Setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, anjing peliharaan di pekarangan rumah kita mendadak naik kasta. Di hari Tumpek Kandang, mereka dimandikan, diberi makanan enak, dan diupacarai dengan khusyuk sebagai bentuk ungkapan syukur umat Hindu atas keberadaan hewan yang melengkapi kehidupan manusia. Selama 24 jam penuh, anjing lokal yang biasanya cuma kebagian tugas jaga malam atau makan sisa lungsuran, diperlakukan layaknya tamu VIP.
Tapi anehnya, kesakralan dan rasa hormat itu sering kali punya masa kedaluwarsa yang sangat singkat. Begitu dupa mati dan banten layu, realita kembali berjalan. Pintu pagar dibuka lebar, dan anjing yang kemarin baru saja didoakan keselamatan hidupnya, dibiarkan keluyuran lagi ke jalanan yang penuh risiko penularan penyakit dan ancaman ditabrak motor.
Di sinilah letak ironi terbesar kita: apakah memiliki anjing di Bali hanya berarti memberinya tempat pulang, atau juga memastikan hidupnya terlindungi?
Punya Rumah Ternyata Belum Tentu Punya Perlindungan
Kita sering menganggap remeh tanggung jawab memelihara hewan. Di satu sisi, anjing disebut sebagai bagian dari rumah dan dianggap sebagai penjaga pekarangan andalan. Tapi di sisi lain, masih banyak anjing berpemilik yang nasibnya tragis: tidak divaksin rabies, sakit tanpa diobati, hingga akhirnya dibuang di pasar atau pantai ketika anaknya terlalu banyak.
Lebih parah lagi, sebagian pemilik baru kelabakan mencari anjingnya ketika hewan tersebut terlanjur menggigit orang di jalan. Tanggung jawab tiba-tiba lenyap ditelan amnesia masal. Mengupacarai anjing pada lapisan niskala memang penting untuk menyadari hubungan manusia, hewan, dan alam. Namun, jika di lapisan sakala kita membiarkan mereka hidup tanpa pengawasan dan perawatan medis, penghormatan itu terasa sekadar formalitas belaka.
Plot Twist: Anjing di Perempatan Itu Ternyata Ada yang Punya
Salah satu kesalahpahaman paling umum di masyarakat adalah menganggap semua anjing yang berkeliaran di jalan atau mengorek tempat sampah sebagai “anjing liar”. Kenyataannya jauh dari itu. Banyak anjing yang kita lihat berkeliaran sebenarnya mempunyai rumah dan tempat pulang.
Dalam sebuah studi sosiokultural terhadap 300 responden di Bali, sebagian besar pemilik mengakui membiarkan anjingnya berkeliaran bebas. Artinya, krisis anjing di jalanan ini bukan semata-mata masalah populasi hewan tak bertuan, melainkan krisis kepemilikan yang tidak bertanggung jawab. Kita memelihara mereka untuk menjaga keamanan rumah kita, tapi kita menolak menjaga keamanan nyawa mereka di luar rumah.
Banten Bukan Asuransi Kesehatan, Virus Tidak Takut Canang
Ketika kasus gigitan terjadi dan status siaga rabies menyala, panik adalah respons pertama yang muncul. Sayangnya, pemusnahan massal (culling) masih sering dianggap sebagai jalan pintas termudah. Padahal, merujuk pada catatan FAO, pemusnahan anjing terbukti tidak efektif dalam menangani wabah rabies di Bali. Strategi yang jauh lebih masuk akal dan teruji secara ilmiah adalah vaksinasi massal.
Vaksinasi bukan cuma tameng buat manusia, tapi juga melindungi anjing sehat dari stigma, kepanikan warga, dan eksekusi sepihak. WHO dengan tegas menyatakan bahwa gigitan dan cakaran anjing menyebabkan hingga 99% kasus rabies pada manusia secara global. Angka ini harusnya jadi tamparan keras. Penyakit yang fatal ini 100% bisa dicegah kalau saja kita, sebagai pemilik, mau meluangkan sedikit waktu dan biaya untuk membawa anjing kita divaksin.
Kasih Sayang Beneran Itu Bentuknya Vaksinasi, Bukan Cuma Tirta
Tumpek Kandang seharusnya menjadi pengingat bahwa rasa memiliki wajib diikuti oleh rasa tanggung jawab. Upacara menegaskan nilai kasih sayang pada hewan peliharaan, sedangkan vaksinasi, sterilisasi, pemberian makan yang layak, dan keputusan untuk tidak membuang mereka membuat nilai kasih itu tetap hidup di dunia nyata.
Kepemilikan yang bertanggung jawab tidak melulu harus mengurung anjing terus-menerus di dalam kandang, melainkan memastikan pergerakan mereka aman dan terkontrol. Pemerintah sendiri sedang menggeber vaksinasi serentak pada September hingga Oktober 2026, berdekatan langsung dengan momen Tumpek Kandang.
Jadi, tanyakan lagi pada dirimu sendiri, Ton. Setelah Tumpek Kandang berlalu dan banten selesai dihaturkan, sudahkah anjing di pekaranganmu mendapatkan vaksin rabies, atau hidupnya masih diserahkan sepenuhnya pada nasib?




