Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali khe ikut sangkep atau ngayah di banjar, Ton. Pasti khe sadar satu hal. Makin hari, wajah-wajah yang sibuk angkat banten atau bikin penjor didominasi bapak-bapak yang rambutnya sudah memutih. Pemudanya ke mana?
Tiap hari kita komplain soal jalanan Canggu yang macet parah. Kita merasa pulau ini makin padat, sumpek, dan kehabisan oksigen. Logika kasarnya, kalau jalanan penuh, berarti orang Bali makin banyak, kan? Ternyata kita salah besar.
Di balik kemacetan dan kafe baru yang terus dibangun, ada sebuah bom waktu yang sedang berdetak pelan-pelan. Namanya krisis demografi Bali.
Sukses Ngerem Kelahiran, Tapi Kebablasan
Dulu, kampanye “Dua Anak Cukup” gencar banget disuarakan. Di Bali, kampanye ini ternyata kelewat sukses. Tanpa kita sadari, Bali berhasil menekan angka kelahiran sampai Total Fertility Rate (TFR) kita anjlok ke angka 2,02.
Biar kebayang parahnya, angka ini jauh di bawah rata-rata nasional yang bertengger di 2,13. Bahkan, angka ini berada di bawah batas aman penggantian populasi, yaitu 2,10. Artinya apa? Jumlah bayi lokal yang lahir sudah tidak cukup untuk menggantikan generasi tetua kita yang makin menua.
Menua di Rumah Sendiri
Mungkin khe bakal nanya, “Terus yang bikin jalanan macet tiap hari itu siapa, Ton?”
Fakta pahitnya, pertumbuhan penduduk di pulau ini lebih banyak didorong oleh tingginya migrasi masuk. Bukan karena kelahiran bayi lokal. Diam-diam, Bali sudah resmi masuk ke fase penuaan penduduk atau ageing population. Kabupaten Tabanan bahkan memegang rekor yang lumayan bikin merinding. Persentase lansia di sana sudah tembus di angka 20,11%.
Pulau ini kelihatannya saja muda dan energetik, padahal di dalamnya perlahan mulai keriput.
Terjepit Cicilan KPR dan Beban Adat
Kenapa generasi Gek dan Bli makin jarang punya anak banyak?
Jawabannya bukan karena mereka apatis, tapi murni karena hitung-hitungan rasional. Harga tanah sudah tidak masuk akal. Biaya hidup naik terus, tapi gaji segitu-gitu saja. Jangankan mikir nambah anak, sebagian besar anak muda sekarang lebih pusing memikirkan cicilan KPR.
Fokus utamanya cuma satu: jangan sampai terusir dari kampung sendiri. Tidak heran kalau perlahan tren childfree atau maksimal punya satu anak mulai dinormalisasi demi bisa bertahan hidup secara finansial.
Siapa Penerus Banjar?
Sekarang, coba bayangkan kondisi banjar khe 20 tahun dari sekarang. Krisis demografi Bali ini bukan cuma soal angka di kertas laporan statistik. Ini soal siapa yang akan megambel, nyuun banten, dan mengurus rentetan upacara adat kita yang panjang itu. Kalau isi banjar nantinya cuma kumpulan lansia, apa yang akan terjadi?
Jadi, kalau khe melihat banjar mulai sepi anak muda, jangan buru-buru bilang generasi sekarang pemalas. Kita cuma sedang dihajar realita ekonomi yang mematikan.
Menurut khe, apakah rentetan upacara adat di masa depan bakal terpaksa disederhanakan, atau perlahan tradisi di banjar kita yang bubar jalan?




