikin banyak anak muda takut mencoba, milih cari aman dengan diam, atau pindah sekalian pakai bahasa Indonesia.

Bahkan, ini udah divalidasi sama akademisi. Sebuah studi jurnal JURRISH yang terbit tahun 2026 meneliti langsung pengalaman Gen Z Bali terkait rumitnya sor singgih ini. Intinya: kita dihantui rasa malu di tanah sendiri.

Ironi Abad Ini: Bule yang Menyelamatkan?

Di saat kita, generasi penerus, makin ninggalin bahasa Bali akibat pengaruh globalisasi dan teknologi, plot twist sejarah malah menunjukkan hal yang bikin harga diri agak tersentil.

Tahu nggak siapa yang bikin kamus bahasa Bali pertama? Herman Neubronner van der Tuuk, seorang peneliti Belanda yang tinggal 25 tahun di Singaraja. Dan tebak, cetakan aksara Bali dalam format modern pertama kali dibuat di mana? Di Batavia, oleh mesin cetak Belanda pada tahun 1897!

Ironi ini nggak berhenti di masa kolonial. Lompat ke Februari 2026, seorang peneliti Belanda bernama David Stuart Fox menyumbangkan 30 koleksi lontar miliknya ke Universitas Udayana. Di saat banyak orang Bali berjarak dari teks-teks leluhurnya, orang asing ini justru mendekat.

Bule repot-repot nyelamatin literatur kita, sementara kita sibuk ngafalin lirik FYP TikTok buat konten. Masuk akal?

Fasilitas Numpuk, Tapi Nggak Dipakai

Gubernur Bali pada Maret 2025 udah ngasih warning keras: “Jika kita tidak aktif menggunakannya, bahasa ini bisa semakin terpinggirkan, bahkan punah.”

Tapi jujur aja, negara udah lumayan usaha. Sejak 2016, ada 632 Penyuluh Bahasa Bali yang disebar di desa-desa. Artinya di desamu, ada orang yang siap mengajarimu bahasa Bali secara gratis. Platform digital juga bertebaran. Ada BASAbali Wiki, dan ada aplikasi PARASALI yang datanya udah dipakai sama 61.628 pengguna hingga tahun 2026.

Pertanyaannya: Berapa banyak yang tahu fasilitas ini? Berapa banyak yang benar-benar datang dan pakai? Jangan-jangan aplikasi itu cuma di-download pas disuruh guru sekolah, habis ujian langsung di-uninstall biar memori HP nggak penuh.

Waktunya Normalisasi “Bahasa Bali Belepotan”

Badan Bahasa (2021) nyatet kalau di Indonesia ada 8 bahasa daerah yang udah punah dan 24 terancam punah. Untungnya, bahasa Bali statusnya masih terdokumentasi dan tervalidasi. Yang terancam saat ini bukan keberadaan bahasanya, tapi penggunaannya di kalangan muda.

Solusinya sederhana, Wi. Bahasa Bali tidak butuh diselamatkan dari luar — ia butuh digunakan dari dalam. Kita harus berani mendobrak gengsi dan rasa takut di-judge. Mulai normalisasi ngomong bahasa Bali belepotan di tongkrongan.

Eda lek mabasa Bali. Jangan malu berbahasa Bali. Lebih baik dibilang kurang lancar daripada harus diwakili bule buat ngomong bahasa leluhur sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *