Coba ingat-ingat lagi, Ton.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar memperhatikan ibu-ibu penjual Jaja Laklak Bali di pasar pagi dekat rumah?
Akhir-akhir ini, kita terbiasa mengagumi artisan bakery yang mengukur suhu adonan memakai termometer digital. Kita rela membayar puluhan ribu untuk sebuah croissant demi menghargai sebuah craftsmanship atau mahakarya.
Tapi sadar atau tidak, kita sering lupa bahwa ada “artisan” sesungguhnya yang sudah bangun sejak jam 4 pagi.
Mereka bertarung dengan suhu tungku, bermodalkan insting, dan menyajikan karyanya di atas selembar daun pisang. Buat sebagian besar dari kita, laklak mungkin cuma jajanan lima ribuan untuk teman ngopi.
Padahal, ada hal yang jauh lebih besar dari sekadar label “jajan tradisional”.
Sertifikat Saja Nggak Bikin Kenyang
Pemerintah mencatat Jaja Laklak sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Bali lewat SK No. 414/P/2022.
Menariknya, jajanan ini tidak sekadar masuk kategori kuliner. Jaja Laklak masuk ke dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Kata kuncinya ada pada “kemahiran”.
Sebuah makanan bisa saja terus ada dan bisa dibeli, tapi teknik membuatnya perlahan kehilangan penerus. Nilai laklak itu justru tersembunyi pada pengetahuan tentang bagaimana makanan itu diwujudkan dari nol.
Dapur Rahasia yang Nggak Ada di Google Maps
Pengetahuan ini bukan sekadar campur tepung dan air lalu selesai.
Terdapat teknologi pangan dan konsep etnosains tingkat tinggi di balik pembuatan jajanan ini. Sebuah studi Undiksha tahun 2024 di Desa Sading membongkar bahwa para pembuat laklak mempraktikkan konsep ilmiah rumit setiap harinya.
Mereka memanfaatkan penyangkan (cetakan laklak), tungku, sabut kelapa, dan kayu bakar.
Aktivitas mematangkan adonan hijau dari daun suji ini berhubungan langsung dengan konsep kalor, perpindahan panas, tekanan, hingga perubahan materi. Ini adalah pengetahuan turun-temurun di balik tekstur berlubang khas yang selalu pas.
Selain di Badung, jajanan ini juga terdokumentasi dalam inventarisasi makanan tradisional Kecamatan Tejakula. Bahkan ia hadir menyertai pisang goreng dan kopi dalam tradisi Nyakan Diwang di Desa Banjar, Buleleng.
Jejaknya menyebar, ilmunya mendalam, tapi kenapa rasanya makin jauh dari keseharian kita?
Algoritma yang Menggusur Visibilitas
Kita nggak bisa dan nggak berhak menyalahkan Gen Z yang hari ini lebih sering nongkrong makan pastry.
Makanan modern menang mutlak karena mereka hadir di pusat kota, kawasan wisata, mall, Instagram, hingga aplikasi delivery. Semuanya mudah dicari dan terindeks rapi di Google Maps.
Sementara itu, para artisan laklak kita masih bergantung pada pasar pagi, rekomendasi mulut ke mulut, atau jualan di rumah. Seringkali dagangan mereka sudah ludes sebelum matahari benar-benar terik.
Akibatnya, tercipta perbedaan visibilitas yang sangat jauh.
Jajanan ini mungkin sebenarnya tidak langka, kita saja yang tidak tahu harus mencari ke mana di tengah gempuran algoritma media sosial. Pengetahuan meracik adonan dan menjaga suhu api itu tidak akan otomatis terwariskan lewat resep di internet.
Pelestarian Paling Masuk Akal
Croissant tidak perlu hilang supaya laklak bisa bertahan.
Jajanan Bali terbukti bisa hidup di ruang modern. Di hotel berbintang kawasan Nusa Dua dan Kuta, laklak digunakan sebagai bagian dari dessert makanan tradisional Bali.
Masyarakat yang percaya diri dengan budayanya tidak perlu menolak masuknya budaya luar. Kita hanya perlu memastikan bahwa apa yang berasal dari rumah sendiri tidak mati pelan-pelan.
Karena pelestarian kuliner yang paling efektif itu bukan terjadi saat makanan tersebut masuk museum. Pelestarian terjadi saat makanan tersebut masih dibuat, dijual, dibeli, dimakan, dan diwariskan.
Jadi, sebelum artisan lokal kita benar-benar kehilangan penerus, kapan terakhir kali kamu sarapan pakai Jaja Laklak?
Drop lokasi langganan Jaja Laklak andalan kamu di kolom komentar. Mari kita bikin peta digital Jaja Bali bareng-bareng!




