Skip to main content

ORASI

Loloh Bali vs Matcha: Kenapa Minuman Tradisional Cuma Kalah Nasib?

Coba Khe perhatikan daftar menu di coffee shop paling estetik di Denpasar atau Canggu. Pasti ada satu nama yang selalu nangkring dengan gagahnya: Matcha. Mulai dari matcha latte, dirty matcha, sampai variasi cloud yang harganya sanggup bikin dompet menangis. Sekarang bandingkan dengan nasib loloh Bali. Mentok-mentok minuman peninggalan leluhur ini cuma ditaruh di botol air mineral bekas tanpa label, pasrah menunggu pembeli di pojokan meja warung. Padahal, kalau mau adu mekanik soal khasiat, loloh jelas tidak kalah. Tapi kenapa pamornya bisa beda kasta begini?

Ekspektasi: Gen Z Alergi Minuman Tradisional

Paling gampang memang nyalahin Gen Z kalau ngomongin tradisi yang mulai luntur. Ada stereotip yang bilang kalau anak muda sekarang sok kebarat-baratan, alergi dengan minuman tradisional, dan menganggap loloh itu sekadar “minuman nenek-nenek” yang rasanya pahit. Kedengarannya masuk akal untuk dijadikan kambing hitam, tapi penelitian tahun 2026 justru menampar keras asumsi tongkrongan tersebut. Ternyata, Gen Z Bali sama sekali tidak membenci loloh. Persepsi mereka terhadap nilai budaya dan kesehatan loloh bahkan tembus di angka tinggi, yaitu 4,60 dari 5. Ini membuktikan kalau anak muda Bali sebenarnya sangat peduli dan menaruh hormat yang tinggi pada warisan budayanya sendiri.

Kalau Rasanya Oke, Terus Kalahnya di Mana?

Lalu, kalau mereka peduli dan dari segi rasa juga masih mendapat skor memuaskan di angka 4,28, kenapa pamor loloh makin tenggelam? Jawabannya bukan pada lidah, tapi pada layar smartphone Khe. Skor untuk eksistensi sosial dan digital loloh cuma mentok di angka 3,38 dari 5. Kesimpulannya cukup tragis: produknya sama sekali tidak ketinggalan zaman, tapi cara jualannya yang masih purba. Orang datang ke kafe membeli matcha bukan cuma sekadar membeli cairan hijau, Ton. Mereka membeli experience, estetika, lifestyle, dan tentu saja status sosial. Matcha berhasil diterjemahkan menjadi sebuah gaya hidup, sementara loloh dibiarkan terjebak dalam identitas kusamnya.

Ironi “Functional Drink” yang Diagungkan

Ironisnya, dunia modern sekarang lagi gila-gilanya menjual narasi functional drink, minuman plant-based, dan segala sesuatu yang berbau wellness. Padahal, Bali sudah punya perpustakaan minuman fungsional itu dari zaman dulu. Kita punya loloh temulawak, kunyit asem, daun jarak, sampai daun sirsak yang semuanya alami. Sayangnya, kemasan dan strategi jualan kita kalah telak dari produk luar.

Saatnya Loloh Bali Naik Kelas

Loloh cemcem di desa wisata Penglipuran sudah membuktikan kalau minuman ini bisa “naik kelas” jadi signature drink yang dicari banyak wisatawan, asalkan dikemas dengan niat. Pada akhirnya, loloh tidak perlu repot-repot berubah wujud jadi matcha. Minuman ini cuma butuh sentuhan percaya diri dan strategi digital yang waras untuk bisa kembali relevan. Kalau besok ada coffee shop estetik yang menjual Loloh Latte, kira-kira Khe bakal beli nggak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *